KAMIS, 21 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Bicara soal semangat juang dan pengorbanan perempuan, sekiranya tak diragukan lagi jika ketulusan seorang ibu pun bisa luar biasa menginspirasi dan sekaligus mengharukan. Jika Raden Ajeng Kartini memperjuangkan kaumnya agar mendapatkan hak yang sama, kini di era modern kaum ibu pun menghadapi tantangannya sendiri yang kian beragam. Misalnya, seorang ibu yang merawat dua putrinya yang mengalami cacat fisik.
![]() |
| Eni bersama dua orang anaknya |
Eni, demikian nama seorang ibu tangguh, warga Sleman, Yogyakarta, harus berjuang sendiri membesarkan kedua putrinya yang mengalami lumpuh kaki sejak usia sekolah dasar. Putri sulungnya, Manila Kristin (22), tak bisa berjalan sejak Kelas 3 SD akibat terserang penyakit toxoplasma. Sedangkan, putri keduanya, Trivena Katrina, juga tak bisa sejak Kelas 2 SD akibat penyakit acute flaccid paralysis atau lumpuh layu akut.
Memiliki satu anak difabel saja, pastinya sudah cukup merepotkan. Namun bagi Eni, dua putrinya yang difable tak pernah membuatnya repot dan terbebani. Bahkan, ketika setiap hari Eni harus mengantarnya sekolah sejak kedua putrinya itu masih di bangku SD, sementara ia sendiri harus pula bekerja mencari nafkah dengan bekerja serabutan, Eni tak pernah merasa menyesal dan putus asa. Ia tetap tak kehabisan tenaga untuk memberi semangat kepada kedua putrinya itu, agar bisa mencapai prestasi sebagaimana orang normal lainnya.
Dan, usaha serta pengorbanannya selama puluhan tahun itu tak sia-sia. Putri sulungnya, Manila Kristin yang kini sudah berusia 22 tahun, selalu menunjukkan indeks prestasi yang membanggakan dengan nilai 3,7 hingga 4. Karena prestasinya itu, pun Manila kemudian dipercaya menjadi asisten dosen rekayasa perangkat lunak di Universitas Kristen Duta Wacana. Tak hanya menjadi asisten dosen, Manila juga aktif mengajar les di berbagai tempat.
Sementara itu, Eni yang ditemui Kamis (21/4/2016), pun juga tak pernah putus memberi semangat bagi putri keduanya, Trivena Katrina, agar selalu semangat belajar menunut ilmu, tanpa harus merasa minder dengan kawan-kawannya yang normal.
“Bagi saya, anak adalah anugerah. Dan, satu yang selalu saya tekankan kepada anak-anaknya saya agar takut pada Tuhan. Karena saya yakin, hanya dengan iman masa depan anak-anak saya bisa menjadi baik”, pungkasnya.