LAMPUNG — Perayaan Hari Raya Paskah kebangkitan Yesus Kristus umat Katolik Lampung dirayakan dengan sangat sederhana. Ratusan umat dari sejumlah wilayah merayakan di kapel kecil atau gereja yang masih terbuat dari geribik bambu dan sebagian kayu bangunan yang hampir rusak digerogoti ngengat.
Perayaan Paskah di Gereja
Meski merayakan di gereja sederhana, namun ratusan umat Katolik dari stasi Kalianda, stasi Pasuruan, stasi Sukabakti dan beberapa kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan terlihat memadati gereja berukuran 6×9 meter tersebut. Sebagian umat harus duduk di luarmenggunakan kursi plastik. Jendela jendela dibuka agar umat yang berada di luar bisa mengikuti Misa Paskah di dalam gereja.
“Kita memang belum memiliki gereja permanen namun tetap masih bisa merayakan peribadatan pada hari biasa maupun hari raya,”ungkap Yohanes salah satu umat Katolik di Kalianda Lampung Selatan, Minggu (27/3/2016)
Kesederhanaan tersebut menurut Yohanes tidak mengurangi kekhidmatan umat untuk merayakan Hari Raya Paskah kebangkitan Yesus Kristus yang merupakan puncak liturgi Gereja Katolik sepanjang tahun.
Pemimpin Misa, Pastor Wolfram Safari,Pr yang merupakan pastor pembantu unit Pastoral Bakauheni kembali mengingatkan umat Katolik dalam homilinya untuk mencintai kehidupan seperti Allah mencintai umat-Nya.
Ia bahkan kembali membacakan Surat Gembala Paskah dari Uskup Keuskupan Sufragan Tanjungkarang Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Surat gembala Paskah tahun 2016 mengambil tema: Kerahiman Allah Menghidupkan Kematian Kita.
“Surat gembala Paskah tahun ini menyoroti panggilan dan tanggungjawab manusia sampai selesai dan jangan mewariskan tanggungjawab kita kepada orang lain,”ungkap Pastor Wolfram dalam homilinya.
Ia mengambil kisah penciptaan yang berlangsung selama enam hari sampai selesai. Meski sudah selesai namun manusia diajak terus bekerja untuk mengusahakan kehidupan sebagai manusia.
Romo Wolfram juga mengungkapkan, layaknya membangun bangunan gereja, sentuhan akhir menjadi sangat penting demikian juga dalam kehidupan manusia. Seperti halnya Yesus Kristus yang selalu menyertai murid muridNya sampai akhir zaman.
“Kristus tetap mengutus Roh Kudus bagi manusia sebagai bentuk bahwa Allah tak pernah berhenti mencintai dan menyelamatkan manusia”ungkapnya.
Selain membacakan Surat Gembala Paskah, gereja juga mengajak untuk memperhatikan ajakan gereja dalam sidang agung gereja Katolik Indonesia (SAGKI) diantaranya ensiklik dari Paus Fransiskus yang diberi nama “Laudatosi” untuk mencintai bumi ini agar alam menjadi sahabat manusia.
“Mari kita rawat bumi ini sebagai warisan keturunan kita agar bisa memperoleh warisan kebaikan kita,”ungkap Romo Wolfram membacakan Ensiklik Paus.
Bentuk mencintai lingkungan tersebut diantaranya jangan membuang sampah sembarangan, gerakan menanam pohon,mencintai sumber air. Mencintai lingkungan tersebut dilakukan sebagai bentuk mencintai kehidupan dan kini mulai banyak dirusak diantaranya dalam bentuk pertambangan, penebangan hutan serta perusakan lingkungan lain.
“Mari kembali mencintai bumi ini dengan cara kembali mencintai alam dan lingkungan sebagai umat Katolik,”ujarnya.
Selain itu ungkap pastor Wolfram, dalam tahun kerahiman selama satu tahun Gereja Katolik menghendaki penyebaran kebaikan Allah tanpa memandang latar belakang apapun. Kerahiman tersebut merupakan sifat Khas Allah yang tidak pernah membedakan manusia baik ras maupun dimanapun mereka hidup.
“Kebaikan dan belaskasih harus dimulai dari keluarga dan keramahan serta pengampunan dimulai dari keluarga lalu ke masyarakat,”ungkapnya.
Pantauan media Cendananews.com misa Perayaan Paskah umat Katolik di Kalianda berlangsung selama tiga jam dan seusai Paskah umat Katolik saling mengucapkan selamat Paskah dan saling bersilaturahmi antar keluarga.