SABTU, 4 JUNI 2016
MALANG — Turnamen catur Raja Brawijaya di gelar untuk keempat kalinya oleh Brawijaya Chess Club (BCS) dengan melibatkan Perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Pulau Jawa. Turnamen nasional tersebut dilaksakan di GOR Pertamina Universitas Brawijaya, Sabtu (4/6/2016).

Ketua pelaksana turnamen, Riski Adyaksa menyebutkan, dalam rangka regenerasi, tahun ini terjadi peningkatan dalam jumlah peserta.
“Tahun lalu jumlah peserta hanya sekitar 100 orang saja, tetapi pada tahun ini jumlah peserta meningkat menjadi kurang lebih 120-130 orang,”jelas Riski Adyaksa di Malang, Sabtu (4/6/2016).
Peningkat jumlah peserta ini disebabkan pada turnamen tahun lalu hanya dibuka satu kategori yaitu beregu mahasiswa. Sedangkan tahun ini juga ada perorangan mahasiswa dan SMA.
“Tahun ini kami membuka ruang dan memberikan kesempatan kepada adik-adik SMA yang memiliki bakat di catur untuk mengikuti turnamen agar nantinya dapat menggantikan kakak-kakaknya di perguruan tinggi yang memang membutuhkan regenerasi,”ungkapnya.
Disebutkan, untuk peserta SMA kebanyakan memang berasal dari Malang, tetapi ada juga peserta dari SMA Kudus dan SMA Jakarta.
Disebutkan, turnamen catur Raja Brawijaya ini sudah dapat dikatakan sebagai turnamen tingkat nasional karena diikuti oleh minimal dari tiga Provinsi yaitu dari Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Riski menyampaikan, sistem yang dipakai dalam turnamen catur kali ini adalah sistem swiss dengan batasan waktu G 25 yang merupakan termasuk kategori catur cepat.
“Dalam aturan ini pemain memiliki waktu pikir 25 menit, jadi setiap babak akan selesai kurang dari 50 menit,”ujarnya.

Dalam turnamen kali ini juga terdapat peningkatan jumlah master nasional yang mengikuti kompetisi dan Brawijaya sendiri memiliki tiga master nasional yang kesemuanya diturunkan di kategori beregu.
Untuk hadiah, Riski menyebutkan bahwa pihaknya sudah menyediakan total hadiah sebesar Rp.14.400.000,- untuk para pemenang. Selain itu juga ada hadiah berupa setifikat dan trophy, pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]