FOCUS UMM Perkenalkan Budaya Desa Ngadas Melalui Karya Fotografi

SELASA, 10 MEI 2016

MALANG — Sebanyak 58 karya fotografi hasil jepretan 24 pengkarya dari anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FOCUS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di pamerkan di Galeri Raos kota Batu, Selasa (10/5/2016). Dengan mengambil tema “Jelajah Desa Ngadas” mereka ingin mengangkat sekaligus memperkenalkan budaya dan kehidupan masyarakat desa Ngadas di wilayah Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang kepada masyarakat luas. 
“Selama ini nama desa Ngadas mungkin belum cukup familiar di telinga masyarakat malang, oleh karena itu melalui pameran fotografi ini kami ingin memperkenalkan kehidupan masyarakat Ngadas yang kebudayaan serta tradisinya masih sangat kental,”jelas Dila, ketua pelaksana pameran. 
Dila menceritakan, salah satu tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang yaitu tradisi memanjangkan sebagian rambut di area ubun-ubun. Rambut ini baru boleh di potong saat sang anak sudah menjelang akhil baligh dan cara memotongnya pun harus melalui upacara adat Tugel Gombak, hal tersebut juga berlaku bagi anak perempuan.
Dila juga mengatakan karena mayoritas masyarakat di Ngadas berprofesi sebagai petani dan sejak kecil anak-anak di sana sudah diajak untuk bertani sehingga saat di tanya mengenai cita-cita, anak-anak Ngadas menjawab ingin menjadi petani.
“Berbeda dengan anak-anak di kota yang memiliki cita-cita menjadi dokter, polisi, pilot maupun tentara, anak-anak Ngadas kebanyakan justru memilih ingin menjadi petani,”jelasnya.
Menurutnya selain ramah, masyarakat Ngadas juga menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Meskipun disana terdapat tiga Agama yang dominan yaitu Islam, Buddha dan Hindu, kerukunan antar umat beragamanya sangat terjaga. Hal ini dapat di lihat saat ada pembangunan tempat ibadah, semua masyarakat disana ikut membantu tanpa melihat latar belakang agama.
“Bahkan ada di dalam satu keluarga yang agamanya berbeda-beda. Ayahnya Hindu, Ibunya Buddha, sedangkan anaknya beragama Islam. Namun keluarga tersebut tetap rukun hingga sekarang,”ucapnya.
Dila menyampaikan, karena disana suhu udaranya cukup dingin, masyarakat Ngadas paling suka menggunakan sarung sebagai penghangat tubuh. Menurut sesepuh desa disana, terdapat filosofi dalam pemakaian sarung yaitu agar penggunanya tidak tersesat dalam menjalani hidup. Selain itu, motif sarung yang digunakan juga dapat memperkirakan status sosial penggunanya.
Sementara itu, Dila menilai dunia fotografi di Malang berkembang dengan pesat dan banyak di minati masyarakat terutama anak-anak muda. Hal tersebut terbukti dari sering diadakannya pameran-pameran fotografi di Malang.
“Sekarang hampir setiap universitas di Malang memiliki satu bahkan lebih UKM fotografi. Di UMM sendiri ada tiga UKM fotografi dan Focus adalah salah satunya,”pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Lihat juga...