SELASA, 15 MARET 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : Fadhlan Armey / Sumber foto: Agus Nurchaliq
MALANG — Puluhan mahasiswa dan pekerja sosial yang tergabung dalam Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) menggelar aksi simpatik dalam rangka memperingati Hari Pekerja Sosial Sedunia di Bundaran Jalan Veteran Kota Malang, tepatnya di depan gerbang masuk Universitas Brawijaya, Selasa (15/3/2016).
![]() |
| Aksi simpatik |
Ketua IPSPI Jawa Timur, Lutfi. J. Kurniawan menjelaskan, tujuan dari aksi kali ini adalah untuk menjelaskan kepada publik, mengenai profesi pekerja sosial yang selama ini hanya dipandang sebelah mata, serta memberikan pesan kepada pemerintah, untuk dapat memberikan perlindungan kepada 26 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
“Adapun yang termasuk kedalam 26 PMKS tersebut diantaranya yaitu anak terlantar, anak jalanan, anak yang memiliki cacat fisik, warga lanjut usia yang terlantar, tunasusila, gelandangan, pengemis, pemulung, penyandang disabilitas, korban kekerasan dan masih banyak lagi lainnya,”jelasnya kepada Cendana News, Selasa (15/3/2016).
![]() |
| Ketua IPSPI Jawa Timur, Lutfi. J. Kurniawan |
Menurutnya, selama ini pemerintah tidak memberikan kebijakan yang pasti dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada PMKS. Politik anggaran yang ada di Jawa Timur lebih besar digunakan untuk meningkatkan kapasitas anggota parlemen dari pada digunakan untuk memberikan perlindungan kepada PMKS.
“Selama ini anggaran pemerintah yang diberikan untuk PMKS ini tidak sampai lima persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Jawa Timur,”ungkapnya.
Melalui aksi simpatik ini, Lutfi ingin merubah persepsi pemerintah sekaligus mengingatkan agar pemerintah beserta jajarannya tidak menggunakan kekerasan dalam menangani PMKS.
“Contohnya saja, anak jalanan yang dianggap mengotori jalanan karena mengganggu keindahan kota sehingga harus ditangani dengan mengerahkan Satuan Polisi Pamong Praja yang ujung-ujungnya melakukan tindak kekerasan. Ini kan persepsi yang salah,”ujarnya.
Kami juga menuntut pemerintah untuk menyediakan fasilitas dan akses yang mudah bagi penyandang disabilitas.
“Di Jawa Timur, khususnya di Kota Malang, tidak ada instansi pemerintah yang memberikan akses mudah bagi penyandang disabilitas. Misalnya saja jalan untuk bisa dilalui penyandang cacat fisik yang harus menggunakan kursi roda, di sini tidak ada padahal mereka juga merupakan bagian dari Warga Negara,”terangnya.

Sementara itu menurut Lutfi, aksi simpatik ini tidak hanya di gelar di Kota Malang saja tetapi juga diadakan di beberapa daerah di Jawa Timur seperti di Surabaya, Nganjuk, Madiun, Jember dan juga Madura.
