Kekurangan SDM, Bea dan Cukai Lhokseumawe Sulit Atasi Penyeludupan

KAMIS, 5 MEI 2016

LHOKSEUMAWE — Pihak Bea dan Cukai Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, mengaku kewalahan mengawasi kawasan perairan yang sering digunakan mafia penyeludup sebagai jalur masuk. Hal tersebut diakibatkan keterbatasan sarana dan prasarana serta kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Wilayah pengawasan kita itu cukup luas mencakup enam kabupaten/kota di Aceh, itu tidak sebanding dengan jumlah sarana dan  SDM yang kita miliki,” ujar Asep Munandar, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Lhokseumawe, kepada  Cendana News, Kamis (5/5/2016).
Asep menambahkan, selain karena keterbatasan sumber daya manusia, kendala lainnya adalah keterbatasan anggaran yang menyebabkan upaya lembaga pelayanan masyarakat dibidang kapabeyan dan cukai belum maksimal.
Selama ini, Asep menjelaskan, sejumlah kasus penyeludupan yang ditemui di lapangan adalah penyeludupan narkoba jenis sabu dan  bawang merah. Selain itu, pihaknya juga pernah menangkap kapal yang menyeludupkan pakaian bekas.
Menurutnya, wilayah pesisir Aceh sangat rentan dimanfaatkan oleh para mafia untuk menyeludupkan berbgai macam barang ilegal  termasuk senjata. Menurutnya, wilayah pesisir Aceh dimanfaatkan sebagai jalur masuk, lalu kemudian diedarkan melalu darat ke daerah  lain.
“Modusnya macam-macam ya, misal kapal besar berhenti lalu transit di tengah laut kemudian dijemput dengan kapal-kapal kecil, banyak  modusnya. Kemudian masuknya bukan hanya dari Lhokseumawe tapi ada dari Langsa dan sebagainya,” katanya.
Sejauh ini katanya, pihak bea cukai bersama TNI Angkatan Laut dan Satpol Air berusaha secara maksimal melakukan pengawasan  kawasan perairan Aceh. 
“Meski dengan alat, sarana dan armada yang kurang, kita tetap upayakan melakukannya secara maksimal,” pungkasnya.[Zulfikar Husein]
Lihat juga...