KAMIS, 28 APRIL 2016
LHOKSEUMAWE — Perhatian pemerintah yang dinilai kurang menjadi salah satu penyebab industri rumahan di Kota Lhokseumawe, Aceh, sulit berkembang. Berbagai kendala dihadapi pengusaha kecil diantaranya modal dan fasilitas.
![]() |
| Juliana sedang mengolah kikil bersama anaknya |
“Susah berkembang pelaku usaha kecil seperti kami, pemerintah lebih perhatian kepada pengusaha kelas atas yang memiliki modal besar,”sebut salah satu pelaku industri rumahan di yang memproduksi kikil di Lhokseumawe, Juliana, Kamis (28/4/2016).
Disebutkan, selama menjadi pelaku usaha kikil dari kulit sapi, tidak pernah sekalipun mendapat perhatian dari pemerintah. Usaha yang ditekuni bertahun-tahun tersebut hanya berjalan ditempat tanpa adanya kemajuan. Keterbatasan modal berdampak kepada keuntungan yang didapat, terutama ia juga harus membiayai sekolah lima orang anaknya.
“Saya sudah puluhan tahun menekuni usaha ini. Kulit sapi saya beli dari pedagang daging seharga Rp.13 ribu per kilogram, setelah diolah lalu saya jual Rp.30 ribu,” kata Juliana.
“Kami berharap mendapat perhatian dari pemerintah, mungkin dengan adanya sedikit bantuan dari pemerintah kami bisa mengembangkan usaha kami menjadi lebih baik, itu juga untuk peningkatan ekonomi rakyat,”tutupnya.(Zulfikar Husein)