Sulap Sawah jadi Kebun Kakao, Selmus Dapatkan Omset 5juta per Bulan

SABTU, 4 JUNI 2016

LARANTUKA — Berawal dari kekurangan dana untuk melanjutkan pendidikan setelah tamat Sekolah Teknik ( ST ) di Larantuka tahun 1971, Anselmus Wayong Langkamau memilih untuk pulang ke kampung dan melanjutkan cita-citanya bergelut dengan lumpur.
Dengan tenaga mudanya, Selmus pernah menggarap sawah dengan berbekal cangkul. 10 tahun berlalu, petani muda tersebut mulai menggunakan tenaga kerbau untuk membajak. Tak berselang lama, ia juga menjual lima ekor kerbaunya untuk membeli peralatan pertanian modern, traktor. Namun didalam perjalanan, berbagai kendala dihadapinya, salah satunya ketersediaan air untuk irigasi. 
Bila tetap tanam padi Selmus merasa kesulitan karena ketika musim kemarau sawah tidak bisa diolah akibat peresapannya tinggi, tanahnya pun berpasir.
Daripada selalu Mete (begadang) jaga pintu air dan ribut dengan petani lain rebutan air untuk dialiri ke sawah, lebih baik areal sawah diubah.
Tahun 1982 harga Vanili meningkat sehingga Selmus pun tergiur menanamnya. Satu lahan sawah seluas seperempat hektar dirubah jadi kebun Vanili selepas keliling Flores membeli anakan.
Waktu hendak panen, harga Vanili anjlok  membuat Selmus menanggung kerugian 10 juta rupiah. Lelaki berumur yang saat ini berumur 64 tahun ini sempat putus asa tapi untung ada saudara yang menasehatinya  agar lahan yang ada dirubah jadi kebun kakao saja.
“Mengikuti saran saudara, Saya sudah siap anakan kelapa tapi saudara bilang lebih baik pakai tanaman pelindungnya Mahoni. Sekarang Mahoni sudah ratusan pohon “ beber ayah dari 3 putri dan 2 putra ini.
Lahan sawah pun diubah. Setiap dua pohon Kakao dibuat satu saluran air. Seminggu sekali air diliri ke kebun kakao miliknya. 
“Setiap dua baris pohon dibuatkan aliran air, ini model baru, apalagi disini air irigasi terbuang percuma. Saya ijin ke teman – teman saya seminggu sekali satu hari saya pakai air untuk aliri ke sawah saya, apalagi sawah saya berada paling belakang jadi sering tidak dapat air,“ tuturnya.
Pertama menanam Kakao di tahun 2005, Selmus menanam sebanyak 500 pohon dan setiap tahun rutin ditanam dengan jumlah sama sampai 4 tahun. Tahun 2014 ada proyek percetakan kebun baru dari pemerintah dan dirinya pun ikut mendaftar sehingga tahun 2015 menanam kakao kembali dijadikan rutinitas olehnya.
Kebun mente seluas satu hektar setelah tahun kelima panen hasil sudah mulai menurun sehingga Selmus merubahnya dengan menanam Jati dan Mahoni memakai sistem petak dan irigasi seperti Kakao.
Lebih Sehat


Dari kebun Mente saja, sekali setahun Selmus mendapat uang sebanyak belasan juta rupiah sementara dari Kakao sebulan bisa dapat hingga 5 juta rupiah. Memasuki puncak panen bulan April sampai Juni  bisa dua kali lipat pemasukan yang didapatnya. Uang sebanyak ini belum termasuk pohon Mahoni dan Jati yang juga sudah siap dijual.
Sapi miliknya pun hanya tersisa 7 ekor saja dimana dari sekitar 30 ekor semuanya dijual untuk membiayai kuliah anak dan ponakan serta dipakai juga membangun rumah dan membeli lahan sawah.
Mulanya dirinya membeli lahan untuk kembangkan sapi tapi dirinya berpikir bila sang anak tidak bisa mengembangkan usaha peternakan tentunya usaha ini akan hancur. Tapi bila tanam tanaman tidak mungkin habis dan tetap berbuah.
Sawah seluas 1 hektar hasil dari menjual kerbau miliknya pun hanya ditanam padi dua kali setahun dimana sekali panen bisa menghasilkan 6 ton gabah kering. Dirinya tidak bisa memaksa 4 kali tanam sebab prinsipnya tanah juga perlu istirahat.
Saat ditanyai Cendana News alasan menjadi petani, Selmus katakan karena situasi di desa waktu itu memberi peluang untuk jadi petani.
Bagi Selmus, bila tekun, ulet dan kerja keras bisa meraih sukses yang penting bisa atur waktu kerja dan istirahat agar tubuh tetap sehat.Saat bertemu dengan teman – teman seangkatan di kota Larantuka paparnya sang teman memuji dirinya yang terlihat lebih sehat dan awet muda.
“Saya katakan saya petani jadi saya konsumsi hasil kerja saya sendiri. Saya selalu menghindari memakai pestisida berlebihan dan lebih memilih memakai pupuk organik. Kata orang bila kita banyak menanam pohon kita bersahabat dengan alam sehingga kita juga dilindungi oleh alam,” ungkapnya.
Tantangan paling berat jadi petani selain kerbau dan sapi yang  talinya diputusi orang, sapi miliknya juga sering hilang dicuri dan mati tanpa sebab. Selmus tidak tahu apakah ini karena alam atau apa, hanya pasrah seraya berserah pada Tuhan.
Sampai detik ini dirinya tetap belajar dari buku, tanya teman yang pernah merantau dan kerja di kebun kakao serta mengunjungi kebun kakao milik Keuskupan Larantuka di Hokeng. Kakao di kebun miliknya pun hanya setinggi 1,5 meter, sering dirawat, dipupuk dan dipangkas.
“Saya orang yang selalu mempergunakan waktu karena dididik oleh misionaris Belanda. Dia mengatakan, Konga engkau saya harapkan menjadi salah satu orang yang bisa memberi contoh. Pertama kerja untuk kita dulu dan kalau orang lihat kita berhasil pasti mereka juga ikut “ pungkasnya.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...