Keris Tua Era Majapahit Dipamerkan di Sleman

MINGGU, 26 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Semakin tergerusnya rasa cinta dan nilai budaya asli Nusantara, membuat sekelompok komunitas menggelar pameran keris tua dari asal zaman pembuatan era Majapahit. Keris yang selama ini dipandang negatif dan seringkali dianggap musyrik, diketengahkan sebagai benda seni bernilai tinggi dan sarat filosofi kehidupan manusia Jawa Nusantara.
Ketua Panitia Pameran, Sonny Budi Karsono, saat ditemui di lokasi pameran menyebutkan, sebanyak 70 keris tua dan langka dipamerkan di Pendopo Jiwangga Spiritual Resort di Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Minggu (26/6/2016). Pameran itu merupakan upaya melestarikan budaya tosan aji atau besi berharga berupa keris, yang selama ini hanya dipandang dari aspek mistik. Padahal, keris dengan bentuk dan pamornya yang beragam, menyiratkan filosofi kehidupan yang teramat dalam dan cermin dari kehalusan budi manusia Jawa (Nusantara-Indonesia).
Sonny menjelaskan, begitu banyak hal bisa dipelajari dari sebilah keris. Dari semua bagian bentuk keris yang disebut ricikan, keris memiliki bagian-bagian yang di antaranya sekar kacang dan lambe gajah. Sekar kacang merupakan perlambang tumbuh-tumbuhan yang sangat berperan bagi kehidupan manusia. Sementara, lambe gajah merupakan lambang semua binatang adalah ciptaan Tuhan. 
“Pendek kata, keris itu mengajarkan hubungan antara manusia, hewan dan tumbuhan sebagai sesama ciptaan Tuhan yang harus berlangsung seimbang”, jelas Sonny.
Disebutkan, selama ini masyarakat memandang secara sempit terhadap keris sehingga menimbulkan pandangan yang kurang tepat. Misalnya, dalam hal spiritual. Masyarakat masih banyak mempercayai jika keris itu benda mistik sehingga membuat keris sebagai salah satu artefak budaya adiluhung yang sudah diakui UNESCO dianggap musyrik. Padahal, keris itu adalah sebuah benda seni dengan nilai tidak terukur karena usianya, keunikannya dan kekhasannya. 
” Tidak ada keris yang sama persis, karena keris dibuat secara khusus oleh sang empu”, katanya.
Sementara itu, berkait pandangan mistik, Sonny mengingatkan, bahwa sejak dahulu para empu pun sudah mengingatkan agar jangan menjadikan keris sebagai jimat secara berlebihan. Hal itu sebagaimana ada dalam sebuah kutipan berbahasa Jawa yang berbunyi, ‘janjine dudu jimat kemat, ananging agunging Gusti Kang Pinuji’. Artinya, keris itu bukan jimat yang dirawat, melainkan keagungan Tuhan yang senantiasa harus dipuji.
“Artinya, keris hanya sarana memuji kebesaran Tuhan”, jelasnya.
Pameran keris yang diadakan oleh Yayasan Danur Weda tersebut, tak sekedar memamerkan keistimewaan keris sebagai benda seni milik pribadi. Namun juga disertai acara lelang keris, yang hasilnya kemudian disalurkan untuk membantu korban bencana longsor di Purworejo, Jawa Tengah. Dengan peserta lebih dari 30 orang berasal dari DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, pameran keris tersebut selain diharapkan bisa menjadi salah satu ajang pelestarian budaya, juga bermanfaat bagi sesama dalam bentuk aksi bakti sosial. 
[Koko Triarko] 
Lihat juga...