Potret Keindahan, Keasrian, Serta Keagungan Tanah Jawa di Anjungan Provinsi Jawa Tengah TMII

JUMAT, 25 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Fadhlan Armey /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

TMII JAKARTA — Suasana Anjungan Provinsi Jawa tengah, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII),tersaji lengkap dan rapih, bentuk padepokan serta beberapa miniatur candi besar yang ada di tanah jawa menambah daya tarik pengunjung untuk mendekatinya.
 
 
?Miniatur Candi Borobudur di Anjungan Provinsi Jawa Tengah, TMII
Padepokan atau anjungan Provinsi Jawa tengah TMII diserahkan atas nama seluruh rakyat Jawa tengah oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa tengah Moenadi kepada Ibu Tien Soeharto selaku Ketua BP5 “Indonesia Indah” untuk diresmikan pada tanggal 22 Desember 1974.

Masuk melalui pintu gerbang utama, mata pengunjung akan tertambat kagum ke sisi kanan anjungan dengan sebuah miniatur menarik bernama Candi Borobudur yang terletak tepat di tengah hamparan kebun bunga. Candi Borobudur itu sendiri merupakan Candi Buddha berbentuk stupa yang merupakan warisan leluhur tanah Jawa di Magelang dan menjadi Candi Buddha terbesar di dunia.

Dari miniatur Candi Borobudur, pengunjung beranjak menuju Rumah Joglo Pangrawit Apitan, sebuah tempat pagelaran atau pertunjukkan seni budaya gamelan khas Jawa Tengah, yang lengkap dengan busana khas tradisional para seniman (niyogo). Dihiasi dengan penataan tempat duduk melingkar serta panggung tambahan yang ditempatkan tepat diatas kolam semakin menambah keunikan tempat tersebut.

Menyeberang dari rumah pagelaran seni, pengunjung melewati hamparan kebun bunga, di kiri dan kanan jalan setapak untuk kemudian membawa mereka mendapati kembali sebuah replika candi bersejarah, yakni Candi Prambanan atau disebut Loro Jonggrang yang adalah Candi Hindu di daerah Desa Prambanan, Sleman.

Letak miniatur Candi Prambanan berada tepat berhadapan dengan rumah joglo tajuk amangkurat dengan tiang utama bernama “Soko Guru” sebagai simbol keserasian serta kemesraan dalam rumah tangga sehingga tak heran lagi bangunan ini dijadikan sebagai ruang kantor pengelola dan promosi anjungan Provinsi Jawa tengah.

Harapan besar rumah Joglo tajuk amangkurat tersebut adalah agar kedepannya pengelola bisa mengadaptasikan, kesan keserasian serta kemesraan rumah tangga yang dimiliki bangunan tersebut, dalam usahanya mempererat keharmonisan berbagai daerah dengan perbedaan seni, budaya yang ada di provinsi Jawa tengah. Disampingnya juga menempel Sasono Suko berupa bangunan adat sebagai tempat menerima tamu atau mengadakan pertemuan.

Replika Rumah Adat tradisional Kudus, berdiri kokoh di depan Sasono suko. Rumah adat ini aslinya dibuat dari kayu jati dengan atap model ‘pencu’ (Joglo Pencu). Rumah adat tradisional yang hanya memiliki satu pintu masuk ini, merupakan perpaduan antara Agama Islam dan Hindu dengan Seni budaya Tionghoa dan Eropa.

Di depan Joglo Pencu terletak gagah miniatur Candi Mendut yang merupakan Candi Buddha di daerah Magelang. Didalamnya berisi patung Buddha berukuran besar, halus pahatannya, serta memiliki nilai estetika tinggi. Lokasi asli candi ini hanya sekitar 2 kilometer arah timur laut dari Candi Borobudur.

Disisi miniatur Candi Mendut terdapat lagi Rumah tradisional khas pedesaan Jawa tengah bernama ‘Doro Gepak’ yang bentuknya memiliki kemiripan dengan hewan burung dara (burung doro). Fungsi asli rumah tradisional ini adalah sebagai ruang makan sekaligus dapur. Di anjungan provinsi Jawa tengah, Doro Gepak dijadikan tempat penjualan cinderamata khas provinsi Jawa tengah.

Setelah puas mengitari bagian sayap anjungan, maka sampailah pengunjung di bangunan utama dari Padepokan anjungan provinsi Jawa tengah yaitu sebuah bentuk replika Pendopo Agung Surakarta (Istana Mangkunegara) sebagai salah satu pusat kebudayaan tanah Jawa. 

?Jalan menuju replika Pendopo agung surakarta (istana Mangkunegara) sebagai bangunan utama anjungan provinsi Jawa tengah TMII
Penampilannya anggun dan megah, ditopang empat tiang penyangga utama (soko guru), dua belas soko penanggap, serta dua puluh soko penitih. Ruangan utama anjungan Jawa tengah ini kerap dipergunakan sebagai tempat peralatan kesenian Gamelan Jawa demi menjaga suasana asli pendopo yang mengedepankan sebuah keagungan akan budaya kedaerahan tanah Jawa.

Salah satu daya tarik ruang dalam pendopo agung adalah miniatur beberapa peninggalan sejarah dan budaya Jawa tengah, seperti miniatur Candi Bima dan Candi Arjuna yang aslinya terletak di kawasan dataran tinggi dieng, Jawa tengah.

Berakhirnya era keemasan kerajaan Hindu dan Buddha di tanah Jawa, dilanjutkan dengan masa kejayaan kerajaan dan kesultanan Islam. Salah satu peninggalan bersejarah dari Kabupaten Demak diabadikan anjungan provinsi Jawa tengah dalam bentuk miniatur Masjid Agung Demak. Masjid yang didirikan Raden Patah ini dipercaya masyarakat sebagai tempat berkumpulnya para Wali (Wali Songo) dalam misi penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Selain itu, miniatur Masjid Menara Kudus juga tidak kalah menarik untuk diabadikan bentuk replikanya. Masjid unik Peninggalan Sunan Kudus ini memiliki menara depan berbentuk Candi Hindu.

Pengunjung dapat menemukan diorama kendaraan tradisional rakyat Kudus, Jawa tengah yakni Dokar Kerangkeng tepat disisi kanan pendopo agung. Searah dengan Dokar Kerangkeng, maka diujung sisi kiri terletak diorama kendaraan tradisional Surakarata, Jawa tengah yaitu Andong. Kedua kendaraan ini memiliki bentuk dan fungsi yang sama, namun kendaraan dokar Kudus memiliki sedikit perbedaan karena menggunakan kerangkeng di sisi kanan dan kirinya. Hal inilah kiranya asal mula munculnya nama Dokar Kerangkeng.

Bagian tengah Pendopo Agung merupakan bagian yang membuat pengunjung seakan merasakan bagaimana suasana pendopo zaman kesultanan yang penuh dengan etika khas adat Jawa. Hiasan lampu kristal besar yang memayungi penataan rapih dari peralatan musik gamelan jawa membuat pengunjung semakin terpesona. Bagian belakang Pendopo agung merupakan tempat pameran diorama pakaian adat tradisional Jawa Tengah. Mulai dari pakaian adat daerah Klaten, Pati, Magelang, Demak, Banyumas, Batang, Temanggung, Sukoharjo, Brebes, Purworejo, Pekalongan, Kudus, juga busana pengantin daerah Surakarta.

Berbagai kerajinan tangan khas Jawa Tengah juga turut dipamerkan pihak pengelola anjungan, dari mulai kerajinan wayang kulit, ukiran kayu, ornamen berbahan tembaga dan kuningan, serta replika-replika benda pusaka seperti keris, tombak, berikut warisan leluhur berupa cara membuat Batik.

?Diorama ‘Andong’, kendaraan khas daerah Surakarta? di anjungan Jawa Tengah, TMII

Hasil kerajinan masyarakat Jawa tengah lainnya dalam bentuk tempat lilin berbahan kuningan dari daerah Juwana, vas bunga serta kendi khas Boyolali yang terbuat dari tembaga, vas dan pot bunga khas Banjarnegara berbahan tanah liat, dan wayang krucil dari Blora turut menambah keragaman pameran benda seni sekaligus budaya di anjungan Provinsi Jawa Tengah TMII.

Pohon pisang kipas di area anjungan merupakan salah satu wujud penghijauan yang dilakukan pengelola anjungan Jawa tengah, disamping pelestarian aneka hewan ayam, seperti ayam bekisar, ayam cemani, ayam walik, dan jenis ayam khas tanah Jawa lainnya. 

Mengedepankan keasrian dan keindahan adalah hal utama yang menjadi perhatian anjungan provinsi Jawa tengah TMII. Disamping itu, penataan anjungan yang dipenuhi taman bunga serta tatanan padang rumput hijau semakin membuat pengunjung merasa kerasan untuk berlama-lama di area anjungan provinsi Jawa tengah TMII.

Lihat juga...