Dampak Pasang Meski Akibatkan Bagan Nelayan Terdampar, Pelayaran Selat Sunda Normal

JUMAT, 10 JUNI 2016

LAMPUNG — Kondisi gelombang tinggi di perairan Lampung dan Indonesia pada umumnya berdampak bagi sejumlah nelayan di perairan Lampung. Beberapa nelayan di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni bahkan harus rela bagan apung miliknya terdampar dan tercerabut dari penambatnya di sekitar teluk pantai Minangruah. Dua bagan milik nelayan,Yusuf (45), Sudimin (40) bahkan terdampar di pingjgir pantai akibat terkena gelombang cukup keras di perairan Selat Sunda sebagai dampak pasang tinggi. Beruntung dua bagan nelayan yang terdampar kurang lebih 500 meter dari posisi awal tidak mengalami kerusakan parah dan hanya mengalami patah beberapa bambu dan kayu penopang. Dua nelayan tersebut terpaksa melakukan perbaikan bagan yang terdampar dengan menambatkan pada pohon kelapa di pinggir pantai karena khawatir bagan terseret arus.

Kepala Desa Kelawi, Syahroni mengungkapkan, akibat bagan yang terdampar tersebut nelayan mengalami kerugian jutaan rupiah karena biaya pembuatan bagan dan operasional bagan jenis apung bisa mencapai puluhan juta rupiah. Selain nelayan pemilik bagan, ratusan nelayan yang berada di pesisir pantai Minangruah, pantai Blebug, Pantai Batu Alif pun bergotong royong mengangkat perahu yang ditambatkan di laut agar tidak terbawa arus. Meski demikian gelombang pasang tidak mengakibatkan kerusakan pada tempat tinggal dan saraan umum milik warga, namun volume sampah yang terdampar di pantai cukup besar berupa batang kayu serta sampah sampah plastik.
“Kami bergotong royong meminggirkan perahu setelah ada kejadian pasang selama beberapa hari ini dan diprediksi masih akan terjadi terutama di wilayah pesisir yang menghadap laut Selatan,”ungkap Syahroni saat dikonfirmasi media Cendananews.com, Jumat (10/6/2016).
Kepad masyarakat nelayan yang berada di wilayah pesisir pantai, ia juga menghimbau agar tidak melaut terlebih dahulu untuk menjaga keselamatan. Ia bahkan mengungkapkan agar nelayan sementara waktu melakukan aktifitas lain di darat dengan memperbaiki perahu yang rusak, jaring atau berkebun hingga cuaca membaik. Syahroni mencatat ada sekitar 120 nelayan yang tinggal di wilayah Desa Kelawi yang menggantungkan hidupnya sebagai pencari ikan di wilayah Selat Sunda.
Selain himbauan kepada nelayan, beberapa pemilik keramba apung di wilayah pesisir pantai bahkan terpaksa mengangkat jaring serta ikan yang ada di keramba apung untuk menghindari kerugian materi cukup besar. Bahkan jaring set net milik kelompok nelayan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terpaksa diangkat selain untuk menghindari terbawa arus juga dilakukan untuk membersihkan jaring dari sampah akibat arus kencang dan gelombang tinggi.
Terkait fenomena gelombang tinggi di sejumlah perairan laut di Indonesia dan Lampung khususnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung memprediksi terjadinya air pasang laut tinggi terjadi hingga pertengahan Juni 2016. Kepala Stasiun BMKG Maritim Panjang, Sugiyono mengungkapkan pertengahan Juni masih berlangsung tetapi tidak merata di seluruh pesisir di pantai Lampung.
Meski demikian ia mengakui perlu kewaspadaan warga pesisir pantai karena kondisi banjir rob berbeda dengan rob yang terjadi bulanan sebagai bagian dari kondisi astronomi. Ia bahkan menghimbau agar masyarakat di sekitar pantai mewaspadai dampak kerugian material akibat peristiwa tersebut.
Khusus di wilayah perairan Lampung diprediksi hingga dua hari ke depan tinggi gelombang mencapai 4-6 meter sehingga perlu kehati hatian bagi para nelayan serta kapal kapal komersial yang melintas di Selat Sunda. Upaya pemberian peringatan sudah dilakukan oleh BMKG dengan kondisi kecepatan angin yang mencapai 20 knot (40 km/jam) dengan memberi himbauan kepada ASDP,SAR, BPBD serta stakeholder terkait.
“Kita himbau agar masyarakat lebih berhati hati dan juga kepada pihak terkait melakukan langkah antisipasi jika ada bencana terjadi sewaktu waktu akibat fenomena rob bulan ini,”ungkapnya.
Sementara itu Kepala cabang Gabungan pengusaha angkutan sungai danau dan penyeberangan (Gapasdap) cabang Bakauheni, Sunarto, saat dihubungi Cendananews.com mengakui kondisi perairan Selat Sunda masih cukup aman dan normal untuk dilalui kapal roll on rol off (Roro). Meskipun gelombang tinggi namun saat olah gerak kapal di pelabuhan Bakauheni maupun Merak masih bisa dilakukan dengan baik meski ia menghimbau kepada seluruh nahkoda kapal Roro untuk lebih berhati hati.
Sunaryo mengakui, saat ini keberadaan kapal kapal di lintasan Selat Sunda sudah mulai mengikuti aturan yang baru akan diterapkan pada tahun 2018 dengan standar minimal kapal di atas 5000 Gross Ton (GT) sehingga tidak begitu terpengaruh dengan kondisi gelombang cukup tinggi. Ia bahkan mengakui saat ini kapal kapal dengan GT kecil oleh beberapa perusahaan pelayaran sudah dipindah ke lintasan lain dan diganti dengan kapal kapal dengan GT lebih besar.
Kondisi gelombang tinggi di perairan Selat Sunda tersebut membuat pihaknya selalu memberi himbauan kepada seluruh operator pelayaran untuk memberi peringatan dini melalui kru kapal agar penumpang tidak duduk di pagar kapal, memperhatikan tanda tanda keselamatan dan selalu waspada dengan memperhatikan arahan dari pramugari kapal terkait alat alat keselamatan di dalam kapal. Hingga hari ini pelayaran di lintasan Selat Sunda dilayani sebanyak 28 kapal roro dengan trip rata rata 89-91 trip perhari.(Henk Widi)
Lihat juga...