Anjungan Kalimantan Barat TMII, Wujud Kebersamaan dan Toleransi Untuk Membentuk Sebuah Keutuhan

SABTU, 26 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Fadhlan Armey /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

TMII JAKARTA — ‘Daerah Seribu Sungai’ demikianlah julukan Kalimantan Barat yang resmi menjadi sebuah provinsi di Republik Indonesia pada tanggal 1 Januari 1957 berdasarkan Undang-Undang No.25 Tahun 1956 dengan Kota Pontianak sebagai Ibukota Provinsi. Di kalimantan Barat mengalir dua sungai besar yaitu Sungai Kapuas dan Melawi. 
?Replika Istana Kadriah kesultanan Pontianak dengan Miniatur Tugu Khatulistiwa di depannya sebagai bangunan utama anjungan Kalimantan barat TMII

 Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di pulau kalimantan sekaligus terpanjang di Indonesia. Urat nadi kehidupan masyarakat Kota Pontianak sebagai Ibukota provinsi Kalimantan Barat sangat bergantung kepada sungai kapuas. Suku dayak dan suku melayu sebagai dua suku terbesar yang menempati wilayah provinsi Kalimantan Barat menggunakan sungai kapuas sebagai sandaran kehidupan sehari-hari baik untuk transportasi sekaligus kebutuhan sehari-hari sejak zaman dahulu kala sampai sekarang.

Mengacu pada Kitab Negarakertagama, Kalimantan Barat atau dahulu disebut Kalimantan kuno merupakan daerah taklukan Kerajaan Singasari sampai dengan era Kerajaan Majapahit yang bernama Tanjungpura. Wilayah kekuasaan Tanjungpura saat itu terbagi tiga yaitu Mandala Borneo (Brunei), Sukadana Tanjungpura, dan Banjarmasin. Sampai akhirnya masuk Pemerintah Hindia-Belanda atau dulu dikenal sebagai VOC tahun 1604 untuk berdagang dengan Sukadna Tanjungpura. Tahun 1778, Hindia-Belanda merestui Pangeran Kerajaan Banjar Syarif Abdurrahman Nur Alam yang kemudian dikenal sebagai Syarif Abdurahman Alkadrie menjadi Sultan Pontianak dengan istana megah bernama Istana Kadriah yang diabadikan dalam bentuk replika bangunan utama anjungan Kalimantan barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Masuknya Etnis China di Kalimantan Barat berawal ketika Raja Panembahan Mempawah mendatangkan ribuan buruh pertambangan asal negeri china demi mengerjakan penambangan emas di wilayahnya sekitar tahun 1740. Dilanjutkan oleh Kesultanan Sambas melalui Sultan Abubakar Kamaluddin di tahun 1750 menambah besar komunitas etnis china yang mengerjakan pertambangan emas di wilayah Kalimantan barat.
Tahun 1775 merapatlah seorang ahli pertambangan emas bernama Lo Fang Pak dari negeri china di wilayah kesultanan Sambas sampai akhirnya ia mendirikan sebuah Kongsi atau perusahaan kerjasama bernama Kongsi Lo Fang. Adalah Kongsi Lo Fang yang kemudian bergabung dengan kesultanan Pontianak untuk melaksanakan amanat VOC menaklukkan Negeri Mempawah sampai Sanggau. 
Mengacu pada catatan sejarah tersebut maka sejak saat itu Kalimantan Barat dihuni oleh tiga etnis besar, yaitu suku dayak bidayuh dari rumpun klemantan sebagai penduduk asli yang menempati daerah-daerah daratan sekaligus pedalaman, suku melayu yang menempati daerah-daerah pesisir, dan etnis china yang menempati wilayah-wilayah pertambangan emas.
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai perekat kebudayaan serta kebhinekaan bangsa Indonesia adalah tempat ideal bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengetahui seperti apa perjalanan panjang rakyat Kalimantan Barat hingga sekarang. 
Memasuki anjungan Kalimantan barat, pengunjung sudah disuguhi dengan sebuah bangunan menjulang tinggi bernama Rumah Adat Baluk yang diresmikan oleh Gubernur Kalimantan barat Drs.Cornelis,MH beserta Bupati Bengkayang Drs.Jacobus Luna, M.Si dengan disaksikan oleh Direktur Utama TMII Sugiono pada hari sabtu, tanggal 8 November 2008. 
?Replika Rumah Baluk suku dayak bidayuh dengan Rumah Panjang dibelakangnya merupakan ciri khas pintu masuk anjungan Kalimantan barat TMII
Rumah adat suku dayak bidayuh ini sangat berbeda bentuknya dari rumah adat suku-suku dayak lain di Kalimantan barat serta pada umumya suku-suku dayak yang berada di pulau Kalimantan. Rumah Adat Baluk yang aslinya berada di Kecamatan Siding desa Hli Buei dusun Sebujit, digunakan untuk acara ritual tahunan setiap tanggal 15 Juni di penghujung musim menuai padi dan untuk menyambut musim penggarapan ladang tahun berikutnya. Rumah adat baluk berbentuk bundar dengan diameter kurang lebih 10 meter, ketinggian kurang lebih 12 meter, di topang sekitar 20 tiang kayu kokoh serta beberapa kayu penopang lainnya disamping sebatang tiang yang digunakan sebagai tangga menyerupai titian.
Tingginya posisi rumah adat baluk menggambarkan kedudukan seseorang yang harus dihormati. Di sekitar rumah adat ini juga sering diadakan Upacara Nyobeng, yaitu salah satu kegiatan ritual suku dayak bidayuh sebujit desa hlibeui kecamatan siding yang dilakukan turun temurun sebagai upacara adat permohonan berkat, kesejahteraan, kedamaian, ketentraman dan lain-lain. Namun upacara adat ini hanya diperuntukan bagi kaum pria sedangkan bagi kaum wanita maka adat budaya serupa bernama Nambok.
Dibelakang rumah adat baluk berdiri rumah adat Betang atau disebut juga Rumah Panjang yang merupakan rumah adat suku dayak pada umumnya. Rumah panjang merepresentasikan filosofi suku dayak bahwa hidup berdasarkan kebersamaan dan toleransi untuk membentuk sebuah keutuhan. Rumah panggung setinggi 3-5 Meter dari atas permukaan tanah ini merupakan tempat berkumpulnya keluarga besar suku dayak dari melakukan kegiatan sehari-hari hingga kegiatan permusyawaratan berdasarkan kekerabatan. 
Oleh karena itu, tidak mengherankan, jika ada 50 kepala keluarga suku dayak di dalam rumah maka ada 50 bilik pula didalam rumah panjang. Hal ini sesuai dengan kebiasaan suku dayak yang hidup berkelompok membentuk koloni-koloni berdasarkan kekerabatan sesuai sub suku nya masing-masing. Replika rumah panjang milik suku dayak kalimantan ini menyimpan ragam replika busana adat masyarakat dayak, ukiran kayu dengan lukisan khas suku dayak, alat penumbuk padi berupa lesung dan kelengkapannya, perahu suku dayak yang digunakan untuk melayari sungai-sungai di daerah tempat tinggalnya, dan senjata andalan masyarakat dayak yaitu sumpit dan pedang/mandau.
Di tengah anjungan Kalimantan barat terdapat replika Tugu khatulistiwa kota Pontianak karena kota Pontianak merupakan daerah dengan posisi tepat ditengah garis khatulistiwa dimana koordinatnya mengacu kepada hasil pengukuran revisi Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bulan Maret 2005, yaitu : berada pada 0 derajat, 0 menit, 3.809 detik lintang utara, dan 109 derajat, 9 menit, 19.9 detik bujur timur.
Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar tugu khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika matahari berada tepat di garis khatulistiwa. Saat itu posisi matahari akan tepat berada tepat di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Dengan demikian, saat terjadinya peristiwa kulminasi, bayangan tugu akan “menghilang” beberapa detik ketika diterpa sinar matahari. Pada saat yang bersamaan pula bayangan benda-benda lain di sekitar tugu pun akan “menghilang”. Peristiwa titik kulminasi matahari tersebut terjadi dua kali dalam setahun, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang kemudian menarik kedatangan wisatawan sehingga menambah pundi-pundi pemasukan kota Pontianak dari sektor pariwisata.
Tepat di belakang miniatur tugu khatulistiwa pengunjung menyaksikan kemegahan replika Istana Kadriah milik kesultanan Pontianak yang diresmikan oleh Gubernur KDH. Tingkat I Kalimantan Barat, Kadarusno pada tanggal 17 April 1975. Sejarah panjang Istana Kadriah itu sendiri adalah pertama kali didirikan oleh Sultan Syarif Abdurachman Alkadrie pada tahun 1771. Istana Kadriah berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan beserta keluarga sekaligus pusat pemerintahan kesultanan Pontianak kala itu. Istana Kadriah terdiri dari 5 ruangan pokok, yaitu : anjungan, balairung, kantor, kamar kerja sultan berikut singgasana, serta kamar tidur sultan dan keluarganya. Letak istana itu sendiri berada di persimpangan sungai kapuas kecil dengan sungai landak tepatnya di wilayah kelurahan Kampung Dalam Bugis, kecamatan Pontianak timur, kota Pontianak, provinsi Kalimantan barat. Berikut daftar nama-nama sultan yang pernah memerintah di kesultanan Pontianak :
1. Sultan Syarief Abdurachman Alkadrie bin Sayid Habib Husein Alkadrie (1771-1808)
2. Sultan Syarief Kasim Alkadrie bin Syarief Abdurrachman Alkadrie (1808-1819)
3. Sultan Syarief Usman Alkadrie bin Syarief Abdurrachman Alkadrie (1819-1855)
4. Sultan Syarief Hamid Alkadrie bin Syarief Usman Alkadrie (1855-1872)
5. Sultan Syarief Yusuf Alkadrie bin Syarief Hamid Alkadrie (1872-1895)
6. Sultan Syarief Muhammad Alkadrie bin Syarief Yusuf Alkadrie (1895-1944)
7. Sultan Syarief Thaha Alkadrie bin Syarief Usman Alkadrie (1945)
8. Sultan Syarief Hamid II Alkadrie bin Syarief Muhammad Alkadrie (1945-1950)
Sumbangsih Kesultanan Pontianak bagi bangsa Indonesia diberikan oleh Sultan Hamid II atau Syarif Abdul Hamid Alkadrie yang merancang lambang negara Republik Indonesia yakni Garuda Pancasila. Hasil karya beliau dapat disaksikan pengunjung anjungan provinsi Kalimantan barat di TMII dalam bentuk artikel serta dokumentasi. 
Di sisi kanan ruangan dalam replika Istana Kadriah dapat pula disaksikan replika pakaian adat dan pengantin Kalimantan barat dari kabupaten ketapang, sintang, dan kota Pontianak yang kesemuanya berasal dari kain songket tenun tradisional melayu di daerah Sambas Kalimantan barat. Selain itu, ada pula beragam kain songket Sambas lainnya beserta selendang melayu. 
Kepandaian menenun masyarakat melayu merupakan warisan yang dibawa dari perjalanan melintasi pantai timur sumatera, riau, sampai sulawesi selatan. Desain tenun tradisional melayu dipengaruhi unsur-unsur Islam dipadukan unsur daerah setempat. Kain tenun sambas Kalimantan barat memiliki kemiripan dengan kain songket palembang atau riau karena menggunakan benang emas atau perak. Sedangkan kain tenun Pontianak memiliki kemiripan dengan desain kain sarung plekat dari suku bugis sulawesi selatan. Berbagai hiasan pada kain tenun tradisional melayu umumnya berbentuk flora, meander, geometris, sulur daun, dan bermacam bunga dengan warna-warna yang mencolok. Di ruangan ini turut diabadikan replika alat tenun songket lengkap dengan kain songket yang sedang dalam proses penenunan.
Pengantin melayu Pontianak memiliki keunikan adat dan budayanya karena mengenal beberapa tahapan dalam pelaksanaan pernikahan, yaitu :
1. Mengangin-anginkan, yaitu keluarga pihak laki-laki mencarikan jodoh bagi anaknya yang sudah cukup umur untuk menikah. 2. Mengirim utusan, setelah pihak keluarga pria menemukan gadis yang cocok, maka harus ditanyakan apakah wanita tersebut masih lajang dan mendapat restu keluarganya untuk menikah.
3. Melamar, dimana keluarga pihak laki-laki akan mengirim utusan yang berasal dari keluarga dekatnya untuk meminang sang anak gadis.
4. Mengantar tande, dalam tradisi ini keluarga laki-laki akan mengantar cincin serta seperangkat pakaian wanita kepada calon mempelai wanita sebagai tanda lamaran resmi. Hal ini biasanya dilakukan malam hari sekaligus membicarakan/menentukan tanggal pernikahan.
5. Berbedak, disini calon mempelai wanita selama 40 hari berada didalam rumahnya dengan selalu berdandan/berbedak agar terlihat segar disaat hari pernikahan nanti.
6. Bertangas, dilakukan 1 minggu sebelum pernikahan setiap siang dan malam dengan tujuan untuk mengurangi keringat sekaligus menyegarkan tubuh.
7. Tepung tawar dan Mandi berias, yang dilakukan 1 hari sebelum akad nikah oleh masing-masing keluargai dari kedua mempelai dengan tujuan menolak bala untuk mencapai keberhasilan proses pernikahan sesuai restu dari Yang Maha Kuasa tentunya.
8. Berinai, yaitu tradisi memberi warna merah pada kuku sebagai tanda pengantin baru. Dilakukan semalam sebelum akad nikah, dengan inai (warna merah) tersebut terbuat dari campuran daun pacar, gambis, dan nasi yang dihaluskan.
9. Bercukur dan Titiek gigi, tradisi ini dilakukan setelah mandi berias dan tepung tawar oleh para tetua untuk mencukur rambut-rambut halus disekitar muka sekaligus meratakan gigi dari mempelai wanita agar terlihat lebih mulus dan cantik.
10. Akad nikah, dilakukan dirumah calon mempelai wanita pada siang atau malam hari. Bersamaan dengan itu mempelai pria akan membawa seserahan berupa uang, barang, atau seperangkat alat perlengkapan penting bagi calon mempelai wanita. 
Jika semua tahapan diatas sukses, maka prosesi akan berakhir di penghujung prosesi bernama Jamu Besan, dimana keluarga kedua mempelai duduk bersama dalam sebuah jamuan makan sambil berbincang-bincang.
Di dalam replika Istana Kadriah turut pula berjejer benda-benda replika berbagai varian hasil bumi Kalimantan barat mulai rempah-rempah, karet, hasil tambang berupa emas, bauxite dan batu bara berikut batu-batu alam menarik lainnya. Tidak ketinggalan hasil kerajinan tangan tradisional berupa kendi, vas bunga, pot bunga, anyaman topi, hiasan dinding, dan berbagai peralatan musik dayak dan melayu membaur menjadi satu dalam sebuah ruangan kaca eksklusif demi menjaga kebersihan serta keutuhan benda-benda tersebut.
Pemeluk agama di Kalimantan barat juga bermacam-macam, yaitu Kristen Katholik/Protestan (biasanya dipeluk oleh suku-suku dayak, sebagian suku melayu, dan pendatang etnis china, batak, dan sebagian pendatang dari jawa), Islam (dipeluk oleh suku melayu sebagai suku kedua terbesar di Kalimantan barat, pendatang minangkabau, jawa, madura, banjar, dan sebagian batak serta suku dayak), Buddha (dipeluk oleh etnis Tionghoa), dan Hindu (hanya dipeluk oleh para pendatang dari Bali). Pembauran ini memperkuat filosofi rumah panjang dari penduduk asli Kalimantan, yaitu suku dayak bahwa hidup itu berdasarkan kebersamaan dan toleransi untuk membentuk sebuah keutuhan.
Keragaman dalam seni tari dari Kalimantan barat tidak dapat disangsikan lagi. Walaupun hampir semuanya didominasi oleh tarian suku dayak sebagai suku asli, namun semua masyarakat Pontianak bisa menempatkannya sebagai sebuah peninggalan berharga peradaban yang harus dilestarikan bersama-sama sebagai satu kesatuan suku bangsa besar. Berikut nama-nama seni tari yang ada di Kalimantan Barat : 
1. Tari Monong / Manang, merupakan tari Penyembuhan yang terdapat pada seluruh masyarakat dayak. Tarian ini berfungsi sebagai penolak/penyembuh/ penangkal penyakit agar si penderita dapat sembuh kembali. Penari berlaku seperti dukun dengan jampi-jampi. Tarian ini juga merupakan bagian dari upacara adat Bemanang/Balian.
2. Tari Pingan, merupakan tarian tunggal pada masyarakat dayak Mualang Kabupaten Sekadau. Pada masa lalu tarian ini sebagai bagian dari upacara namun sekarang dijadikan sebagai tari hiburan masyarakat atas rezeki/tuah/makanan yang diberikan oleh Tuhan yang maha Kuasa. Tari ini menggunakan Pingan sebagai media atraksi dan tari ini berangkat dari kebudayaan leluhur pada masa lalu yang berkaitan erat dengan ritualisme legitimasi kelulusan beladiri tradisional dayak Mualang.
3. Tari Pedang / Ajat Pedang, juga merupakan tarian tunggal dayak Mualang, menceritakan persiapan membela diri bagi seorang pemuda. Penari melakukan gerakan-gerakan menyerang dan menangkis menggunakan keahlian tradisionalnya diiringi instrumen musik khas dayak.
4. Tari Jonggan merupakan tari pergaulan masyarakat dayak Kanayat di daerah Kubu raya, Mempawah, Landak, yang menceritakan suka cita dan kebahagiaan dalam pergaulan muda mudi dayak. Dalam tarian ini para tamu yang datang pada umumnya diajak untuk menari bersama.
5. Tari Kondan, merupakan tari pergaulan yang diiringi oleh pantun dan musik tradisional masyarakat dayak kabupaten Sanggau kapuas (kadang kala kesenian kondan ini diiringi oleh gitar). Kesenian kondan ini adalah wujud ucapan kebahagiaan terhadap tamu yang berkunjung dan bermalam di daerahnya.
6. Kinyah Uut Danum, adalah tarian perang khas kelompok suku dayak Uut Danum yang memperlihatkan kelincahan dan kewaspadaan dalam menghadapi musuh. Dewasa ini tari Kinyah Uut Danum ini diperagakan pada acara acara khusus atau sewaktu menyambut tamu yang berkunjung. Tarian ini sangat susah dipelajari karena selain menggunakan Ahpang (mandau) asli, juga karena gerakannya yang sangat dinamis, sehingga orang yang fisiknya kurang prima akan cepat kelelahan.
7. Tari Zapin pada masyarakat Melayu Kalimantan barat, merupakan tarian masyarakat melayu nusantara yang diadopsi dari timur tengah. Selanjutnya kesenian adopsi ini menyebar ke Riau sebelum masuk di Kalimantan barat. Tari zapin merupakan tari pergaulan sebagai media ungkap kebahagiaan.
?Ukiran khas suku dayak di anjungan Kalimantan barat TMII?
Akhirnya, dari keragaman dan sumbangsih masyarakat Kalimantan Barat, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa bagaimana perbedaan yang ada di sana berhasil membaur bersama keaslian budaya tradisional tanpa ada satupun ciri khas yang harus dihilangkan. Masing-masing diberikan keleluasaan dalam mengembangkan sekaligus melaksanakan kegiatan sesuai tingkatan, kesukuan, atau religi yang dianut. Seolah tinggal di sebuah Rumah Panjang (rumah adat suku dayak) dengan filosofi kuat yang terkandung didalamnya yakni : hidup berdasarkan kebersamaan dan toleransi untuk membentuk sebuah keutuhan.
Lihat juga...