JUMAT, 22 APRIL 2016
Jurnalis : Bobby Andalan / Editor : Rustam / Sumber Foto : Bobby Andalan
BALI – Kerusuhan yang melanda Lapas Kelas IIA Kerobokan dipicu oleh penolakan 11 orang anggota Ormas Laskar Bali pelaku pembunuhan terhadap anggota Ormas Baladika Bali di Jalan Teuku Umar, Denpasar. Aksi pembunuhan di Jalan Teuku Umar Denpasar sendiri buntut dari kerusuhan di dalam Lapas Kerobokan yang menewaskan dua orang anggota Baladika Bali pada 17 Desember 2015.

Kepala Lapas Kerobokan, Slamet Prihantara menjelaskan, pihaknya menerima kedatangan 11 orang pelaku pembunuhan pada Kamis sore (21/4) sekira pukul 16.00 WITA. Pelimpahan itu, kata Slamet, tanpa dikoordinasikan sebelumnya.
“Pihak kejaksaan tidak melalui koordinasi tahu-tahu sudah ada di depan pintu yang 11 orang ini,” jelas Slamet, Jumat 22 April 2016. Padahal, kata dia, jauh sebelumnya pihaknya telah melayangkan surat kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar mengenai penolakan 11 orang tersebut.
“Kami sebelumnya sudah bersurat dan ini merupakan aspirasi dari anak-anak kami di dalam. Yang intinya, mereka tidak mau menerima orang-orang yang terlibat di Teuku Umar dan tersangka kerusuhan di lapas ini,” papar dia.
Hanya saja, hal itu tak diindahkan jaksa. 11 orang tersebut tetap dilimpahkan ke Lapas Kerobokan. “Tapi karena sudah seperti itu, kami tadi mediasi disaksikan aparat kepolisian dan TNI. Ada yang sudah oke. Tapi ada juga yang tidak setuju itu dua blok. Akhirnya situasi memanas,” beber Slamet.
Menurut Slamet, saat tengah berdialog, tiba-tiba ratusan narapidana dari Blok D dan H melakukan penyerangan terhadap 11 orang tersebut. “Tiba-tiba mereka menyerang ke depan (11 orang ini). Tapi tidak ada yang terluka, karena tidak terjadi benturan. Kita kunci mereka semalam, tapi rupanya pintu dirusak, hingga terjadi aksi pelemparan,” ulas Slamet.
Saat kerusuhan pecah, Slamet mengaku hal utama yang dilakukannya adalah menyelamatkan nyawa 11 orang tersebut dari amukan ratusan narapidana dari Blok D dan H. “Saya sendiri turun langsung di depan. Bersama Kapolresta Denpasar sudah berhasil kita amankan, tapi dalam perkembangannya seperti ini,” katanya.
“Saya serahkan semua ke pimpinan, nanti bagaimana evaluasinya. Tugas saya adalah menciptakan situasi kembali damai. Alasan tidak mau menerima apa, yang jelas saya tidak bisa menjawab. Tapi yang pasti mereka tidak mau menerima,” tambah Slamet.
Kini, 11 orang tersebut telah dititipkan di Polresta Denpasar. “Kita titipkan di Polresta demi keamanan dan situasi damai. Nanti rusuh lagi, Bali tidak aman lagi. Nanti kalau sudah ada putusan pengadilan, mereka akan ditaruh di mana, itu teknis,” ujarnya.