MINGGU, 29 MEI 2016
CATATAN JURNALIS — Menumbuk padi dan menyembeli binatang dilakukan sebagai rangkaian penutup ritual adat kebun. Ritual juga digabung dengan melepaskan arwah orang meninggal yang selama ini masih mengembara menempati rumah di tempat barunya.

Sore saat mentari hendak kembali ke peraduan para ketua adat suku Soge berkumpul di kebun adat dusun Wairbou desa Nebe kecamatan Talibura kabupaten Sikka, NTT. Satu persatu anggota keluarga mulai berdatangan duduk di tiga bale – bale bambu yang dibuat di tengah kebun. [Baca juga: Warga Kampung Wairbou Sikka Hidup di Tengah Keterbatasan Infrastruktur ]
Pondok beratap seng yang dibangun di tengah kebun terdapat sebuah ruangan yang dipakai meletakan makanan, minuman dan berbagai perlengkapan ritual.
Wilhelmus Wolor (70 ) bertindak selaku Sope ( ketua adat ) dibantu Valentinus Wedong ( 60 ) dan Yoseph Polikarpus ( 33 ) selaku asisten Sope. Satu per satu perlengkapan seperti sirih pinang dan telur ayam di persiapkan.
Telur ayam dipecahkan dan diletakan di atas Korak ( tempurung kelapa ) dan diletakan di setiap sudut kebun, di Ae Pua dan di sekitar pondok memberi makan Tana Wulan, Guna Dewa dan Liri Puang. Ritual ini sebut Wolor dinamakan Balo Daha.
“Ini dilakukan agar selama tiga hari upacara adat segala makanan dan minuman tidak mengalami kekurangan “ urai Wolor.
Teme Pelang
Daun Huin dan Koli ( Lontar ) dianyam berbentuk jari – jari dan digantung menjulur ke bawah di depan ruangan pondok tempat meletakan makanan dan minuman sebelum acara Teme Pelang. Wai Heni kertas cokelat ( biasanya bekas sak semen ) ditaruh di tempurung kelapa beserta telur ayam dan sirih pinang.
Sesajen di Kotak maupun di batu ceper diletakan di samping dua ember bak yang berisi air. Padi di dalam karung pun di tuang ke dalamnya.
Dijelaskan Wolor, ada 2 Teme Pelang ( wadah menaruh padi ) dimana satu untuk adat kebun ( Pelang Uma ) dan satu untuk arwah pemilik kebun yang meninggal ( Pelang Ramut ).
Sesudahnya semua yang hadir santap bersama dengan terlebih dahulu memberi Piong untuk arwah yang meninggal dengan menggambil sedikit makanan dan diletakan di samping piring masing- masing.
Rabu pagi ( 11/5/2016 ) semua kerabat kembali berdatangan.Setiap kerabat tak lupa membawa bahan makanan dan minuman untuk dinikmati saat ritual. Usai minum teh dan kopi, padi yang direndam di dua ember bak diambil dan dimasukan ke dalam kuali tanah.
Tardapat 4 kuali dengan masing – masing seorang wanita duduk di samping tungku batu. Setiap kali padi dimasukan diaduk sampai matang, beberapa lelaki memtong seekor kambing untuk santap adat bersama.
Padi tersebut diambil dan ditumbuk di Lesung memakai Alu dari kayu bulat.da 3 Lesung dimana satu Lesung bisa dipakai 2 sampai 3 perempuan dan lelaki yang menumbuk bersamaan maupun bergantian.
Padi yang ditumbuk ( Pelang ) tersebut pun ditapis hingga bersih dan dimasukan ke dalam anyaman daun Lontar lalu disimpan di ruangan pondok yang dijaga seorang perempuan yang bertugas sebagai pengatur distribusi makanan dan minuman selama pagelaran ritual (Jaga Daha).
Wadong
Malam harinya, padi di dalam lumbung diambil dan diletakan di bale–bale di samping lumbung. Bambu bercabang 3 ditanam asisiten Sope di ujung tikar. Tikar pun disingkap, Asisiten Sope menggali lubang di tanah.
Sesajen pun dimasukan ke dalamnya sambil tak lupa sebuah kayu api menyala tetap di letakan di samping lubang. Sesudahnya tikarpun ditutup. Pada bambu diteruh anyaman daun Lontar serta di ketiga cabangnya pun diikat daun Lontar.
Asisiten Sope mengangkat padi di dalam bakul ( Teli Rahan ) menuangkannya di tikar anyaman dari lontar yang diletakan di tanah. Parang Huga diselipkan di padi serta kayu api bernyala di gerakan sekeliling tumpahan padi di atas tikar tersebut.
Para lelaki dan perempuan mulai menari di dalam tikar tersebut. Kaki dihentakan menginjak padi sambil membuat gerakan berputar seraya tetap melantunkan pantun bersahutan dalam bahasa Muhang. Tarian Wadong ini biasanya dilakukan hingga subuh.
Saat bersamaan perempuan yang bertugas sebagai Luka membuat Sope Maitua ( wadah anyaman dari daun Lontar berbentuk bulat ).Seorang perempuan lainnya pun menganyam tutupannya, proses dilakukan hingga usai dan keduanya pun berbaur menari bersama.
Hari terakhir, Kamis pagi semua kerabat kembali berdatangan. Sope kembali memberi makan para arwah dan leluhur. Bakul – bakul ( Teli ) berisi Pelang diletakan di atas tikar depan lumbung.Sope dan asisitennya kembali memberi makan Ai Pua.
Seekor ayam jantan disayat lehernya dan darahnya diperciki di dalam Teli berisi Pelang, di Ai Pua dan di kaki tiang lumbung.
Selalu Menyertai
Sidak ( orang yang bertugas mengukur jenasah untuk gali lubang makam dan peti jenasah ) berangkat bersama keluarga ke rumah almahrumah pemilik kebun yang meninggal setahun lalu.Teli berisi kain tenun dan barang kesayangan almahrumah yang digantung di tiang kayu di atas tempat tidur kamar tidur almahrumah diturunkan. Sebelumnya Sidak memberi makan alamahrumah dengan meletakan sedikit nasi dan lauk serta Moke ( arak ) di atas tempat tidur.
Teli pun diturunkan dan dibawa oleh Sidak menuju kebun tempat ritual dilaksanakan.Dua babi besar di bawa ke depan lumbung. Kaki babi diikat tali agar tidak bergerak saat dipotong.
Dua orang yang bertugas bersiap dengan parang di tangan. Sebelum melakukan pemotongan hewan, sang petugas disodori Moke untuk diteguk. Sekali tebas, leher babi pun terpisah dari badannya.
“ Jika sekali potong langsung putus maka adat yang dibuat benar dan diterima para leluhur dan direstui. Jika tidak putus maka pasti ada kesalahan “ ujar Wolor.
Ditambahkan Wolor, dua ekor babi disiapkan sebab satu dipakai untuk adat kebun dan satunya untuk adat alamahrumah.Babi yang dipotong diambil bagian kakinya dan diletakan di dalam Teli-Teli untuk diberikan kepada Sope, Luka dan Sidak.
Sidak pun mengambil Teli berisi barang milik alamahrumah terdiri dari pisau,tempat sirih pinang, kain tenun, kain pakaian dan kemiri. Teli tersebut diedarkan kepada anggota keluarga untuk dibuka.
Biasanya sebut Wedong, orang yang meninggal sering memberikan rejeki berupa apapun kepada keluarga yang ditinggalkan. Hanya satu orang terang Wedong yang diberikan rejeki itu.
“Biasanya berupa batu yang ditemukan di dalam Teli dan barang tersebut diperacaya membawa rejeki atau peruntungan bagi yang mendapatkannya,“ paparnya.
Usai Teli tersebut diedarkan dan dibuka masing-masing anggota keluarga, Sidak mengambilnya kembali. Teli yang ditutup kembali tersebut pun dibuka dan kain tenun diberikan menjadi milik Sidak.
Kain lainnya dipotong Sidak menjadi beberapa potong dan bersama kemiri dibagi kepada anggota keluarga almarhumah.
“ Kain tersebut biasanya ditaruh di dalam tas atau dompet dan selalu dibawa kemanapun sebab diyakini dengan membawanya maka orang yang sudah meninggal akan selalu menyertai dan menjaga kita “ sambung Wedong.
Semua peserta yang hadir diminta membawa wadah masing- masing dan diketakan di tikar. Sope dan asisitennya berjalan membagi Pelang dan potongan daging babi yang dikumpulkan pada wadah masing – masing secara merata sampai habis.
“Makanan ini yang dibawa ke rumah masing-masing untuk dimakan bersama anggota keluarga,” terang Wedong.
Ritual diakhiri dimana Teli oleh Sidak dipotong menggunakan parang dan dibuang setelah semua isinya dikeluarkan dan dibagikan. Saat bersamaan para anggota keluarga dan semua yang hadir menangis bersahut-sahutan.
“Dengan dipotongnya Teli dan dibuang maka arwah alamahrumah yang selama ini masih mengembara sudah kembali ke alamnya dan menempati rumahnya. Kita sudah berpisah dengan alamahrumah, “ pungkas Wolor.
[Ebed De Rosary]
