Setu Wiryorejo Pencari Fosil Purba di Sragen

SENIN, 19 APRIL 2016
Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : Rustam / Sumber Foto : Harun Alrosid
SOLO- Keberadaan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, menjadi ladang berkah tersendiri bagi warga sekitar. Banyak yang memanfaatkan keberadaan fosil manusia purba sebagai mata pencaharian sehari-hari. 
Setu Wiryorejo dan putranya menunjukkan piagam penghargaan yang diberikan pengelola Situs Manusia Purban, Sangiran karena menemukan fosil berharga.
Salah satunya adalah Setu Wiryorejo, warga Grogolan, Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Setu hampir setiap hari mencari fosil di sekitar tempat tinggalnya. Bagi pria 55 tahun itu, untuk membedakan fosil tulang ataupun kayu sudah tidak susah lagi, karena selain sudah mendapatkan sosialisasi pihak museum, juga telah puluhan tahun bergelut dengan fosil. Sederet hasil jerih payahnya pun telah banyak menyumbang Situs Manusia Purba, Sangiran yang mulai dibangun pada tahun 1984. 
“Sudah jadi kerjaan saya sehari-hari, sudah banyak yang saya temukan untuk museum. Ada fosil kepala banteng, kepala kerbau, ada juga fosil kura-kura,” ujar pria yang mengaku sudah 20 tahun mencari fosil saat ditemui Cendana News di rumahnya, Selasa  (19/4). 
Salah satu penemuan fosil terakhir yang diserahkan kepada museum Sangiran adalah Fosil tengkorak kepala purba jenis homo erektus, pada 6 Februari 2016 lalu. Penemuan manusia purba itu, terbaru sejak terakhir kali ditemukan pada tahun 1967. 
Menurutnya, penemuan Fosil Tengkorak Homo Erektus yang mirip dengan ‘Sangiran 4’ itu ditemukan tanpa sengaja di Sungai Bojong, Desa Manyarejo. Saat itu, dirinya tengah pulang dari berladang melihat ada yang mencurigakan di sungai. “Saya awalnya kaget, lantas saya ambil dan bersihkan dengan air, baru tahu kalau itu tulang tengkorak kepala,” terangnya. 
Selain di sungai, lanjut Setu Wiryorejo, fosil manusia purba maupun hewan purba banyak ditemukan saat tebing longsor. Saat terjadi longsor, banyak warga yang berlomba-lomba mencari fosil. Sebab, selama ini penemuan fosil yang diserahkan kepada museum akan mendapat imbalan, berupa uang jasa. Besarannya tergantung dengan seberapa penting fosil yang ditemukan. “Kadang dikasih Rp 500 ribu, ada juga yang sampai Rp 5 juta, tergantung fosilnya. Kalau seperti fosil kepala buaya purba dulu saya dikasih Rp 5 juta,” ceritanya. 
Sejak 2011, pengelola museum selain memberikan uang jasa penemuan, juga memberikan piagam penghargaan. Setidaknya terdapat 7 piagam penghargaan yang diterima bapak tiga anak tersebut. Piagam penghargaan juga diterima warga lain di kampung Gogolan, Plupuh. Hanya saja ada warga yang mengeluhkan pemberian uang jasa penemuan warga dinilai terlalu lama. 
“Banyak warga yang sudah dapat piagam penghargaan dari penemuan fosil. Tapi yang sering dikeluhkan, pihak pengelola museum terlalu lama memberikan uang kompensasinya,” kata  Wagimin warga lain. 
Menurutnya, warga banyak yang ikut membantu museum untuk mencari fosil yang berada di sekitar permukiman warga. Selain menjadi salah satu sumber pendapatan, warga sering kali memanfaatkan waktu longgar untuk berburu fosil. Seluruh fosil temuan warga diberikan kepada pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Selanjutnya, selang beberapa bulan, baru warga mendapat uang jasa atau uang kompensasi karena membantu mengembangkan situs. 
Lihat juga...