SELASA, 10 MEI 2016
BANDUNG — Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Deddy Mizwar soroti tingginya angka kemiskinan. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), ada 4,4 juta penduduk miskin di Jabar. Kemiskinan ini seharusnya berbanding terbalik dengan kondisi pendidikan dan perekonomian yang dia klaim tumbuh pesat.

“Mengapa kemiskinan masih tinggi? Padahal pendidikan dan perekonomian cenderung tumbuh,” tutur Deddy di kantor Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) Jabar, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Selasa (10/5/2016).
Dia menginginkan koordinasi di antara instansi terkait harus ditingkatkan. Dikhawatirkan ada yang tidak akurat dalam pengumpulan data. Sebab, bisa saja ada yang memanipulasi dengan tujuan tertentu.
“Harus dievaluasi kenapa penyebabnya. Data kemiskinan berbeda-beda. Harus ada satu data akurat yang dijadikan rujukan,” tegasnya.
Tidak tepatnya program penangulangan kemiskinan juga bisa menjadi indikasinya. Selain itu, faktor kultural yang menyangkut mental masyarakat harus dibenahi. Caranya harus mengajak kepada masyarakat agar semangat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Kemiskinan kultural ini menjadikan masyarakat selalu berharap pada bantuan yang diberikan. Demikan tak malu mengaku miskin, sekalipun belum tentu hidup tak berkecukupan.
“Perlu ada pembinaan mental masyarakat agar mau bangkit dari keterpurukan ekonomi,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPS Jabar Bachdi Ruswana pun mengamini, tingginya kemiskinan di ranahnya lantaran program penanggulangan yang tidak terarah. Padahal anggaran untuk mengantisipasi itu cenderung besar, begitu pula dengan modal sosial. Pihaknya menghitung pada 2012 lalu, indeks modal sosial di Jabar di atas 90 persen.
“Jabar punya modal sosial yang tinggi. Sumber daya yang melekat dalam hubungan sosial akan terbentuk kalau adanya hubungan sosial,”
Pihaknya akan memaksimalkan pendekatan sosial untuk penanggulangan kemiskinan ini. Agar proses pendataan bisa lebih detail untuk setiap tinggkatan. Yakni, dari mulai kabupaten/kota hingga lingkup desa.
“Dengan itulah kita akan menyusun program penanggulangan kemiskinan. Karena enggak semua program bisa sama di setiap daerah,” katanya.[Rianto Nudiansyah]