KAMIS, 19 MEI 2016
BANDUNG—Wali Kota Bandung Ridwan Kamil angkat bicara soal isu komunis yang kembali marak di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung. Sebelumnya, sempat ada kegiatan Sekolah Marx yang digelar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Salah satu rangkaian kegiatan dalam event bertajuk ‘Panggung Seni Demokrasi’ tersebut dinilai berbau komunis, lantas dibubarkan oleh salah satu ormas pada 9 Mei 2016 lalu.
Emil -sapaan Ridwan Kamil- menyampaikan ajaran komunis memang dilarang setelah keluarnya Tap MPRS XXV/1966. Namun andaikata ada kajian khusus yang dilaksanakan di ranah kampus, seharusnya seluruh pihak bisa menilai lebih objektif.
“Karena kalau di kampus kan ruang mempelajari sesuatu dengan ilmiah, jadi ilmu apa saja kalau di kampus relatif, namanya juga kampus. Kalau di luar kampus itu hal yang lain. Jadi simbol-simbol yang hadir itu harus diteliti lebih jauh lagi,” ujar Emil di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Kembang, Kamis (19/5/2016).
Dewasa ini lambang palu arit seakan tak lagi menjadi hal yang sensitif, menyusul adanya pihak yang secara terang-terangan menggunakan aksesoris dengan simbol paham kiri tersebut. Dikatakan, masyarakat patut lebih bijak dalam memandang perkara komunis yang kini telah menjadi bahasan hangat di negeri ini.
“Makanya itu apakah gaya-gayaan atau bagian dari propaganda, sehingga intinya harus lebih bijaksana melihat seperti itu,” ucapnya.
Secara de facto, Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah dibubarkan beserta ormas-ormasnya. Namun bukan berarti kini tak patut kembali diwaspadai. Hanya saya dalam antisipasinya kudu lebih objektif, apakah ada kecenderungan kembali mempromosikan paham komunis ataukah tidak.
“Kalau dari saya sendiri bahwasanya PKI itu sudah mati, sehingga melihatnya harus diwaspadai betul. Tapi juga harus secara objektif jangan sampai dipukul rata,” tukasnya. (Rianto Nudiansyah)