KAMIS, 14 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Warga Desa Merak Belantung, Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan mulai merasakan manfaat hutan mangrove di pantai yang berada di wilayah mereka. Selain dapat menahan laju abrasi dan serbuan ombak, mangrove juga melindungi perumahan warga yang berada di kawasan pinggir pantai dari hembusan angin laut, serta bernilai ekonomi bagi nelayan pesisir.
![]() |
| Budidaya Mangrove |
Hal itu dikemukakan Jumri, salah seorang warga Desa Merak Belantung yang mengelola salah satu pantai wisata di kawasan Merak Belantung yakni pantai Senja. Kawasan yang berada di sekitar grand elty Krakatau tersebut awalnya tak digunakan sebagai tempat wisata namun sebatas semak belukar yang selanjutnya ditata menjadi lokasi wisata lengkap dengan pantai dan pohon mangrove yang tumbuh subur.
Jumri, yang tinggal di Merak Belantung sekitar dua puluh lima tahun mengaku hutan mangrove yang ada di wilayah tersebut awalnya cukup banyak namun karena terdesak kebutuhan akan lahan pertanian dan tempat tinggal membuat warga menebangi sebagian. Akibatnya beberapa kawasan menjadi gersang dan saat musim angin barat hantaman angin dari laut langsung menerjang perumahan warga. Selain tidak hijau dan gersang warga juga semakin sulit mencari ikan, udang dan kepiting di wilayah tersebut.
“Keberadaan mangrove sudah memberikan manfaat besar bagi warga sekitar pantai namun karena kebutuhan akhirnya banyak yang dibabat namun karena sosialisasi dan penanaman mangrove kembali sebagian kini sudah menghijau dan ada yang masih dalam tahap penanaman kembali,” kata Jumri saat dijumpai Cendana News di pantai Senja, Kamis (14/4/2016).
Menurut Jumri, keberadaan mangrove di pesisir pantai membawa ketenangan bagi warga karena bisa melindungi perumahan dari embusan angin laut. Nilai lain yang bisa diperoleh warga adalah setiap air laut pasang, mereka bisa memanen kepiting bakau dalam jumlah besar. Warga bisa panen antara 2 – 3 kilogram per hari. Sesuai sifatnya, kepiting bakau selalu naik ke batang-batang mangrove.
Selain bernilai ekonomis bagi masyarakat manfaat lainnya dari hutan mangrove juga dikemukakan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Peduli Mangrove, Andini, yang peduli pada pelestarian mangrove di pesisir. Fungsi mangrove diantaranya menjaga garis pantai tetap stabil, melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi, menahan badai atau angin kencang dari laut, serta menahan hasil proses penimbunan lumpur.
“Ini memungkinkan terbentuknya lahan baru dan menjadi wilayah penyangga. Ia berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar dan mengolah limbah beracun, serta penghasil O2 dan penyerap CO2,” jelas Andini.
Lebih lanjut ia menjelaskan, mangrove juga memiliki fungsi biologik yang dapat menghasilkan bahan pelapukan sebagai pakan penting bagi plankton. Ini indikator bagi keberlanjutan rantai makanan, tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang, serta tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak burung dan satwa lainnya.
Sementara ditinjau dari fungsi ekonomik, kata Andini, hutan mangrove dapat menghasilkan manfaat kayu dan non kayu yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat baik untuk kayu bakar, bahan makanan, kerajinan, obat-obatan maupun kepariwisataan berbasis mangrove.
Selain lokasi hutan mangrove yang diberdayakan oleh masyarakat, penanaman mangrove juga digalakkan oleh tempat wisata Grand Elty Krakatoa yang melakukan penanaman ribuan bibit mangrove di satu kawasan konservasi khusus mangrove. Kawasan yang dikenal dengan kawasan Krakatoa Nirwana Resort menurut general managernya, Dwi Prasetyo, memiliki beberapa titik penanaman mangrove.
“Setiap ada pengunjung yang menginap ada satu kesempatan untuk menanam mangrove dan program ini akan rutin dilakukan agar kawasan ini tetap hijau,”ungkap Dwi Prasetyo.
Selain lahan khusus mangrove,menggandeng Perhimpunan Petani Lampung Selatan dan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, kawasan Krakatoa Nirwana Resort juga memiliki lokasi penanaman tanaman langka yang ada di Indonesia, kawasan arboretum yang digagas oleh Grand Elty diharapkan menjadi lokasi edukasi bagi mahasiswa atau wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut.
Selain digunakan untuk konservasi, wilayah Merak Belantung yang mendapat kesempatan sebagai lokasi bedah desa pesisir oleh TNI Angkatan Laut, Kementerian Sosial RI kini telah dijadikan desa wisata sehingga masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian alam. Sebagai sumber pemasukan warga menjadi pelaku usaha kreatif dengan menjajakan souvenir hasil pesisir pantai dan menyediakan jasa pemandu wisata dengan menyusuri sungai yang di kanan dan kiri dipenuhi hutan mangrove di kawasan yang memiliki banyak tempat wisata bahari tersebut.