KAMIS, 21 APRIL 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary
MAUMERE — Menjadi penjual pasir dan pemecah batu, menjadi pilihan hidup Paulina Lair (74) sejak puluhan tahun silam, mendampingi almahrum suaminya yang juga berprofesi sama. Warga RT 10 RW 01 kelurahan Madawat kecamatan Alok kabupaten Sikka ini, mengandalkan kekuatan fisik demi menghidupi 6 orang anaknya yang saat ini sudah berkeluarga.
![]() |
| Paulina Lair sedang memecahkan batu menjadi kerikil |
Saat diitemui Cendana News di tempat penjualan pasir dan batu kerikil miliknya, Paulina terlihat sedang memecahkan batu yang hanya tinggal beberapa buah saja. Sejak pagi jam 6 hingga soreh jam 18.00 WITA, Paulina setia menunggui material jualannya.
“Suami saya sudah meninggal 5 tahun lalu dan saya tetap bekerja mencari makan dengan cara seperti ini. Kalau tidak begitu, saya mau dapat uang dari mana lagi,” ujarnya, Kamis (21/4/2016).
Dikatakan ibu dari 2 anak laki-laki dan 4 anak perempuan yang semuanya sudah berkeluarga ini, seorang anak lelakinya juga mengikuti jejak orang tuanya menjual pasir dan batu kerikil. Bukan cuma itu, sambungnya, cucu laki-lakinya pun ikut berjualan.
“Mereka sudah tamat SLTA dan belum kerja, sehingga ikut kami mencari uang. Dari pada mereka hanya duduk-duduk saja di rumah, lebih baik mereka juga cari uang sambil mencari pekerjaan lain,“ tuturnya.
Batu dan pasir dibelinya dari orang lain. Satu pick up pasir dibelinya seharga 150 ribu rupiah dan dimasukan ke dalam kantong semen bekas lalu dijual seharga 10 ribu rupiah. Sementara itu, batu seukuran kepalan tangan orang dewasa atau berukuran sedikit lebih besar dibelinya seharga 250 ribu rupiah.
“Batu kami hancurkan dengan dipukul memakai palu di atas landasan batu ceper hingga menjadi kerikil. Satu karung kerikil di dalam kantong semen bekas kami jual 15 ribu rupiah, “ beber Paulina.
Sebuah pondok sederhana beratapkan karung dan seng bekas serta berdinding seng bekas dibangun di tempat jualannya persis di sebelah timur jalan Wairklau sesudah jembatan. Pondok ini dipakainya untuk berteduh dan memasak makanan.
Meski rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari lokasi berjualan, Paulina memilih berada di tempat jualannya hingga sore hari. Tanah yang dipakai sebagai tempat berjualan sebutnya merupakan tanah pemerintah.
“Kalau saya pulang takutnya ada pembeli yang datang apalagi disini ada banyak orang yang jual pasir dan kerikil juga. Di rumah juga saya tidak ada kerja karena anak saya sudah menikah semua, “ ungkapnya.
Dalam sehari bekerja menghancurkan batu menjadi kerikil, Paulina cuma sanggup mendapatkan hasil sebanyak 4 kantong semen bekas. Saat disambangi Cendana News, pasir yang dimiliki Paulina sebanyak 12 kantong sementara batu kerikil sebanyak 13 kantong semen.
Paulina mengaku tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah, beras raskin juga tidak pernah di dapatnya. Banyak tetangganya yang mendapatkan bantuan sementara dirinya tidak. Paulina mengatakan, dirinya tidak pernah didata oleh ketua RT maupun aparat dari kelurahan untuk mendapatkan bantuan.
“Kalau pemerintah kasih saya bantuan saya terima tapi kalau disuruh minta saya tidak mau. Kami ini kan orang kecil takut nanti disalahkan dan pasti tidak didengar omongannya, “ tuturnya pelan.
Dalam sehari kadang pendapatan yang diterima sebanyak 100 ribu rupiah. Tapi uang sebanyak itu pun belum tentu didapat Paulina setiap hari.Kadang dalam sehari tidak ada yang membeli material batu dan pasir yang dijualnya. Saat hari raya Natal dan menjelang tahun baru, banyak orang yang membeli material untuk membangun atau memperbaiki rumah.
“Saya punya kebun jadi masih ada jagung dan ubi buat dijual dan uangnya dibelikan beras kalau tidak ada yang beli pasir dan kerikil, “ pungkasnya.