SENIN, 2 MEI 2016
JAKARTA — Penggusuran rumah warga yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di Kawasan Akuarium Pasar Ikan Luara Batang, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, hingga sekarang masih menyisakan satu masalah besar.
Masalahnya, ternyata tidak semua warga terdampak penggusuran mau pindah ke tempat lain. Sebagian warga warga tetap memilih bertahan di lokasi penggusuran dengan kondisi tempat tinggal seadanya.
Mereka yang tetap nekat dan memilih bertahan, tinggal di tempat pengungsian sebagai “Manusia Perahu.” Hidup dalam kondisi serba kekurangan dan keadaannya sangat memprihatinkan. Mereka tinggal dan hidup sehari-hari di atas perahu yang berukuran sedang. Bahkan satu perahu dihuni beberapa Kepala Keluarga (KK). Bisa dibayangkan betapa sesaknya kondisi tempat tinggal mereka, yang bisa dibilang sangat kumuh dan tidak layak huni.
Jangankan membeli sesuatu, untuk dapat bertahan memenuhi keperluan hidup sehari-hari saja, mereka sangat tergantung dan mengandalkan belas kasihan. Terutama bantuan dari warga masyarakat sekitar atau organisasi sosial kemasyarakatan lainnya.
Ada sekitar 20 KK yang memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian. Mereka menolak atau belum bersedia direlokasi di rumah susun (Rusun) yang telah disiapkan Pemprov DKI Jakarta atau pindah dengan kesadarannya sendiri ke tempat lain.
Pantauan Cendana News, Senin siang (2/5/2016), suasana aktivitas sehari-hari sebagain warga masyarakat yang memilih tinggal di atas perahu sekilas tidak jauh beda dengan lainnya. Mereka terlihat santai mengobrol dan bercanda.
Sedangkan anak-anak mereka asyik bermain di sekitar pinggir pantai. Dimana di lokasi tersebut, memang banyak terdapat perahu atau kapal milik nelayan yang sehari-hari dipergunakan untuk mencari ikan di laut.
Tidak diketahui secara pasti, apa alasan atau motif yang menyebabkan mereka tetap ngotot memilih bertahan di tempat pengungsian. Mereka bertahan hidup di atas perahu. Mereka tidak mau direlokasi ke tempat yang lebih layak, misalnya seperti tinggal di Rusun yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta.
Meski demikian, diperoleh informasi bahwa alasan mereka enggan direlokasi ke Rusun, karena jauh dari lokasi tempat mereka sehari-hari mencari nafkah. Dimana mereka bekerja sebagai pencari ikan di lautan.
“Sejak rumah tempat tinggal kami digusur secara sepihak oleh Pemprov DKI Jakarta, sebagian warga kampung Akuarium Luar Batang ada yang langsung pindah dan tinggal di Rusun Marunda, Jakarta Utara. Namun ada juga sebagian warga masyarakat yang memilih tetap bertahan di tempat pengungsian sebagai Manusia Perahu. Dinamakan seperti itu karena mereka memang sehari-harinya hidup di atas perahu yang memang bukan semestinya digunakan sebagai tempat tinggal atau rumah penduduk” kata Musrifah, seorang ibu rumah tangga yang memilih tinggal di atas perahu, Senin (2/4/2016).
Musrifah mengatakan, sebagian kepala keluarga menolak dipindahkan ke Rusun yang terletak di Marunda, Jakarta Utara, karena lokasinya jauh dari Luar Batang. “Sementara sehari-hari kami bekerja sebagai buruh kasar nelayan yang mencari ikan di lautan, entah sampai kapan kami akan mampu bertahan hidup sebagai manusia perahu dengan kondisi apa adanya seperti ini. Mudah-mudahkan kedepannya ada solusi jalan keluar yang terbaik buat kami,” pungkasnya sekaligus mengakhiri pembicaraan. (Eko Sulestyono )