SABTU, 11 JUNI 2016
MALANG — Banyak cara yang biasa dilakukan sebagian masyarakat Malang khususnya anak-anak untuk menunggu datangnya waktu berbuka setelah seharian melaksanakan ibadah puasa, salah satu caranya yaitu dengan bermain layang-layang. Seakan sudah menjadi “tradisi”, permainan layang-layang kerap dimainkan anak-anak pada bulan puasa, terutama pada sore hari seperti yang terlihat di Kelurahan Sawojajar, kota Malang.

Saat matahari terlihat mulai condong ke arah barat tepatnya usai adzan Asar berkumandang, segerombolan anak dengan membawa layang-layang maupun senar mulai mendatangi tempat lapang yang ada di kawasan tersebut. Tidak lama berselang, layang-layang yang awalnya berada di bawah, dalam sekejap kini sudah terbang berada di atas mereka.
Semakin sore terlihat semakin banyak layang-layang yang diterbangkan. Anak-anak juga terlihat semakin asik menarik ulur senarnya. Sedangkan mereka yang hanya berbekal tali senar, nampak menunggu hingga ada salah satu layang-layang yang terputus untuk segera mengejar dan mengambilnya. Uniknya dalam permainan ini, siapa yang berhasil mengejar dan mendapatkan layang-layang yang terputus, maka orang itu berhak memiliki layang-layang tersebut.
“Daripada nonton televisi di rumah, lebih baik main layang-layang di sini biar laparnya tidak terasa,” ucap Fadli siswa kelas 2 Sekolah Menengah Pertama.
Ia mengatakan hampir setiap sore datang ke tempat ini untuk bermain layang-layang bersama adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Untuk bermain, Fadli biasanya membawa tiga sampai empat layang-layang.
“Bawa banyak layangan buat jaga-jaga kalau layangannya putus,”ujarnya.
Sementara itu, meskipun permainan ini banyak didomimasi anak-anak, namun tak jarang juga orang dewasa yang gemar memainkannya seperti yang dilakukan Ismu.

Ia mengaku sejak kecil dirinya sudah menyukai permainan ini dan terbawa sampai sekarang.
“Iseng-iseng aja ikut main layangan sambil menunggu buka dan mengenang masa kecil,”ungkapnya sambil terus memainkan layangannya.
[Agus Nurchaliq]