SELASA, 26 APRIL 2016
SURABAYA— Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, meraih penghargaan bergengsi tingkat dunia. Penghargaan itu diberikan Institution Medal of Distinction dari Royal Institute of Naval Architects (RINA), berkat publikasi penelitiannya di Journal of Small Craft Technology di London, Inggris.

Adalah dosen Jurusan Teknik Perkapalan, Ir. Heri Supomo MSc yang beruntung mendapatkan penghargaan ini.
Heri yang awalnya melihat fenomena para pelaku usaha galangan kayu yang kesulitan bahan baku. Dengan alasan keramahan lingkungan, Heri terbersit ide untuk membuat galangan kapal berbahan baku bambu.
“Banyak pengusaha yang gulung tikar. Kalau begitu, lalu bagaimana kondisi ekonomi kerakyatan di daerah pesisir?,” terangnya kepada media saat ditemui di ITS, Selasa (26/4/2016).
Sejak tahun 2011, Heri akhirnya intensif meneliti bambu, mulai dari metode pengukuran umurnya, hingga karakteristik berbagai jenis bambu. Hasilnya, bambu ternyata memiliki 150 persen kekuatan lebih besar dari kayu jati.
Pengujian di laboratorium juga menunjukkan bahwa bambu memiliki sifat-sifat mekanis dan kimia yang memenuhi kualifikasi layak sebagai bahan konstruksi kapal.
Tak hanya itu, salah satu sifat dasar bambu adalah semakin kuat ketika semakin lama terkena air. Heri bahkan sempat merendam bambu di dalam air laut sejak tahun 2012, dan kondisinya masih bagus hingga sekarang. Hal ini turut menjadi poin utama yang membuatnya yakin dengan penelitian yang ia geluti.
“Berdasarkan karakteristiknya, ternyata hanya ada dua jenis bambu yang dapat digunakan, yakni ori (orisinal, red) dan betung,” jelas pria yang juga mahasiswa doktoral di Jurusan Teknik Perkapalan ITS tersebut.
Melihat dari segala potensi bambu yang belum termanfaatkan betul, Heri ingin agar masyarakat sadar terkait potensi itu. Kini pun dirinya tengah melakukan sosialisasi manfaat penggunaan bambu.
“Selama ini, alat-alat yang kami gunakan dalam penelitian adalah buatan kami sendiri. Sebab tak ada di pasaran,” cakapnya.
Tata niaga bambu yang masih belum baik di Indonesia juga diakui Heri cukup menjadi tantangan. “Namun, selain lebih kuat, keunggulan bambu yang utama adalah lebih murah, meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama,” ungkapnya.
Ada tujuh penghargaan yang berbeda-beda yang juga hanya diberikan kepada tujuh orang dari seluruh dunia, dari data di website RINA tercatat penerima Institution Medal of Distinction sebanyak dua orang, Jeom Paik Prize satu orang, Samuel Baxter Prize satu orang, WHC Nicholas Prize satu orang, Ian Telfer Prize satu orang, dan David Goodrich Prize satu orang. (Charolin Pebrianti)