RABU, 27 APRIL 2016
LAMPUNG — Salah satu kontraktor dari konsorsium pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, PT Pembangunan Perumahan (PP) membangun jalan beton semen (rigid pavement) sebagai jalur alternatif selama proses pembangunan. Hal tersebut dikarenakan jalan utama digunakan untuk aktifitas kendaraan proyek pengangkut material.
![]() |
| Jalan Rigid |
“Selama ini masyarakat harus melewati jalan yang berlumpur karena tercampur dengan material penimbunan tol sehingga perusahaan PP membuat jalan baru untuk akses warga,”ungkap pengawas pengerjaan jalan yang dikerjakan oleh PT PP, Simorangkir kepada Cendana News, Rabu (27/4/2016).
Disebutkan, jalan rigid selebar dua meter di Dusun Kenyayan Desa Bakauheni dan Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni sudah bisa digunakan. Meski demikian, pengguna harus tetap berhati-hati karena jalan tersebut juga digunakan truk pengangkut dum truk pengangkut material tanah urukan serta alat berat.
“Kita siapkan petugas khusus sebagai pengatur lalu lintas saat aktifitas alat berat dan kendaraan pengangkut material melintas agar tidak terjadi kecelakaan lalu lintas atau hal hal tak diinginkan lainnya karena aktifitas pengerjaan tol masih terus berlangsung hingga saat ini, ”terangnya.
Belum Keselurahan Daerah
Jalan rigid yang telah digunakan oleh masyarakat Desa Kelawi justru tidak bisa dinikmati oleh warga Dusun Kenyayan Desa Bakauheni dan hingga saat ini masih menggunakan sarana jalan rusak. Kerusakan jalan akibat dilalui alat berat dan kendaraan dum truk pengangkut material tanah di ruas jalan tersebut hingga saat ini justru tidak diperbaiki oleh pengemabang.
Akibat tak ada jalan khusus, warga terpaksa melewati jalan penuh lumpur dan berlubang. Jalan Dusun Kenyayan tersebut merupakan akses warga beberapa dusun diantaranya Dusun Kenyayan, Dusun Pinang Gading serta akses wisata ke Tanjung Tua.

Warga Kenyayan, Hendrik sangat menyayangkan tidak adanya perhatian dari perusahaan pembangunan jalan tol. Selain tidak adanya akses jalan layak, warga juga harus menerima kenyataan dengan mendapat debu dari material jalan tol Sumatera dan saat hujan tiba, longsoran tanah timbunan tol masuk ke rumah warga.
“Kami tak masalah jalan tidak dibuat untuk akses kami, tapi soal banjir yang masuk ke rumah, kami tidak mendapatkan ganti rugi,”ujar Hendrik.
Berdasarkan pantauan, proses pengerjaan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera sejak proses groundbreaking hingga bulan April tahun ini telah memasuki dua belas bulan dengan proses pembersihan lahan (land clearing). Pengerjaan pembebasan lahan serta pembersihan lahan telah memasuki Desa Hatta yang berada sekitar 9 kilometer dari titik nol Bakauheni.(Henk Widi)