KAMIS, 30 JUNI 2016
BANDUNG — Puluhan pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Dakwah Kota Bandung, melakukan dakwah di dalam bus kota, pada Kamis (29/6/2016). Kegiatan ini merupakan salah satu program dari Gerakan Pemuda Berdakwah (GPB) garapan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung.

Ada lima materi yang disampaikan mereka kepada para penumpang, yaitu ayo solat, zakat infaq dan sodakoh, makna Ramadan, membaca Al Quran, lalu mencintai dan menghargai orang tua. Hal ini dilakukan guna membangun mental spiritual keimanan dan ketakwaan, khususnya para pemuda.
Kepala Bidang Pemuda Dispora Kota Bandung, Soni Teguh Prasetya menyampaikan, dari mulai anak SMA hingga karyawan mengikuti kegiatan ini. Dimana setiap bus dimasuki satu orang koorinator dan lima pendakwah untuk memberikan dakwah dengan durasi sekira satu jam.
“Sebelumnya mereka telah diberikan pendalaman terkait keimanan dan ketakwaan dalam pasantren kilat yang digelar bulan Maret. Juga ada Training of Trainers bulan Juni,” ujar Soni, kamis (29/6/2016).
Dikatakan, 95 persen pesertanya adalah pemuda yang benar-benar awam soal dakwah. Artinya, mayoritas memang tidak punya latar belakang dari pesantren maupun kegiatan rohani lainnya.
“Ini sudah tahun ketiga kita laksanakan, biasanya memang dakwah sekolah-sekolah, kepada siswa kepada keorganisasian, juga kepada ibu-ibu pengajian. Untuk generasi sekarang kita laksanakan juga di dalam bus,” ujarnya.
Lanjutnya, beberapa pemuda juga melakukan dakwah di Masjid-Masjid yang tersebar di Kota Bandung. Materinya, adalah ayo memahami dan melakukan kemampuan mengurus jenazah.
“Kelompok yang di Masjid mereka menyampaikan dalil-dalil. Dari mulai memandikan, mengkafani, menyolatkan sampai memakamkan,” paparnya sembari menyebut kegiatan ini murni berlandaskan gerakan kerelawanan.
Soni memastikan pihaknya tidak hanya melaksanakan kegiatan seperti ini hanya di bulan Ramadan saja. Bahkan sebelum mengikuti pesantren kilat, Gerakan Pemuda Berdakwah juga ‘getol’ melakukan ceramah di tempat-tempat umum. Hal ini dilakukan oleh generasi tahun 2014 dan 2015, yang beberapa pesertanya saat ini sudah menjadi mentor.
“Bahkan kita juga melakukan di acara Car Free Day. Mudah-mudahan bisa membuat masyarakat juga ikut terketuk untuk ikut bergabung,” tukasnya.
Salah seorang relawan, Cindy mengaku gugup saat pertama kali berdakwah di depan para penumpang bus. Sebab tak jarang orang yang malah acuh tak mendengarkan ceramahnya.
“Untuk pertamakali mungkin karena saya baru masuk komunitas ini agak gugup, karena (penumpang) pada masing-mising. Tapi lama kelamaan mulai bisa terbiasa,” ujar mojang yang baru lulus SMA ini.

Namun ada cerita seru saat seorang penumpang memaksa dan menyodorkan sejumlah uang kepada kelompoknya. Momen itu terjadi dalam perjalanan saat bus hendak menuju terminal Cicaheum, Kota Bandung.
“Di kelompok saya ada Ibu-ibu yang menyodorkan uang, kami sudah menolak dan bilang baik-baik bahwa kami tidak mencari uang, tapi Ibu-ibu itu tetap memaksa,” tukasnya.
[Rianto Nudiansyah]