SELASA, 19 APRIL 2016
Jurnalis : Adista Pattisahusiwa / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Adista Pattisahusiwa
JAKARTA — Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Heri Gunawan mengatakan, posisi utang luar negeri Indonesia per Februari 2016 tumbuh 3,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 311,5 miliar dolar AS, dipicu oleh meningkatnya pembiayaan untuk jangka panjang. Utang Luar Negeri (ULN) jangka panjang, mencapai 273,2 miliar dolar AS hingga Februari 2016 atau tumbuh secara tahunan sebesar 5,8 persen.
![]() |
| Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Heri Gunawan |
Menurut heri, ULN jangka panjang memiliki porsi signifikan dalam komposisi utang Indonesia, yakni 87,7 persen dari total utang. Sementara ULN berjangka pendek turun 9,5 persen (yoy) menjadi 38,3 miliar dolar AS.
“Jika dirupiahkan, dengan asumsi 1 dollar sama dengan Rp13.000, angka itu mencapai sekitar Rp4.000 triliun, nilai itu sama dengan dua kali lipat dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN),”papar Heri di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (19/4/2016 ).
ULN yang nominalnya mencapai dua kali lipat APBN merupakan bukti pemerintah sudah tidak punya jalan lain menghidupkan perekonomian nasional selain berhutang. Tumbuhnya pembiayaan infrastruktur, namun tidak dibarengi dengan kebijakan meningkatkan daya beli patut dipertanyakan.
Disebutkan, yang lebih memprihatinkan, posisi ULN itu didominasi oleh utang berjangka panjang sebesar 87,7 persen. Utang berjangka panjang tersebut, itu tumbuh 5,8 persen dari tahun ke tahun. “Proporsi utang swasta diatas 50 persen dari total utang. Posisi seperti itu sangat berisiko terhadap perekonomian nasional,” paparnya
Heri menyampaikan, saat kinerja ekspor masih kendur, besaran ULN itu akan terus menggerus penerimaan ekspor. Bahkan, Lebih dari setengah penerimaan ekspor akan habis hanya untuk bayar utang.
“Berdasarkan Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan selama Januari -Maret 2016 volume ekspor tercatat melemah 8,54 persen menjadi 120,19 juta ton dari 131,42 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya,” Ungkapnya
Selain itu, penguatan harga sejumlah komoditas mentah di pasar internasional ternyata tak berhasil mendongkrak nilai ekspor. Permintaan di sejumlah negara importir juga terus melemah, sehingga membuat nilai komoditas turun lebih dalam.
Ketua DPP Partai Gerindra ini juga menambahkan, sektor keuangan Indonesia makin terpuruk dimana kepemilikannya di dominasi asing.
“Kedaulatan finansial juga sudah tidak bisa diselamatkan, karena belum dianggap aman dan menguntungkan. Kita makin terjepit pelan-pelan, tu pasti akan ganggu prestasi makro ekonomi,” jelasnya
Dikatakan, dampak menggunungnya ULN tersebut, membuat NKRI saat ini, akan menjadi beban bagi generasi penerus bangsa ini.
“Saya ingin bilang ke generasi muda sekarang, bahwa tidak ada waktu berbahagia lagi. Karena kalianlah yang akan mewarisi utang-utang itu,” tutupnya.