SELASA, 15 MARET 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Pengajar di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), Mayjen (Purn) Issantoso menegaskan, jika kontroversi Supersemar hanya dimunculkan oleh mereka yang tidak senang dengan Pak Harto. Namun kontroversi itu pun dinilainya tidak sampai mengancam keutuhan NKRI. Karena itu, pemerintah belum perlu mengambil tindakan apa pun.
![]() |
| 50 Tahun Supersemar |
“Selama tidak menimbulkan bibit perpecahan, pemerintah belum akan mengambil langkah tegas. Lemhanas juga memiliki konsep sendiri untuk menjaga keutuhan NKRI”, jelas Mayjen (Purn) Issanto, yang juga merupakan mantan ajudan Pak Harto, saat ditemui usai Diskusi Nasional membahas Implikasi Supersemar Bagi Peradaban Indonesia, di Gedung Bulaksumur, University Club (UC) Univeristas Gajah Mada Yogyakarta, Selasa (15/3/2016).
Menurut Issanto, banyak pihak mengatakan, Supersemar itu hanya diada-adakan dan bahkan dianggap kudeta. Padahal, Supersemar itu murni dibuat oleh Presiden Soekarno dan diberikan kepada Soeharto, untuk memulihkan situasi sosial dan politik saat itu.
Dengan gugurnya Jenderal Ahmad Yani dalam peristiwa penculikan G30S/PKI, kata Issantoso, praktis tidak ada lagi tokoh selain Soeharto yang bisa ditunjuk untuk memulihkan situasi.
Maka, saat ini memang perlu ada seseorang yang berani mengambil langkah strategis, untuk membenahi berbagai persoalan bangsa sekarang. Sementara itu, berkait dengan kontroversi Supersemar, hal itu tak menganggu stabilitas dan tidak menimbulkan bibit perpecahan bangsa.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kajian Citra Bangsa, Jenderal (Purn) Lukman yang hadir pula dalam diskusi nasional, menyayangkan masih adanya pro-kontra terkait Supersemar. Padahal, Supersemar sudah diakui keabsahan dan kebenarannya oleh MPR dan ada undang-undangnya. Lukman menyayangkan, bahwa selama ini sejarah Supersemar dipelajari secara sepenggal-penggal, sehingga menyesatkan.
Dalam Diskusi Nasional membahas Implikasi Supersemar Bagi Peradaban Indonesia, juga dipamerkan 50 Inisiatif Pak Harto, yang telah berhasil meletakkan pondasi dasar peradaban maju bangsa Indonesia pasca Orde Lama. Diantara 50 inisiatif Pak Harto yang ditulis oleh seorang penulis buku, Mahpudi, MT, itu adalah inisiatif Pak Harto untuk kembali aktif di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Membubarkan PKI dan Melarang Komunisme, Menguatkan Koperasi sebagai Pilar Ekonomi, Menghormati Pahlawan Trikora dengan Beasiswa dan seterusnya.
![]() |
| Foto bersama |
Acara diskusi nasional itu juga disertai pembacaan petisi atau pernyataan sikap Keluarga Mahasiswa Dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMAPBS) Yogyakarta, yang terdiri dari sejumlah mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Petisi yang dibacakan oleh Ketua KMAPBS UIN SUKA Yogyakarta, Adi Supriyadi Fahrezi menyatakan, agar dibuka kembali penyaluran Beasiswa Supersemar, meminta pemerintah lebih peduli dengan nasib mahasiswa berprestasi yang kurang mampu, meminta pemerintah melakukan tindakan preventif terhadap pihak-pihak yang berupaya untuk melemahkan dan menciderai semangat belajar anak Indonesia serta meminta para pejabat tidak lupa akan cita-cita luhur pendiri bangsa yakni turut aktif mencerdaskan bangsa.
Setelah dibacakan di haapan peserta diskusi, naskah petisi kemudian diaerahkan kepada Sekretaris Yayasan Supersemar. Tampak hadir pula dalam acara tersebut, salah satu kerabat Soeharto, yakni Soeharjo Soebardi.
