MINGGU, 13 MARET 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary
MAUMERE — Hawa panas tidak terlalu menyengat saat memasuki wilayah Nita. Menepati janji, Minggu ( 13/3/2016) Cendana News bertandang ke markas balai seni Orkestra Satu Sikka yang berada di jalan Manuwait desa Riit kecamatan Nita kabupaten Sikka. Sebuah rumah tua nan asri setengah tembok berdinding bambu dianyam motif segitiga dan segi empat bertalian serasi berpadu tembok bercat putih kombinasi cokelat.
![]() |
| Emil Abong, pendiri Orkestra Satu Sikka |
Di samping rumah terdapat sebuah ruangan yang dipakai meletakan beragam alat musik. Terdapat juga sebuah studio rekaman sederhana di dalamnya dengan dua buah komputer di depannya. Seraya berceritera Emil mendemostrasikan permainan berbagai alat musik tradisional miliknya untuk dinikmati Cendana News.
Sebuah Perburuan
Membesarkan Orkestra Satu Sikka dikisahkan Emil Abong, sang pendirinya ibarat sebuah pepatah “Berburu ke padang gurun dapat burung bersuara merdu. Jika anda hendak pintar rajinlah belajar. Belajar untuk mencintai, belajar untuk menghargai dan belajar untuk menjadi besar”. Pepatah itulah dikatakan Emil memotivasi dirinya untuk terus berkreasi, menjadi besar dan terbaik.
“Berburu adalah sebuah pengorbanan apalagi di sebuah padang gurun yang sangat luas, kita harus mengeluarkan segala kemampuan. Dan jika anda ingin mendapatkan sesuatu anda harus berkonsentrasi penuh, meluangkan segala energi anda, pikiran anda untuk mencapai sesuatu yang baik. Untuk itu maka anda harus belajar,”pesan lelaki kelahiran Maumere 9 Mei 1980.
| Personil dan alat musik tradisional yang dimainkan Orkestra Satu Sikka saat pementasan |
Selama memperdalam ilmu di Denpasar dan beberapa kota di Jawa, Emil belajar dari kondisi lingkungan sekitar dimana banyak aktifitas masyarakat di bidang seni khusunya musik tradisional, dimana mereka bisa mempertunjukan dan mendapatan penghasilan luar biasa dari kegiatan seni budaya. Sangat disayangkan kenapa di Sikka tutur Emil belum ada yang memikirkannya. Sejauh ini dirinya melihat rata – rata memang ada aktifitas di sanggar – sanggar tapi belum menunjukan sesuatu yang beda.
Setelah menyelesaikan studi tahun 2008, sarjana Akuntansi ini kembali ke Sikka dan mulai merancang orkestra yang terdiri dari seluruh alat musik tradisional. Awalnya sebut ayah satu orang anak ini, dirinya membuat desain musik dari recording. Alat–alat musik yang dipergunakan sebut Emil berasal dari sanggar musik ayahnya. Longginus Abong ayah Emil sendiri juga sebagai pelaku seni musik tradisional dan memiliki grup Raka Nian yang artinya penjelajah.
Suami dari Rosalia Rosita ini menyebutkan, sanggar musik milik ayahnya juga mempunyai konsep yang sama dengan kebanyakan sanggar musik yang ada di kabupaten Sikka. Seperti yang masyarakat saksikan selama ini, permainan asamble musik tradisional lebih banyak dimainkan secara terpisah. Ini yang disayangkan Emil karena jika semua alat musik dimainkan bersamaan dalam sebuah kolaborasi, tentu akan sangat menarik.
“ Kita punya keanekaragaman asamble yang luar biasa, cukup kaya tapi sayang tidak ada kreatifitas bagaimana mengembangkan itu menjadi suatu hal yang baru dan unik tanpa kita meninggalkan originalitas musik tradisional. Kita tetap mempertahankan keaslihan permainannya hanya bagaimana kita mengembangkannya menjadi sebuah kolaborasi yang utuh, “ paparnya.
Mau Belajar
Setelah mendapatkan hasil recording yang cukup baik, bulan November 2008 Emil memanggil teman teman musisi di sikka, diantaranya Nyong Franko, Roy Brechmans, Aris Ngamang dan lainnya karena dirinya belum mempunyai personil tetap. Para musisi ini juga kata Emil sifatnya hanya membantu sebab mereka juga punya sanggar,.
Dengan kondisi yang ada lelaki 35 tahun ini mulai berpikir untuk melatih teman – teman yang ada di Nita, sekitar tempat tinggalnya. Emil akhirnya berhasil mengumpulkan 12 orang, baik yang masih bersekolah, yang sudah kerja maupun yang belum bekerja. Dalam merekrut pemain music dirinya berpatokan bahwa pemusik yang direkrut harus mempunyai potensi dan dan kemauan.
“Orang yang saya rekrut harus bisa belajar menghargai, belajar untuk mengenal, belajar untuk mencintai dan belajar untuk menjadi bisa. Percuma juga kalau kita merekrut orang yang tidak mempunyai visi dan misi yang sama, yang interest dan mau bekerja sama,”ungkapnya.
Setelah meminta restu dari orang tua, Emil bergerak cepat mengidentifikasi dan mengumpulkan alat musik tradisional Sikka pelan – pelan hingga komplit.
Menurut Paulus Jawa, pembuat alat musik tradisional dan pemain musik di Orkestra Satu Sikka yang ditemui Cendana News di balai seni markas kelompok ini di hari yang sama, dirinya diminta Emil membuat beberapa alat musik tradisional dengan mencontoh alat musik yang asli. Dari usaha yang dilakukan, Orkestra Satu Sikka kini boleh dikatakan memiliki alat musik yang tradisional yang lengkap.
Gong Waning atau gong dan gendang yang dimiliki kelompok ini terdiri dari 4 Gendang, yakni Gendang Anak, Gendang Dodor, Gendang Loran dan Gendang Inang. Sementara untuk gongnya, bisa dimainkan 5 hingga 7. Juga terdapat Klekor Gedang, Klekor ( suling ) Hanuan, Klekor Solo, Klekor Lunung, suling yang bisa dimainkan lebih dari satu orang, bisa 2 bisa 4 untuk suara Sopran, Alto dan Tenor,
Terus tambahannya ada Sora, Leke, Lago Ukar, Letor dari kayu Deno, Letor dari Bambu Petung, Leru Petung yang biasa dimainkan petani saat menjaga tanaman di kebun, Juk dan Ukulele. Juga tersedia Gambus, Stream Bas, bas dengan bodi utuh dari pahatan pohon Rita dan Bola Uta, 3 Bomber Dom, bas, sopran dan alto, serta Korak dari batok kelapa.

Menjelajah
Dengan jumlah personil 15 orang dan 6 penari Emil mencoba menggarap konsep pertujukan dimana penarinya juga bermain musik seraya menari. Dirinya pernah menggarap sebuah pertunjukan cukup spektakuler “Raka Nian“ artinya penjelajah. Berdasarkan cerita sejarah di Sikka dimana jaman dahulu, terdapat muda-mudi mencari daerah baru, lahan garapan baru dengan berjalan membawa bekal. Perempuan biasanya bawa Liung ( bakul ) sedangkan laki – laki bawa Kata ( bakul ) yang biasanya diisi bekal.
Pentas kecil- ecilan ungkap Paulus sudah sering dilakukan di Sikka, Bajawa, Ende, Kupang dan Belu di propinsi NTT.
“Yang saya anggap perdana dan eksklusif pemerintah Sikka menunjuk kami secara khusus saat pekan tani dan nelayan se NTT di Nita, bertempat di gedung Suber Huter. Itu pentas besar dan perdana yang sangat menakjubkan dan bagi saya ini sebuah penampilan yang spektakuler disaksikan semua pejabat propinsi dan seluruh kabupaten di NTT, “ terang Emil.
Di luar NTT Orkestra Satu Sikka sudah unjuk kebolehan di Yogyakarta, DKI Jakarta. Untuk Denpasar kelompok ini sering berpentas. Di mancanegara, Australia jadi langganan karena ada teman yang sering meminta berpentas, juga di beberapa negara lainnya. Bulan Desember 2014 dirinya juga tampil di Cina selama seminggu dan dua hari di Singapura. Pernah ada teman dari gorup TV Chili dan TV Selandia Baru yang datang belajar musik di sanggar ini dan membuat rekaman.
Terbaik
Penghargaan Penata Musik terbaik dari kementrian pariwisata tahun 2013 tahun merupakan prestasi terbaik tingkat nasional saat festifal musik tradisonal dari seluruh provinsi di Indonesia yang digelar di TIM Jakarta. Di tingkat propinsi Orkestra Satu Sikka langganan juara sehingga Emil enggan mengikuti lagi dan memberi kesempatan serta menghargai yang lain.
“ Kalau di NTT saat festival apapun kami cukup disegani, sebab ketika kami hadir peserta lain selalu tanya dari Sikka ikut tidak. Kreatifitas dan dukungan berbagai alat musik mereka anggap itu kelebihan kami dan sulit untuk disaingi kecuali jurinya kurang obyektif dan dia melihat mungkin ada kepentingan lain,“ tuturnya.
Selama menekuni musik tradisonal Emil sering mendapatkan kesempatan – kesempatan untuk tampil di event – event besar dan itu menurutnya bagian dari sukacita, karena tidak datang setiap waktu dan bagi setiap orang. Dukanya tutur Emil, selama mengawali berkarya, kelompok mereka belum mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Kalau mungkin ada sesuatu yang harus diberikan pintanya, berikanlah sebagai bentuk kontribusi untuk memotivasi, untuk belajar menjaga dan melestarikan budaya Sikka.
“ Instansi terkait lebih banyak tinggal diam, padahal ini kan potensi yang harus dijaga kalau baik ya harus didukung, bukan hanya materil tapi moril. Yang saya takutkan ada biaya tapi saya tidak tahu karena tidak menerima. Tapi kami sejauh ini enjoy saja, It’s oke, no problem bagi saya karena kami juga mempunyai relasi,“ ungkapnya.
Dikatakan Emil dirinya tidak tinggal diam dan berniat akan mengkolaborasikan bukan saja musik di NTT tapi dengan musik tradisional lain di Indonesia dan membuat sebuah orkestra alat dengan alat musik tradisional.
“Itulah cita cita dan impian saya, mudah mudahan Tuhan mendukung dan merestui apa yang baik yang saya lakukan,” harap sarjana Akuntansi ini.

Paulus pun tak lupa menyampaikan rasa bangganya melihat alat musik yang dianggap sampah dan tak berguna ternyata ada guna tapi manfaatnya besar setelah dimainkan dalam sebuah orkestra. Paulus pun memutuskan lebih baik bekerja sama dengan anak – anak muda tersebut untuk menghidupkan alat musik tradisioanal Sikka.
“ Saya sampaikan supaya mereka tekuni bermain alat musik tradisional ini dan saya yakin mereka bisa berhasil. Hal ini sudah terbukti dan saya yakin mimpi kami untuk go internasional sebentar lagi akan terwujud “ pungkas Paulus mengakiri obrolan.