Mahasiswa Unisba Gelar Pameran Bertema Feminim dan Perjuangan Buruh

SELASA, 10 MEI 2016

BANDUNG — Studi Teater dan Keluarga Mahasiswa Jurnalistik Universitas Islam Bandung (Unisba) gelar pameran dan pagelaran monolog “Membangunkan Marsinah”. Marsinah diyakini sebagai sosok yang gigih menyuarakan hak-hak para buruh. Tepat 8 Mei 1993 silam, wanita asal Nglundo, Jawa Timur ini ditemukan tewas. Karena itu, semangat Marsinah inilah yang diangkat dalam kegiatan yang diadakan di Kampus Unisba, Jalan Tamansari, 9 hingga 15 Mei 2016.
Berbagai karya seni dipajang pada pemeran ini, diantaranya lukisan dan fotografi. Tampak pula bangku sekolah, bambu dan dus yang dibungkus dengan kertas koran beserta gambar wajah Marsinah. Semua itu tersusun dalam sebuah karya seni instalasi.
“Kita mengambil tema feminim dan perjuangan buruh. Karya-karya ini merupakan karya dari mahasiswa, juga ada partisipasi diantaranya dari Lembaga Bantuan Hukum Bandung, Rumah Cemara dan seniman di Kota Bandung,” tutur Pimpinan Produksi Pameran dan Pagelaran Monolog, Muhamad Yogi Rizal (21) kepada Cendananews, Selasa (10/5/2016).
Misi gelaran ini adalah untuk kembali mengingatkan kepada mahasiswa khususnya, bahwa Marsinah merupakan sosok yang setia kawan. Dimana kala itu membela rekan-rekannya sesama buruh hingga nyawa menghilang. 
“Marsinah ini kalau dengan istilah sekarang bisa disebut sosok wanita yang sangat keren,” ucapnya.
Kini kekerasan terhadap wanita masih kerap terjadi di negeri ini. Terakhir ditemukan pembunuhan dan perkosaan yang menimpa Yuyun (14), di Bengkulu. Peristiwa ini cukup membuat geger, khususnya para kaum hawa di Indonesia.
“Saya berharap mahasiswa dan mahasiswi di sini bisa seperti dia, dan setelah pegelaran nanti tumbuh Marsinah-Marsinah yang lainnya. Dalam arti semangat juangnya,” paparnya. 
Diakhir pameran nanti, yaitu 15 Mei 2016, akan ada pementasan monolog dari Forum Teater Kampus Bandung dan sekitarnya. Juga ada pula performance art dari beberapa seniman Bandung. 
“Dengan teater kita ingin memberikan pelajaran kepada mahasiswa, bahwa teater itu bisa untuk pembelajaran sejarah dan politik,” tukasnya.
[Rianto Nudiansyah]
Lihat juga...