JUMAT 22 APRIL 2016
Jurnalis : Samad Vanath Sallatalohy / Editor : Rustam / Sumber Foto : Samad Vanath Sallatalohy
AMBON – Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 di Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon Provinsi Maluku, mulai mengembangkan program budaya literasi sekolah, dengan menjadikan buku sebagai sumber inspirasi.

SMKN 7 Ambon membudayakan baca buku
Kepala Sekolah SMKN 7 Ambon M. Syaifull.MM.Pd kepada Cendana News di Ambon, Jumat (22/4/2016) mengemukakan, program literasi budaya dapat menumbuhkan minat membaca generasi muda, khususnya para siswa di sekolah yang dipimpinnya tersebut. Sebab dengan membaca, siswa dapat menganalisa juga mampu memecahkan persoalan yang dihadapi.
Program literasi budaya, bagi SMK Negeri 7 Ambon diharapkan dapat menumbuhkan minat membaca siswa serta guru. “Sebab, dengan membaca kita dapat melakukan analisa serta mampu memecahkan persoalan,” ujarnya.
Menurut Syaiful, penerapan peningkatan minat membaca, tidak hanya difokuskan bagi anak didik semata, namun perlu juga diikuti oleh guru. Hal ini sebagai kurikulum hidup yang keseharian berada di depan kelas menyajikan materi bagi peserta didik.
Syaiful mengatakan, dengan meningkatkan minat membaca guru hal tersebut tentu sangat berdampak positif menambah khazanah berpikir, sekaligus memantapkan pola pembelajaran, sehingga tidak terkesan monoton.
“Tidak hanya itu, kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat ganda antara komite dengan pihak sekolah dalam rangka membangun budaya literasi sekolah, juga meningkatkan daya saing yang tinggi dalam dunia moderen saat ini,” paparnya.

Guru dan siswa SMKN 7 Ambon
harus banyak membaca buku
Selain itu, dengan program literasi budaya sekolah sudah tentu dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan bagi siswa, memotivasi sekolah untuk mengembangkan perpustakaan yang moderen dan sudut-sudut taman bacaan, utamanya meningkatkan budaya membaca, tulis dan hitung di sekolah.
“Khususnya kesadaran warga sekolah terkait budaya literasi,” ungkapnya.
Dari catatan Unesco tahun 2011 menyebutkan, minat baca masyarakat di Indonesia termasuk Maluku sangat minim. Dari angka seribu penduduk hanya satu orang yang memiliki minat membaca tinggi.
Hal itu tentunya sangat memprihatinkan. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, sehingga keinginan membaca kian ditinggalkan.