SABTU, 30 APRIL 2016
LAMPUNG — Ketua Kelompok Tani Siger Kakao di Penengahan, Amir menyebutkan, dalam menyikapi penurunan produksi, salah satu langkah yang dinilai mengguntungkan dengan melakukan fermentasi.

“Kami mengembangkan tekhnik fermentasi biji kakao, karena dinilai lebih menguntungkan. Dengan fermentasi, harga jual biji kakao akan menjadi lebih mahal dibanding buah kakao yang dijemur manual,”ujarnya di Panengahan, Sabtu (30/4/2016).
Kakao hasil fermentasi menurutnya bisa memiliki nilai jual lebih tinggi Rp 3.000 per kilogram dan biji kakao akan tahan terhadap pembusukan. Penerapan tekhik fermentasi biji kakao oleh para petani kakao selama ini terbukti lebih menguntungkan karena harga biji kakao yang difermentasikan saat ini mencapai Rp 25.000 perkilogram (kg), sedangkan biji kakao kering tanpa fermentasi hanya 22.000/kg.
“Kalau biji kakao hanya dijemur sebentar, lalu disimpan maka akan cepat membusuk, dan harga biji kakao tanpa difermentasi jelas lebih rendah,”katanya.
Ditambahkannya, biji kakao yang akan melalui proses fermentasi memang membutuhkan waktu lebih lama, karena perlu penjemuran selama tiga-empat hari, kemudian menunggu difermentasikan dahulu selama 6 hari, agar biji kakao semakin tahan terhadap pembusukan.
“Kalau biji kakao sudah difermentasi, tentu lebih tahan lama sehingga 3 bulan sementara biji kakao non fermentasi hanya dapat disimpan 1 bulan” ujarnya.
Keuntungan lain, ujarnya, para petani kakao dapat meningkatkan kualitas produksi biji kakao, karena dengan melakukan pasca panen yang maksimal, maka kualitas biji kakao akan semakin baik, yang tentunya dapat mendongkrak harga biji kakao tersebut.
“Kalau para petani kakao lebih sabar untuk tidak menjual dahulu, maka kesempatan itu dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas biji kakao, sehingga para pedagang tidak sering mempermainkan harga dengan alasan kualitas biji kakao rendah,”ujarnya.
Penyimpanan biji kakao di tempat khusus dan penanganan khusus diharapkan bisa menekan angka kerugian pada saat kondisi cuaca sedang tidak baik seperti pada tahun ini. Selain sebagai penutup biaya operasional saat produksi menurun hasil penjualan biji kakao hasil fermentasi bisa digunakan untuk tabungan masa depan petani kakao.[Henk Widi]