SELASA, 24 MEI 2016
SOLO —- Sehari selang kejadian dua ruang kelas MIM Ngombakan, Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah yang diduga dibakar, Polres Sukoharjo akhirnya telah mengidentifikasi pelaku yang diduga kuat sebagai pembakar kelas tersebut. Pelaku tak lain merupakan siswi sekolah tersebut yang berinisial VK, dan kasus tersebut akhirnya diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

“Dari keterangan sejumlah saksi di lokasi, mengarah kepada siswi tersebut. Ada warga yang saat kejadian itu melihat yang bersangkutan juga,” ujar KBO Reskrim Polres Sukoharjo, Iptu Suparno, kepada awak media, Selasa siang (24/5/16).
Menurutnya, Polres Sukoharjo melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), telah memeriksa siswi tersebut dengan didampingi orang tuanya. Pihak yang bersangkutan sendiri, kata Suparno, juga sudah mengakui. “Karena yang bersangkutan merupakan siswi sendiri, dan pihak sekolah menginginkan menyelesaikan secara kekeluargaan. Maka kami fasilitasi,” tambahnya.
Ditambahkan, Selasa siang ini, pihak sekolah beserta keluarga pelaku mendatangi Mapolres untuk bersepakat untuk tidak melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum. Keduanya telah sepakat untuk menyelesaikan permasalan tersebut secara kekeluargaan. “Pihak sekolah dan orang tua siswa telah sepakat, secara kekeluargaan,” pungkasnya.
Mengetahui pelaku merupakan siswi sendiri dan masih anak-anak, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Sukoharjo, menyiapkan psikolog untuk mendampingi yang bersangkutan. “Kita dari PDPM menyiapkan kader kita yang juga seorang psikolog untuk mendampingi yang bersangkutan. Karena ia masih anak-anak, kita mempunyai tanggung jawab untuk mendidik mereka,” tambah Ketua PDPM Sukoharjo, Eko Pujiatmoko.
Selain melakukan pendampingan terhadap siswi yang bersangkutan, PDPM juga meminta agar kasus tersebut dihentikan. Karena mediasi telah dijalankan dan hasilnya telah disepakati bersama. Menurutnya, selama ini siswa kelas V MIM tersebut memang hidup jauh dari perhatian orang tuanya, karena ditinggal bekerja. “Orang tuanya pulang sepekan sekali, karena orang tuanya berjualan. Karena tinggal bersama saudaranya, sehingga bimbingan orang tua kurang,” tutupnya. (Harun Alrosid)