KAMIS, 19 MEI 2016
LAMPUNG—Sekelompok laki laki tak dikenal dengan membabi buta menyerang seorang petani yang tengah melakukan aktifitas memanen tanaman jagung dan pisang miliknya pada lahan kebun sewaan di dekat makam Ratu Darah Putih Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Penyerangan oleh sekitar lima pelaku yang hingga kini belum diketahui identitasnya tersebut diduga akibat kesalahpahaman saat akan menggunakan jalan di dekat areal perkebunan sekitar.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Penengahan Aiptu Suyitno mendampingi Kapolsek AKP Mulyadi Yakub, korban bernama Samsudin (58) warga Desa Tetaan Kecamatan Penengahan langsung dilarikan oleh warga ke Puskesmas rawat inap Penengahan akibat menderita luka bacokan pada bagian wajah. Sementara polisi masih melakukan pengejaran terhadap lima pelaku yang diduga melakukan penganiayaan menggunakan senjata tajam kepada korban yang berada di kebun.
“Pertama kita lakukan olah kejadian perkara saat mendapat laporan adanya penganiayaan dan kita kumpulkan keterangan dari para saksi yang ada di lokasi saat peristiwa terjadi” ungkap Kanit Reskrim Polsek Penengahan Aiptu Suyitno mendampingi Kapolsek AKP Mulyadi Yakub di lokasi kejadian, Kamis sore (19/5/2016)
Akibat mengalami pendarahan pada bagian wajah, korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum dr. Bob Bazaar Kalianda Lampung Selatan dengan rujukan dari Puskesmas rawat inap Penengahan. Dokter jaga Puskesmas, dr. Ginanjar mengungkapkan luka terbuka terjadi pada bagian hidung, bibir, gigi patah serta pada lengan.
“Kita langsung rujuk ke rumah sakit umum agar mendapat perawatan intensif karena di Puskesmas hanya melakukan perawatan sementara” ungkap Ginanjar.
Paska korban dibawa ke rumah sakit, anggota polisi dari Polsek Penengahan langsung bergerak cepat memeriksa sejumlah saksi terkait kejadian tersebut di tempat kejadian perkara (TKP) diantaranya Andre Agus, salah seorang warga yang berada di lokasi kejadian.
Andre mengaku saat kejadian beberapa orang berusaha menganiaya korban bernama Samsudin sehingga ia dan rekannya bernama Rizal berusaha melerai. Upaya menolong korban justru berbuah perlawanan dari para pelaku.
“Kalah jumlah, kami akhirnya lari sambil meminta pertolongan karena mereka menggunakan senjata tajam dan benda keras lain” ungkap Andre.
Terkait penganiayaan tersebut polisi belum menyimpulkan motif para pelaku. Saat olah TKP, polisi berhasil menemukan alat bukti ikat pinggang, besi dan batu yang diduga menjadi alat untuk menganiaya korban. Sementara senjata tajam yang digunakan pelaku tidak ditemukan.
Beberapa warga menduga kejadian tersebut dipicu kesalahpahaman akibat sempitnya jalan yang akan dilalui kendaraan para penebang kayu. Sohin, salah seorang warga Pahabung melihat lokasi kebun masih terdapat beberapa keping kayu olahan yang akan diangkut menggunakan kendaraan.
“Polisi masih menyelidiki motif sebenarnya namun dugaan karena saat akan melintas kendaraan korban diduga menghalangi kendaraan para pelaku sehingga terjadi kesalahpahaman berujung penganiayaan,” ungkap Sohin.
Ia berharap agar aksi main hakim sendiri tidak terjadi lagi dan berharap para pelaku segera bisa ditemukan. Akibat peristiwa tersebut ratusan karung jagung yang dipanen di kebun sewaan korban masih belum dipindahkan. (Henk Widi)