KAMIS, 19 MEI 2016
SUMENEP — Memasuki musim paceklik yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, membuat para nelayan enggan melakukan aktifitas penangkapan ikan. Pasalnya sejak beberapa waktu lalu para nelayan jarang memperoleh ikan, sehingga mereka memilih menganggur agar tidak selalu merugi.
![]() |
| Perahu nelayan di Kabupaten Sumenep. |
Dalam melakukan penangkapan ikan, para nelayan membutuhkan biaya yang cukup besar. Maka apabila kondisi sangat tidak memungkinkan seperti ini mereka memilih tidak melaut, karena hasil yang diperoleh tidak akan sebanding dengan biaya operasional yang telah dikeluarkan.
“Sudah hampir satu bulan banyak nelayan yang tidak melaut, karena jika dipaksakan pulang tidak akan bisa membawa ikan, melainkan hanya merugi. Sebab biaya yang digunakan cukup besar,” kata Aut Rahman (30) salah satu nelayan di Kabupaten Sumenep, Kamis (19/5/2016).
Disebutkan, bahwa saat ini angin dan ombak tidak terlalu besar, namun ikan yang diperoleh nelayan sangat sedikit, bahkan terkadang mereka tidak satupun membawa ikan dari hasil melaut. Sehingga jalan satu-satunya agar tidak selalu rugi pada saat melakukan penangkapan ikan, terpaksa menghentikan aktifas melaut.
“Ya musim paceklik seperti ini sudah biasa terjadi, jadi nelayan merasa kebingung ketika kondisi ini, karena kebanyakan mereka bermata pencaharian dari menangkap ikan. Makanya untuk bekerja lain merasa kesulitan, sebab tidak memiliki keterampilan,” jelasnya.
Biasanya para nelayan yang memiliki keterampilan biasanya ketika musim paceklik ia mencari pekerjaan lain, seperti menjadi buruh bangunan dan buruh tani. Supaya mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di saat tidak melakukan penangkapan ikan.
Sedangkan musim paceklik kali ini masih belum bisa dipastikan sampai kapan akan berakhir, karena para nelayan masih belum memiliki acuan yang jelas, hanya saja bisa memperkirakan dengan kondisi rendahnya gelombang dan angin. Sehingga ketika keadaan cuaca benar-benar membaik, nelayan kembali melakukan aktifitas penangkapan ikan.
“Ya mau gimana lagi kami hanya bisa menunggu musim paceklik ini berakhir, karena jika ini terlalu lama kami terpaksa menjual barang yang dimiliki agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” pungkasnya. (M. Fahrul)