Realisasi Luas Tanaman Jagung di Sikka 14,8 Ribu Hektar

SENIN, 19 APRIL 2016
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rustam / Sumber Foto : Ebed De Rosary
MAUMERE – Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), merencanakan menanam tanaman jagung hibrida seluas 15.034 hektar. Dari target tersebut, terhitung sejak musim tanam bulan Oktober 2015 hingga Maret 2016, sudah terealisasi 14.866 hektar tanaman jagung.
Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera (kedua kanan) saat panen perdana jagung 
di Desa Langir Kecamatan Kangae.
Realisasi luas areal tanaman jagung sudah mencapai 99,02 persen dari rencana. Tanaman jagung tersebut tersebar di 21 Kecamatan, 160 desa atau kelurahan. Tanaman jagung itu dikelola 478 kelompok tani.
Dari luas tanaman  jagung yang sudah terealisasi, pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan mengintervensi 6.729 hektar melalui kegiatan Pengembangan Jagung Hibrida.
Hal ini disampaikan Kabid Tanaman Pangan, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Sikka, Kanisius P.E.Togo kepada Cendana News, Selasa (19/4/2016). Dikatakan Kanis sapaannya,pengembangan dilakukan lewat gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu jagung Hibrida.
“Kami juga lakukan intensifikasi jagung komposit kawasan dan non kawasan, usaha tani terpadu dan demplot efikasi pupuk  hayati Kayabio pada tanaman jagung,” jelas Kanis.
Sedangkan luas tanaman jagung  8.157 hektar adalah kegiatan swadaya petani di bawah pendampingan PPL dan Babinsa.
Saat bercocok tanam, petani dihadapkan dengan alam yang kurang bersahabat. Diibaratkan sedang “berjudi” dengan alam akibat fenomena El Nino.
Fakta dan data menunjukan, jedah hujan Dasarian III bulan Desember 2015 sampai dengan  Dasarian I Januari 2016, mengakibatkan 148 hektar tanaman jagung gagal tanam. Sementara itu yang gagal panen akibat puso seluas 2.390 hektar, saat umur tanaman masih berumur 7 sampai 50 hari setelah tanam. 
“Kami bersama petani dan semua pemangku kepentingan perlu berbesar hati, karena bekerja dalam kecemasan akan kegagalan. Namun hujan akhirnya turun sehingga panen bisa terlaksana sesuai target,” paparnya.
Dari proses pengambilan ubinan telah diketahui produktivitas jagung pada lahan seluas 12.496 hektar yang panen perdananya dilakukan tanggal 7 April 2016 lalu. Produktivitas jagung Hibrida jelas Kanis,rata-rata 76 kwintal per hektar. Sementara untuk jagung Komposit rata-rata 41 kwintal per hektar dan jagung lokal rata-rata 23 kwintal per hektar.
“Sehingga perkiraan kami, produksi musim tanam Oktober 2015 sampai Maret 2016 sebanyak 58.314,7 ton jagung kering panen dari sasaran capaian sebanyak 44.057 ton,” pungkasnya.
Lihat juga...