Pesta Rakyat di Kemusuk, Berkah Bagi Ribuan Warga dan Ratusan Pedagang

SELASA, 1 MARET 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto : Koko Triarko

YOGYAKARTA – Ribuan orang tumpah ruah di Komplek Monumen Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk Lor, Argomulyo, Godean, Sleman, Yogyakarta, Selasa (1/3/2016), malam. Mereka datang menyerbu beragam menu makanan gratis yang disediakan dalam rangka memperingati SO 1 Maret 1949 dan 3 Tahun Berdirinya Monumen Soeharto.


Beragam menu makan terdiri dari bakmi godog (rebus), goreng, bakso, sate ayam, disediakan oleh keluarga besar Pak Harto dalam pesta rakyat makan gratis bersama memperingati SO 1 Maret 1949 dan 3 Tahun Berdirinya Monumen Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk. Ribuan warga dengan penuh semangat namun sabar saling bergantian memesan makanan kesukaannya.

Sebanyak 100 pedagang beragam makanan sudah menyiapkan dagangannya sejak sore. Mereka sengaja menambah jumlah porsi dagangannya, karena dalam pesta rakyat itu dipastikan dagangannya akan diserbu hingga ludes. Tentu saja, pesta rakyat itu juga menjadi berkah bagi para pedagang, karena dalam setiap harinya tidak selalu habis dagangannya.

Imama (26) dan Siskaningrum (27), pedagang sate ayam asal Madura mengaku sangat senang dengan adanya pesta rakyat. Mereka pun sengaja menyediakan 200 porsi sate ayam yang menghabiskan 50 Kilogram ayam. Harga satu porsi sate ayamnya dijual seharga Rp. 14.000. Imama biasa berdagang sate ayam di kawasan Jalan Godean, Sleman, Yogyakarta.

Setiap harinya, ia dengan dibantu tiga orang tenaga kerja yang masih kerabat hanya menyediakan sate ayam sebanyak 30 kg. Namun dalam pesta rakyat ini, Imama dibantu 10 orang kerabatnya agar tidak keteteran melayani warga.

Imama yang sudah berjualan sate ayam di Yogyakarta sejak tahun 1985 secara turun temurun mengaku sangat senang dagangannya diborong dalam pesta rakyat tersebut. Ia pun berterimakasih dan berharap keadaan sekarang bisa seperti di zaman Pak Harto.


“Dulu zaman Pak Harto cari uang mudah. Semua harga kebutuhan stabil. Tidak seperti sekarang, naik turun bikin susah”, cetus Imama.


Tak hanya Imama, pedagang angkringan yang biasa berjualan di kawasan desa Argomulyo, Sukardi (49) juga merasa senang dagangannya bisa diborong dalam acara pesta rakyat ini. Ia juga mengaku sedikit menambah jumlah dagangannya. Pun demikian pula dengan Ngatijo (56), pedagang bakmi jawa yang biasa mangkal di Jalan Godean, Sleman, Yogyakarta. Dalam pesta rakyat ini ia menyediakan 100 porsi bakmi jawa. Biasanya, ia menjual bakmi jawa buatannya seharga Rp. 12.000 satu porsi.

Ngatijo yang asli Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta dan sudah berjualan sejak tahun 1985 juga mencatat, di zaman Pak Harto mencari rejeki lebih mudah. Karena itu, ia berharap para pemimpin sekarang ini bisa mengembalikan situasi seperti di zaman Pak Harto.

“Cari uang mudah. Apa-apa murah dan aman”, pungkasnya. 

Lihat juga...