Museum Tekstil, Wujud Pelestarian Batik Dari Ibu Tien Soeharto Untuk Indonesia

JUMAT, 22 APRIL 2016
 
JAKARTA—Museum Tekstil Jakarta merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada awal abad ke-19. Pada era perjuangan merebut kemerdekaan, gedung tersebut turut digunakan sebagai markas besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Tahun 1952 gedung dibeli oleh Departemen Sosial Republik Indonesia untuk kemudian diserahkan kepada Pemerintah  DKI Jakarta pimpinan Gubernur Ali Sadikin. 
Museum Takstil Jakarta, Jalan KS.Tubun No.2-4, Jakarta Barat
Untuk meneguhkan wawasan kedaulatan budaya, maka negara harus memiliki sebuah museum yang khusus menonjolkan seni kain batik sebagai karya seni dan budaya asli dari Indonesia. Untuk itu, tepat tanggal 28 Juni 1976, gedung yang beralamat lengkap di Jalan KS.Tubun No.2-4 Jakarta Barat ini diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto menjadi Museum Tekstil. Letaknya yang dekat dengan Pasar Tanah Abang menjadi salah satu dasar dipilihnya bekas markas BKR tersebut sebagai Museum Tekstil. Ibu Tien Soeharto dan Gubernur Ali Sadikin sepakat, bahwa masyarakat yang berbelanja kain di Pasar Tanah Abang bisa mengetahui jenis maupun cara pembuatan kain dengan mengunjungi Museum Tekstil.

Sebelum memasuki ruang pameran Museum, pengunjung dapat mengabadikan patung  Lestari Wastra Bangsaku, sebuah elemen estetika hasil karya Indra Riawan untuk Museum Tekstil pada tahun 2013 yang berbentuk uraian kain panjang dengan motif-motif kain khas Indonesia.

Ruang pameran Museum Takstil memamerkan berbagai koleksi kain batik dan kain tradisional Indonesia lainnya,  seperti tenun dan songket. Hingga kini, Museum Tekstil sudah memiliki koleksi berjumlah 2.350 koleksi kain dari seluruh nusantara. Koleksi itu terdiri dari 886 kain batik,  819 kain tenun, 425 koleksi campuran, 70 koleksi peralatan, serta 150 koleksi busana dan tekstil kontemporer.

Kepala Seksi Pameran dan Edukasi Museum Tekstil Indonesia, Sari Permana Averelyn D,M.Hum, mengatakan koleksi yang dimiliki diperoleh dengan membeli, mendapat bantuan  hibah, partisipasi pameran koleksi pribadi perorangan maupun organisasi dan sumbangan.

Sari Permana Averelyn D,M,Hum, Kepala Seksi Pameran dan Edukasi Museum Tekstil Jakarta
” Dari beragam cara kami medapatkan koleksi, sebagian besar yang kami miliki adalah dengan cara membeli koleksi-koleksi kain bermotif langka dari seluruh Indonesia,” jelas Sari kepada Cendana News.

Museum Tekstil Jakarta adalah jenis museum khusus, yakni hanya memamerkan kekayaan seni kain nusantara saja,  sehingga para pengunjung yang datangpun biasanya berasal dari mereka yang memiliki ketertarikan khusus akan kain nusantara,  serta pelajar maupun mahasiswa yang ingin belajar membatik atau melakukan penelitian.

” Membatik sudah masuk kurikulum di sekolah, maka kami secara intensif membuka workshop batik bagi siswa. Instruktur kami siapkan dan sampai saat ini sudah ada lima instruktur batik yang siap memberikan pelatihan baik lisan maupun praktek membatik bagi masyarakat,” papar Sari lagi.

” Program ini juga efektif menarik wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) untuk mengenal batik Indonesia. Bahkan ada wisman dari Jepang dan Amerika Serikat yang belajar di workshop kami sampai mereka expert lalu pulang ke negara masing-masing sambil mempromosikan batik dan Museum Tekstil,” Sari menambahkan.

Konsentrasi Museum Tekstil sebenarnya bukan kepada seni batik semata. Belakangan ini, pengelola museum membidik program workshop untuk kain tenun dan songket. Untuk itu, dalam waktu dekat tahun ini akan digelar workshop tenun dan songket dengan mendatangkan para pengrajin tenun dan songket dari berbagai daerah, terutama dari Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

Usaha Pengelola museum bukan tanpa kendala, karena beberapa waktu yang lalu Pemprov DKI Jakarta menghapus anggaran promosi museum. Alasannya adalah, sudah saatnya museum lebih memaksimalkan cara promosi lewat dunia maya atau internet. Pemprov mengalihkan pemotongan anggaran tersebut untuk peningkatan kesejahteraan pegawai museum.

Museum Tekstil banyak melakukan kerjasama promosi dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa TMII memiliki program acara yang secara rutin mengangkat budaya tradisional Indonesia,  dibanding tempat-tempat lainnya.

” Kami pasti akan berpartisipasi jika TMII mengadakan acara. Wujud partisipasi kami biasanya mengirimkan workshop batik. Bahkan Yayasan Batik Indonesia (YBI) yang saat ini masih memakai ruang pameran di Museum Tekstil. Dan pertengahan tahun 2017 mendatang, YBI  resmi berkantor sekaligus memiliki tempat pameran sendiri di TMII. Ini sebuah terobosan kerjasama yang luar biasa,” tandas Sari.

Harapan pengelola Museum Tekstil beserta seluruh staf  adalah kedepannya bisa lebih intens melakukan terobosan-terobosan program menarik,  terkait promosi kain-kain tradisional Indonesia. Salah satu yang sedang digarap saat ini adalah kerjasama dengan Google,  agar nantinya Google dapat memasang motif-motif kain batik Indonesia pada setiap konten yang dimilikinya.

” Kerjasama sudah mendekati final. Kami sekarang sedang mempersiapkan koleksi-koleksi andalan kami untuk dimasukkan ke Google,” pungkasnya.

Fasilitas-fasilitas pendukung Museum Tekstil Jakarta sudah sangat memenuhi syarat sebagai sebuah tempat pelestarian budaya Indonesia dan edukasi. Ruang pameran yang luas untuk menampung semua koleksi museum, laboratorium atau ruang perawatan kain. Toko museum yang menjual beragam souvenir khas Indonesia terutama yang bernuansa batik.

Lalu ada perpustakaan yang menyediakaan buku-buku tentang tekstil Indonesia sebagai bahan maupun data penelitian. Ruangan workshop lengkap dengan mesin tenun dan peralatan membatik, serta taman pewarna alam dan kebun tanaman serat yang memperkenalkan bahan-bahan alami pewarna untuk batik.

Penataan ruang yang feminim dan mengedepankan estetika secara utuh memperlihatkan dominasi sentuhan wanita di Museum Tekstil. Semua dimulai dari konsep wawasan kedaulatan budaya Ibu Tien Soeharto hingga pada kegigihan Sari Permana Averelyn beserta seluruh team Museum Tekstil untuk terus mengawal kedaulatan kain-kain tradisional nusantara. Dan pengakuan UNESCO tanggal 30 September 2009 untuk seni batik Indonesia semakin memperteguh kedaulatan batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia. (Miechell Koagouw)

Lihat juga...