Akademisi: Orangtua Harus Jelaskan Masalah Reproduksi kepada Anak

RABU, 18 MEI 2016

SURABAYA — Anak-anak layaknya kertas putih dan orang tua sebagai tinta yang menulis memang perlu koordinasi yang baik. Hal ini diperlukan untuk membentuk karakter anak. Bagaimana seorang anak beradaptasi dengan lingkungan teman bermain maupun sekolahnya.
Sebagai orangtua perlu menjadi teman dan guru yang baik terhadap anaknya, salah satunya terkait masalah reproduksi. Terkadang anak balita bertanya kepada orangtuanya apa itu (maaf) alat kelamin. Terkadang orangtua malu menjelaskan. Padahal itu penting bagi pengetahuan sang anak.
Maraknya kasus kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak, mau tidak mau menampar bangsa ini dengan keras. Tak seharusnya kejadian kekerasan seksual yang pelaku dan korbannya masih dalam usia anak-anak tidak boleh terjadi.
Seperti kasus Yuyun yang diperkosa oleh 14 orang, kasus Bunga (bukan nama sebenarnya) di Surabaya siswa kelas 3 SMP yang digilir oleh 8 pelaku yang juga dibawah umur.
Melihat permasalahan tersebut, Dosen Fakulfas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Supatmi membuat penelitian yang berjudul ‘peer education’ dimana setiap anak diberi pelajaran terkait reproduksi.
“Terutama orang tua harus mengajarkan kepada anak-anak bagian mana saja dari tubuhnya yang boleh dipegang dan tidak boleh dipegang oleh orang lain,” jelasnya kepada media di Gedung G UMS, Rabu (18/5/2016).
Selain itu didalam peer education pengetahuan terkait kesehatan reproduksi dilihat dari umur masing-masing anak. Penyampaian harus sesederhana mungkin dan dapat dimengerti oleh setiap anak.
“Jika sudah remaja dengan rentang usia 9-15 tahun ada perubahan pada fisiknya harus lebih ditekankan lagi untuk selalu menjaga reproduksinya,” cakapnya.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempua dan Perlindungan Anak Bapemas Kota Surabaya, Ani Fajriatin menambahkan peer education mirip dengan teman sebaya atau konselor sebaya.
“Dimana pencegahan kekerasan seksual bisa terdeteksi secara langsung melalui konselor sebaya,” imbuhnya.
Selain itu, Ani juga menegaskan kepada seluruh orang tua agar selalu melakukan pendampingan kepada anak terkait penggunaan media sosial dan internet. “Sekaligus pengawasan saat menonton televisi,” pungkasnya. 
[Charolin Pebrianti]
Lihat juga...