SELASA, 19 APRIL 2016
Penulis : Thowaf Zuharon / Editor : Gani Khair
Ketika Bung Agus Wijoyo, sebagai anak angkat dari Almarhum Jenderal Sutoyo (korban kebiadaban PKI), memimpin simposium PKI 1965 di Aryaduta, kita perlu mempertanyakan hakikat suci kedamaian lebaran dalam benak Gubernur Lemhanas tersebut. Kenapa ia malah mengorek-ngorek luka lama, atas nama Hak Asasi Manusia, menggiring dan memaksa aparat Negara Indonesia untuk meminta maaf kepada PKI? Ia justru berteriak mati-matian telah terjadi pelanggaran HAM pada 1965. Apakah sejak tahun 1945, tidak terjadi berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia? Padahal, begitu banyak nyawa dihilangkan juga oleh para anggota PKI.
Saya kira, jangan sampai bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur, nilai maaf memaafkan di dalam lebaran, kemudian memakai kacamata kuda dan melihat pelanggaran HAM, hanya terjadi pada tahun 1965 saja. Harus kita lihat secara utuh perjalanan sejarah bangsa ini sejak 1945, karena kita manusia yang masih punya akal dan hati nurani. Kecuali, kita adalah kuda yang matanya ditutupi kacamata kuda, dan hanya menunggu lecutan cambuk dari Pak Kusir.
Sungguh sangat disayangkan jika Bung Agus Wijoyo akan meniadakan keluhuran nilai maaf memaafkan di dalam budaya Lebaran yang telah turun temurun diwariskan oleh para Walisongo. Seluruh Walisongo, bisa jadi, tidak akan rela, jika budaya maaf memaafkan saat lebaran, diganti dengan penyelesaian meja hijau yang mengacu pada HAM, tapi belum tentu selaras dengan karakter dasar Bangsa Indonesia.
Kita tidak ingin, niatan luhur Bung Agus Wijoyo yang ingin membuat rekonsiliasi, tapi ternyata, malah justru menumpahkan ribuan liter bensin ke dalam api. Jangan sampai rekonsiliasi malah menjadi pemicu awal dari berbagai pertumpahan darah di berbagai sudut negeri. Sebab, kita bisa menyaksikan pernyataan Asvi Warman Adam di Simposium tersebut, yang justru berniat mencabut Tap MPRS XXV/1966 mengenai pelarangan ajaran komunisme yang bertentangan dengan nilai luhur Pancasila. Apakah kaum nasionalis Pancasilais dan kaum agama akan rela dengan niatan kusam dari Asvi?
Lebih baik, kita kembali kepada Lebaran. Betapa indahnya suasana lebaran yang kita jumpai setiap tahun bersama sanak handai taulan dengan saling maaf memaafkan. Islam kita di nusantara tercinta, selalu mengajari kita untuk saling memaafkan antara satu dengan lainnya, seberat apa pun kesalahan, dosa, pertikaian, ataupun permusuhan yang terjadi. Allah SWT pun Maha Pengampun kepada hambanya yang mau mengakui kesalahan. Sangat keterlaluan jika mahluk Tuhan tidak memelihara rasa maaf yang begitu indah.
Perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, tentunya tak luput dari berbagai kesalahan, dosa, pertikaian, permusuhan, pembunuhan, bahkan perang saudara. Sejak proklamasi 17 Agustus 1945, pertikaian dan pertumpahan darah antar saudara sebangsa, tidak terhindarkan. Baik itu dari kalangan nasionalis, agama, sosialis, bahkan para pemeluk komunis anti Tuhan yang bertentangan dengan Pancasila.
Menteri pertahanan RI pertama Otto Iskandar Dinata dipenggal kepalanya oleh Laskar Ubel-Ubel Hitam dari Partai Komunis Indonesia, pada Oktober 1945.
Kemudian, pertikaian antara pangreh praja bersama kyai-santri melawan PKI di Tegal pimpinan kelompok Kutil. Si Kutil lah yang memulai menyembelih para kyai, santri, dan pangreh praja. Pada tahun 1948, Musso mendirikan Republik Komunis di Madiun dan menyembelih banyak sekali kyai dan santri. Belum lagi sebelum 1965, banyak sekali umat islam yang menjadi korban kekejaman PKI, sehingga terjadi perang sipil yang meluas pasca 1 Oktober 1965.
Sudah terlalu banyak darah yang tumpah di negeri ini sejak awal kemerdekaan. Selayaknya, semua bisa saling memaafkan dan melupakan berbagai kesalahan di masa lalu melalui berbagai momentum lebaran setiap tahun. Jika ada sekelompok elemen bangsa yang masih tidak bisa memaafkan pertikaian itu, berarti sudah berniat akan meniadakan makna penting lebaran di dalam dirinya. Bukan tidak mungkin, elemen bangsa tersebut sedang meniadakan nilai kedamaian Islam dan Pancasila dalam dirinya.
Alangkah lebih indah, jika kita bisa Belajar Rekonsiliasi dari Keluarga Mbah Saryo Bandol PKI Madiun di setiap Lebaran. Berikut ini pelajaran indah tentang rekonsiliasi yang bisa kita ambil dari keluarga Mbah Saryo. Semoga bisa menjadi rumusan rekonsiliasi nasional.
Rekonsiliasi Ala Keluarga Mbah Saryo Setiap Lebaran
Siapa pun yang ingin berbicara tentang rekonsiliasi Indonesia, sebaiknya belajar kepada keluarga besar Mbah Saryo (gembong PKI Muso di Madiun). Tak luput, kepada siapa saja yang membaca catatan ini sebagai pelajaran berharga untuk merajut masa depan yang lebih baik. Pelajaran atas kejadian tragis yang telah menimpa keluarga Abu Hasyim (Bani Hasyim) di Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari Madiun.
Saat itu, Mbah Saryo jadi bandol (pimpinan) PKI di Cigrok, Kenongo Mulyo, Magetan, pada 1948. Saat itu, Mbah Saryo telah memimpin serangkaian pembantaian keji. Para santri, kyai, pamong praja, dibantai olehnya di sumur Cigrok. Dan yang menjadi daftar sasaran pembantaian adalah Kakek Buyut kawan saya Anab Afifi, yaitu Abu Hasyim dan putra tertuanya bernama Kyai Sayid.
Saat itu, Mbah Saryo mendatangi rumah Abu Hasyim bersama anak buahnya. Ia telah menyiram sekeliling rumah Abu Hasyim dengan bensin saat itu. Abu Hasyim diincar tidak ditemukan, karena sudah lari bersembunyi ke Desa Ngendut dan tinggal istrinya saja. Istri Abu hasyim saat itu dipaksa masuk PKI oleh adiknya sendiri, yaitu Mbah Saryo. Kalau tidak, kakaknya sendri akan dibunuh..
Keadaan pun berbalik ketika pasukan Siliwangi merangsek ke Madiun membasmi pasukan Musso yang telah melakukan pembantaian dan penyembelihan di mana-mana. Kisah hidup Mbah Saryo berakhir, karena dieksekusi oleh pasukan Siliwangi.
Kenyataan pahit ini membuat anak-anak Mbah Saryo ikut merasa menanggung beban dosa orang tuanya. Mereka terpukul dan takut. Untungnya, keluarga Abu Hasyim bukan pendendam. Anak-anak Mbah Saryo malah diterima dan diajak kembali kepada Islam.
Hingga saat ini, keluarga Mbah Saryo terus meminta maaf dan menyesal atas tindakan Mbah Saryo saat lebaran tiba. Mereka telah menjadi umat beragama yang menjalani segala ketentuan agamanya dengan baik.
Sejauh ini, tali silaturahmi keluarga Mbah Saryo dan Keluarga Abu Hasyim terus terjalin dengan baik.
Memaksa Pihak Lain Minta Maaf adalah Pengkhianatan Terhadap Lebaran!
Cerita-Cerita rekonsiliasi secara alamiah dalam aras kemanusiaan sudah dilakukan sejak dahulu dengan berbagai cara. Kita bisa melihat kisah nyata dari Muhammad Amir SH di Solo yang lolos dari ancaman pembantaian Gembong PKI bernama Atmo (tercantum di buku AAYD halaman 168). Yang menyelamatkan justru istri Atmo sendiri. Bahkan, Amir malah menyekolahkan anak-anaknya Atmo hingga perguruan tinggi. Hal itu juga dilakukan oleh para kyai dan santri di Blitar ketika mengadopsi seluruh anak PKI di Blitar Selatan.
Sungguh aneh tapi nyata, memang, jika ada seseorang atau sekelompok orang memaksa manusia lainnya untuk meminta maaf kepada dirinya. Seakan, permintaan maaf itu hukumnya menjadi wajib. Tapi, apakah yang dipaksa meminta maaf itu sudah jelas salah? Apakah yang memaksa orang lain meminta maaf sudah suci dari kesalahan dan dosa? Apakah si pemaksa puas dan merasa nyaman jika yang meminta maaf hanya berpura-pura? Seribu pertanyaan mungkin bisa mengemuka dalam persoalan ini.
Meminta maaf dan memaafkan, jika Bung Agus Wijoyo sepakat, adalah urusan ketulusan dan keikhlasan hati. Saling rela meminta maaf dan saling rela memaafkan, secara bersamaan. Sebuah proses dua arah. Jika belum rela, artinya masih ada kekecewaan ataupun dendam yang belum tersembuhkan.
Sungguh aneh tapi nyata, memang, jika ada manusia yang memaksa manusia lainnya untuk meminta maaf kepada dirinya. Boleh dikata, niatan aneh semacam ini pasti berangkat dari rasa tidak rela atau tidak ikhlas. Kenapa permintaan maaf harus dipaksakan? Apakah ini bentuk paham baru bernama diktatorisme permintaan maaf?
Ketika masih benci atau kecewa, para fasis bernama Mussolini dan Hitler lebih memilih membunuh, menyiksa, dan membantai orang atau golongan yang dibencinya. Anak-anak dan remaja bengal memilih berkelahi ataupun memukul kawan yang dibencinya, daripada memaksa orang lain meminta maaf. Mussolini, Hitler, dan remaja bengal, tak pernah memaksa orang lain meminta maaf kepada dirinya.
Bangsa Indonesia, khususnya yang muslim, memiliki tradisi yang terus lestari ketika masa lebaran tiba. Lebaran adalah kesempatan untuk saling meminta maaf dan saling menerima permintaan maaf. Tradisi itu telah berlangsung berabad-abad di Nusantara. Kata maaf, selalu menjadi kata yang dirindukan dan dirayakan setiap lebaran. Tak pernah ada paksaan.
Lebaran menjadi sangat indah lagi ketika ternyata, banyak umat non muslim pun ikut saling maaf dan memaafkan di saat lebaran. Tak jarang ketika lebaran, di televisi, tokoh non muslim atau pengusaha non muslim yang mengucap mohon maaf lahir dan batin. Bahkan, pemerintah ataupun negara Indonesia selalu memohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan yang terjadi di masa lalu maupun masa kini kepada seluruh warganya.
Sungguh aneh tapi nyata, memang, ketika kita semua mengetahui, bangsa ini memiliki perayaan lebaran setiap tahun, perayaan untuk saling maaf memaafkan, tapi ternyata, masih ada seseorang atau kelompok yang merasa kecewa, lalu memaksa kepada orang lain dan negara untuk meminta maaf kepada dirinya. Apakah setiap lebaran tiba, para pemaksa permintaan maaf ini tidak ikut berlebaran? Apakah dia tidak menerima lebaran sebagai momentum untuk saling maaf memaafkan?
Entah kenapa, dalam tulisan ini, kata maaf menjadi begitu rumit dan begitu panjang diuraikan. Kata maaf tiba-tiba menjadi sangat berbelit dalam perbincangan bangsa ini. Padahal, semua bisa disederhanakan di kala lebaran. Kenapa para pemaksa permintaan maaf itu mempersulit sesuatu yang sederhana? Bukankah akal yang sering kacau itu bisa disederhanakan dengan hati nurani yang ikhlas? Jika masih ada yang mempersoalkan maaf dan memaafkan, sebaiknya kita belajar dari sikap yang diambil keluarga besar Mbah Saryo saat lebaran tiba.
Jika cara-cara itu merupakan cara yang indah dan luhur, kenapa masih ada yang merasa perlu memaksa orang lain dan Negara untuk meminta maaf? Bukankah setiap lebaran, kita semua, juga Negara ataupun Pemerintah Indonesia, sudah selalu saling memaafkan atas seluruh kesalahan? Apa masih belum cukup?
Atas nama nilai luhur Bangsa Indonesia, Memaksa orang lain untuk Meminta Maaf, adalah pengkhianatan terhadap Lebaran! Jika memang masih belum cukup, sungguh aneh tapi nyata…
Jakarta, pertengahan April 2015

THOWAF ZUHARON
Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih (Sejarah Banjir Darah Para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI)
Lahir di Klaten, pada September 1982. Ibunya adalah keluarga santri Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Babat Klaten, sedangkah ayahnya dari keluarga santri Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Sejak kecil, telinganya telah mendengar kisah nyata dari Nenek dan Ibunya tentang kejamnya para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak kerabat dekat kakek-neneknya dari kalangan NU yang gugur, dibunuh dengan keji oleh para PKI, beberapa waktu sebelum meletus peristiwa Gestapu 1965. Kakeknya yang ada di Klaten, sebenarnya juga menjadi target pembunuhan para PKI sebelum 1965, tapi berhasil lolos. Buku ini (Ayat Ayat yang Disembelih) adalah dedikasinya untuk para keluarganya yang gugur dibunuh PKI. Sejak masih SMA, Thowaf Zuharon banyak berkecimpung di dunia riset, organisasi sosial, penulisan, dan bisnis. Ia banyak menulis Jurnalistik, Sastra, Artikel, dan berbagai genre penulisan lain di berbagai media dan buku. Berbagai penghargaan kepenulisan tingkat nasional pernah ia raih. Thowaf Zuharon berumah di facebook.com/thowafzuharon.