SENIN, 25 APRIL 2016
Editor : Rustam Djamaluddin
LAMPUNG — Warga yang bermukim di tiga desa Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, kini tengah mengembangkan budidaya tanaman jeruk siam. Sistem tanam yang mereka gunakan, yakni penanaman seragam dan tumpang sari.

Warga desa yang dimaksud, Desa Tanjungsari, Desa Kalirejo, Desa Palas Bangunan, dengan rata-rata luas lahan seperempat hingga satu hektar setiap petani.
Salah seorang petani jeruk siam di Desa Kalirejo, Kecamatan Palas,Suparman (70) bersama istri Sumini (62) mengaku, mulai membudidayakan jeruk siam sejak awal tahun 2013.
“Kami sebagian besar keluarga di Banyuwangi, Jawa, petani jeruk. Saat kami pindah ke Palas melihat potensi tanah bagus, kami langsung lakukan budidaya tanaman jeruk dan sangat cocok. Lalu kami kembangkan di sini,”ujar Sumini kepada Cendana News, Senin (25/4/2016).
Meski sudah cukup berumur, namun Sumini masih semangat bertani.Semangat itu ternyata diikuti Misno,warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas. Misno yang masih punya hubungan keluarga dengan Sumini, juga membudidayakan jeruk jenis siam di lahan perkebunannya.
Kondisi tanah yang subur dan pangsa pasar menjanjikan, inilah yang membuat petani tertarik menanam jeruk siam di wilayah Lampung. Budidaya tanaman jeruk yang dilakukan Sumini di lahan seperempat hektar, diawali dengan menanam jeruk siam sebanyak 500 pohon.
Bibit jeruk siam tersebut ia datangkan dari wilayah Metro dengan harga Rp15 ribu perpohon. Kini tanaman jeruk tersebut sudah mulai menghasilkan buah antara 800 hingga 900 buah per pohon dalam setahun.

Sumini menjelaskan, khusus di lahan belakang rumahnya ditanami jeruk sebanyak 50 pohon. Sengaja ditanam di pekarangan rumah, sebagai tanda bahwa ia bersama keluarganya membudidayakan tanaman jeruk siam.
Kemudian dibelakang rumah yang jaraknya sekitar 500 meter, Sumini juga menanam jeruk.
Panen tahap awal, Sumini mencatat bisa menghasilkan buah jeruk siam mencapai 5 kuintal di kebun belakang rumahnya. Sementara kebun jeruk di lokasi yang berbeda, mampu menghasilkan buah jeruk sebanyak 2 ton.
Soal harga jeruk dipasaran terbilang menggiurkan. Harga jeruk kualitas biasa mencapai Rp 8 ribu perkilogram dan Rp10 ribu untuk jeruk kualitas super.
Produksi jeruk Sumini dan Misno, tidak hanya dipasok di pasar tradisional Lampung, tapi sudah dikirim ke luar Kota Lampung.
Dampak positifnya dengan omzet puluhan juta dari budidaya jeruk, selain mampu memberi pekerjaan bagi warga sekitar, petani jeruk juga membangkitkan usaha-usaha lanjutan dari budidaya jeruk siam.
“Sebagian dibeli oleh para pengepul untuk dijual kembali ke pasar-pasar. Selain itu ada juga pembeli yang membeli untuk dijual dalam bentuk jus atau es buah dan ini memunculkan usaha usaha baru,” ungkap Misno.
Usaha lain yang tumbuh, adanya warung yang menyediakan aneka buah. Buah tersebut merupakan hasil petani lokal di Palas, diantaranya buah naga, buah pepaya california, buah jeruk serta belimbing.
Prospek bisnis lanjutan tersebut diakui Misno, sangat baik. Diapun berencana membuat konsep wisata agro, seperti yang ada di kebun buah Mekarsari atau perkebunan apel di Malang Jawa Timur.
“Sedang dipersiapkan tempat serta sarana, sehingga pengunjung bisa memetik,menikmati buah jeruk di tempat ini secara langsung dan membeli untuk dibawa pulang,” ungkapnya.
Konsep wisata agro bisnis juga telah berjalan di lahan budidaya tanaman belimbing merah di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. Dimana pengunjung bisa menikmati suasana perkebunan belimbing, sekaligus menikmati sensasi memetik buah belimbing.
Lokasi yang dibentuk menjadi kawasan perkebunan lengkap dengan kolam ikan, saung saung tempat istirahat. Lahan perkebunan tersebut menjadi sarana edukasi bagi pengunjung yang sebagian merupakan siswa sekolah dan warga yang tertarik membudidayakan tanaman belimbing dan jeruk. (Henk Widi)