Disbudpar Kota Bandung Dituntut Lebih Transparan

RABU, 18 MEI 2016

BANDUNG — Beberapa seniman menuntut keterbukaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, terkait honor dalam program gelaran Little Bandung Festival, di Bangkok Thailand, pada 18-23 Maret 2016 lalu.
Dikabarkan, dari uang harian sebesar Rp.13.152.435 per talent, setiap seniman hanya mendapat Rp.1.450.000. Diketahui, pada kegiatan tersebut diikuti sebanyak 12 orang seniman.
Sri Mulyani, Salah seorang seniman yang ikut ke Thailand, menginginkan Disbudpar Kota Bandung bisa lebih transparan terkait dana uang harian itu.
“Korupsi atau tidak enggak tahu yah saya enggak mau fitnah. Tapi enggak wajar kalau hanya dibayar Rp.1,450 ribu,” tutur Sri, di Kantor Disbudpar Kota Bandung, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Rabu (18/5/2016).
Andaikata mengetahui akan dibayar sebesar itu, ia mengaku akan lebih memilih tinggal di Kota Bandung. Sebagai penari, dikatakannya, biasa dibayar Rp. 5 Juta untuk satu kali penampilan di kawasan Asia Tenggara. 
“Kita ke sana (Thailand) karena ada angan-angan dapat lebih besar,” ucap wanita karib disapa Munil ini.
Kejadian hampir serupa pernah ia alami di tahun 2014 lalu. Munil hanya mendapatkan uang saku Rp. 750 ribu saat menari di India. Karena itu, ia meminta keterbukaan soal dana untuk talent, agar kedepan bisa lebih jelas.
“Dulu lebih parah, sempat aku ke India  dibayar Rp. 750 ribu 2014,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan dan Kesenian Disbudpar Kota Bandung, Dedy Dharmawan mengklaim pihaknya sudah sangat terbuka. Ia mengatakan, uang sebesar Rp. 13.152.435 per orang tersebut peruntukannya sudah jelas. 
“Bukan uang saku, tapi uang harian terdiri dari empat,  yaitu untuk penginapan, konsumsi, transportasi lokal dan uang saku. Uang saku itu akhir dari penjumlahan,” ucap Dedy.
Secara estimasi, jumlah uang harian untuk setiap talent memang sudah ditentukan. Bahkan, sebelum berangkat ke Thailand, ia sudah mengadakan pertemuan teknis dengan pihak-pihak yang terlibat di gelaran Little Bandung Festival. Tepatnya pada 14 Maret 2016 lalu. 
“Tapi kan ada hal-hal yang di tengah perjalanan itu bisa tak terduga. Itu sudah diberitahukan pada pertemuan teknis, memang tidak keluar angka untuk apa saja,” katanya.
Ia berharap tanggapan miring ini tak berkepanjangan. Kedepan mungkin ia akan menganjurkan para seniman untuk mengatur sendiri segala keperluan selama ada event di luar negeri.
“Mungkin nanti silakan saja ngurus sendiri atau bahkan harus dipikirkan lagi perjalanan dinas ini daripada menjadi su’udzon,” tukasnya.
[Rianto Nudiansyah]
Lihat juga...