SABTU, 26 MARET 2016
Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor : Fadhlan Armey / Sumber foto: Aceng Mukaram
PONTIANAK — Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyanto mengingatkan masyarakat dalam membuka lahan perkebunan tidak dengan membakar. Karena hal tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku.
| Maklumat Kepolisian Tentang Larangan Pembakaran Hutan |
“Hal ini penting dilakukan agar warga masyarakat dalam mengolah lahan tidak lagi degan cara membakar,” tegas Arief, di Kota Pontianak, Sabtu 26 Maret 2016.
Arief menyebut, pemerintah melalui Dinas Pertanian bekerja sama dengan Polda Kalbar, Kodam XII/Tanjungpura dan Pemerintah Kabupaten telah melakukan rekayasa teknologi pertanian dengan membuat Tricodherma.
“Tricodherma ini Sejenis jamur. Jadi, bila ditebarkan pada rumput atau ranting dan jerami akan menjadi pupuk. Masyarakat tidak harus dengan cara membakar dalam mengolah lahan,” kata pria kelahiran Nganjuk, 24 Maret 1965, ini.
Saat ini jajaran Polri dan TNI bersama Manggala Agni terus memburu titik api, agar tidak membesar. “Tujuannya , Sehingga menghasilkan asap yang dapat mengganggu kesehatan, transportasi dan komplain dari Negara tetangga,” kata Arief, yang merupakan alumni Akpol 1987 tersebut.
Diakui Arief, setiap ada informasi tentang hotspot/titik api, pihaknya langsung turun kelapangan mengecek validitas titik hotspot yang terpantau satelit apakah NOAA atau TERRA atau satelit lainnya.
Selanjutnya, untuk memberdayakan masyarakat agar ikut berpartisipasi mencegah terjadi kebakaran hutan dan lahan, Kapolda Kalbar Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyanto menginstrukaikan Kapolres Jajaran Polda Kalbar membentuk Peleton Patroli Desa dgn Anggota 30 orang. “Di mana peleton tersebut dibagi tiga regu setiap regu dipimpin oleh Bhabinkamtibmas,Babinsa dan Manggala Agni, dengan Koordinator Kepala Desa,” jelas Arief.
Arief mengklaim,”Respon masyarakat sangat bagus. Mereka tanpa digaji siap untuk mengamankan desanya dari kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri ini menambahkan, peleton patroli desa ini sudah berjalan secara sinergi. “Hasilnya setiap ada informasi tentang titik api, peleton ini bergerak secara regu mencarinya. Bahkan beberapa waktu lalu pembakaran rumput diyayasan kematian Tionghoa didatangi peleton Patroli Desa,” katanya.