Pakde Karjo Ajarkan Anak Tentang Kejujuran Lewat Permainan Tradisonal Dakon

KAMIS, 19 MEI 2016

MALANG — Puluhan anak Sekolah Dasar (SD) Kamis siang (19/5/2016) terlihat asik memainkan berbagai permainan tradisional dalam acara Yuk Podo Dolanan Padang Bulan ing Malang Lawas yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Malang. Acara yang berlangsung selama dua hari ini di gelar di  Taman Krida Budaya kota Malang 18 hingga 19 Mei 2016.


Dalam acara tersebut terdapat beragam permainan tradisional, diantaranya enggrang dan dakon. Namun begitu, permainan dakon lah yang menjadi permainan favorit anak-anak yang datang.
Untuk bermain dakon atau yang juga sering di sebut congklak ini di butuhkan dua orang pemain. Sedangkan alat yang dibutuhkan yaitu papan dan biji dakon. Papan memiliki total 14 (7+7) lubang berukuran kecil yang dibagi menjadi dua yang nantinya akan di isi masing-masing tujuh biji serta memiliki 2 lubang besar atau disebut lumbung yang nantinya akan digunakan untuk “menabung”. Dalam memainkannya, selain strategi juga di butuhkan kejujuran dan ketelitian.
“Melalui permainan dakon, kita ingin melatih dan mengajarkan kepada anak-anak untuk bersikap jujur dan teliti,”jelas Samsul Subakri, seorang seniman yang juga paham mengenai sejarah permainan tradisional.
Menurutnya, seorang pemain dakon bisa saja melakukan kecurangan dengan mengisikan biji lebih dari satu ke lumbung agar segera menang, oleh karena itu di butuhkan kejujuran dalam bermain. Pemain lawan juga harus teliti dan jangan mudah percaya agar tidak terjadi kecurangan.
Samsul Subakri atau yang lebih akrab di sapa pakde Karjo ini menjelaskan bahwa permainan dakon sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu. Dulu lubang dakon hanya terdiri dari dua baris lima buah lubang kecil dan dan dua lumbung, ini karena nenek moyang dulu memiliki hitungan hari Pancawara (Panca=lima, Wara=hitungan atau hari) yaitu pon, paheng, legi, kliwon dan wage. Namun kemudian muncul hitungan Saptawara (Sapta=tujuh, Wara=hitungan atau hari) yaitu Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu.
“Itu sebabnya kenapa sekarang lubang dakon ada tujuh setiap deret. Lubang tersebut sebagai simbol jumlah hari,”jelasnya kepada Cendana News.
Dijelaskan, dalam permainan dakon juga mengajarkan bahwa manusia tidak hanya cukup menghidupi diri sendiri, tetapi juga harus menghidupi orang lain. Kita juga di beri kesempatan untuk menabung yang di simbolkan dengan menyimpan satu buah biji dakon setiap kali putaran.
“Selain dapat digunakan sebagai sarana bermain, sekaligus juga dapat memberikan pelajaran positif kepada anak-anak melalui filosofi-filosofi yang terkandung di dalam setiap permainan tradisonal,” pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Lihat juga...