JUMAT, 6 MEI 2016
YOGYAKARTA — Di tengah modernitas zaman, hampir semua bidang usaha yang dahulu dikerjakan manual, diambil alih mesin industri. Tak kecuali, bidang usaha kecil yang pada zaman nenek moyang dikerjakan oleh para ibu. Salah satunya, pengesat kaki atau yang di Jawa disebut keset yang terbuat dari bahan sabut kelapa.

Jauh sebelum zaman modern seperti sekarang, pengesat kaki atau keset yang terbuat dari sabut kelapa menjadi pelengkap rumah tangga dari semua strata. Baik orang kaya maupun miskin, hampir semua memiliki keset berbahan sabut kelapa yang digunakan untuk membersihkan alas kaki atau kaki saat hendak masuk ke dalam rumah. Sekarang, keset sudah begitu banyak ragamnya. Mulai yang terbuat dari kain perca atau potongan-potongan kain bekas indusri tekstil, hingga keset yang dibuat dari bahan plastik atau lainnya.
Namun demikian, bukan berarti keset dari bahan sabut kelapa sama sekali sudah punah. Di dusun Pundung, Tirtoadi, Mlati, Sleman, masih ada seorang warga yang setia menekuni bidang usaha membuat keset berbahan sabut kelapa. Namanya, Mbah Harjo Sumarno atau Nenek Harjo. Kendati pekerjaan itu tak lagi bisa diandalkan untuk meraup keuntungan, namun Mbah Harjo setiap hari selalu membuatnya di tengah waktu senggangnya.

Saat ditemui di sela kseibukannya membuat keset sabut kelapa, Jumat (6/5/2016), Mbah Harjo mengaku sebenarnya pekerjaan yang dilakukannya itu sudah lama terhenti. Baru tiga tahun terakhir ini pekerjaan itu dilakukannya lagi, karena semakin meningkatnya harga kebutuhan pokok akhir-akhir ini.
Memang, kata Mbah Harjo, membuat keset berbahan sabut kelapa saat ini sudah tak lagi menjanjikan. Pasalnya, sekarang sudah begitu banyak keset yang lebih inovatif dan variatif, modern dan berharga murah. Sedangkan, keset buatannya diakuinya sudah ketinggalan zaman. Hanya sabut kelapa dianyam sedemikan rupa tanpa ada motif dan tanpa warna seperti keset atau pengesat kaki buatan pabrik yang kaya warna dan menarik.
Kendati demikian, bagi Mbah Harjo membuat keset sabut kelapa cukup membantu perekonomiannya. Satu keset yang dihasilkannya masih laku dijual seharga Rp. 5.000 perbuah. Sedangkan, bahan sabut kelapa juga sangat murah. Harganya hanya Rp. 2.000 perbuah. Sabut kelapa yang sebenarnya limbah buah kelapa itu, sebelumnya dikeringkan dahulu dengan dijemur selama tujuh hari. Setelah kering, baru bisa dianyam menjadi keset.
Dengan bantuan papan kayu sederhana, Mbah Harjo mampu menganyam sabut-sabut kelapa menjadi 4-5 buah keset sehari. Dengan harga jual Rp. 5.000, dalam sehari Mbah Harjo pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan sebesar Rp. 20.000-25.000.
Bagi Mbah Harjo, jumlah penghasilan sebesar itu sudah sangat membantu perekonomian keluarganya. Mbah Harjo sendiri tak banyak berharap dari siapa pun, agar usahanya bisa dibantu atau diberi pendampingan. “Ini hanya pekerjaan sampingan saja. Lumayan buat tambah-tambah kebutuhan sehari-hari”, pungkasnya. (Koko Triarko)