SENIN, 28 MARET 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Puluhan pemilik kantin pelaku usaha penjualan berbagai keperluan makan dan minum penumpang kapal roll on roll off (Roro) mengeluhkan kerugian yang terjadi selama beberapa bulan ini semenjak kapal Roro banyak menjalani perbaikan dan istirahat (anchor).
![]() |
| Ketua APPJASS Bakauheni, Ivan Rijal |
Ketua Asosiasi Pengusaha Perdagangan Umum dan Jasa Selat Sunda (APPJASS) Bakauheni, Ivan Rijal menyebutkan, para pemilik usaha kantin merugi sekitar jutaan rupiah perhari akibat tidak beroperasinya kapal Roro di lintasan Selat Sunda.
“Kita lakukan kalkulasi terkait kerugian pemilik kantin karena aktifitas kapal yang banyak istirahat sehingga pedagang tidak bisa berjualan di atas kapal dan harus ikut istirahat,”ungkap Ivan Rijal saat berada di salah satu kantin miliknya,Senin (28/3/2016)
Kerugian finansial hingga jutaaan rupiah tersebut menurut ivan akibat banyaknya barang dagangan yang tidak terjual karena kapal tidak beroperasi. Selain itu persaingan usaha dengan makin menjamurnya usaha waralaba di area Pelabuhan Bakauheni sehingga mengakibatkan konsumen beralih.
“Kita perhitungkan biaya operasional untuk sewa lapak dan gaji karyawan yang bekerja di kantin sementara pemasukan kurang atau secara ekonomis besar pengeluaran daripada pemasukan,”ujarnya.
Ia mengungkapkan saat ini jumlah kapal di lintasan Selat Sunda berjumlah sekitar 48 kapa roro. Sementara itu saat ini untuk masa istirahat dan perbaikan (anchor) satu armada kapal sekitar 8 hari per kapal dan selanjutnya 4 hari operasional. Waktu sebanyak itu memberi kerugian karena biaya sewa dihitung waktu berjalan sementara pemasukan tidak ada akibat kantin tidak beroperasi.
“Semakin banyak jumlah kapal yang beroperasi maka waktu untuk achor atau istirahat semakin lama karena setiap perusahaan kapal memiliki jadwal dan giliran sementara kantin kami di kapal tidak memiliki konsumen atau pembeli,”ungkapnya.
Iklim usaha yang sudah merugikan para pemilik kantin baik di darat (area pelabuhan) dan di atas kapal tersebut menurut Ivan sangat berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha dan karyawan yang menggantungkan hidup dari sektor perdagangan tersebut.
Dari data yang dikumpulkan APJASS ungkap Rizal, tercatat ada sekitar 1.200 orang berada dalam kapal di Selat Sunda yang tergabung dalam keanggotaan APJASS. Sebagian besar merupakan penjaga kantin dan sebagian lain merupakan pekerja di kapal bukan anak buah kapal (ABK).
“Anggota sebanyak itu terdiri dari para pedagang, pramugari, cleaning service, pemegang tiket antar kelas yang masuk anggota APJASS,”ungkap Ivan.
Sebanyak 1.200 orang itu pun merupakan anggota dari sebanyak 23 vendor atau pengusaha kantin di atas kapal atau non darat, sementara di darat anggota APJASS terdiri dari sekitar 33 vendor atau pengusaha kantin.
“Kami selalu memantau penambahan atau pengurangan sebab manifes yang ada pada kami merupakan data untuk keselamatan kapal jika terjadi hal hal yang diinginkan,”ungkap Ivan.
Selain berkoodinasi dengan Syahbandar karena berkaitan dengan jumlah manifest kapal serta keselamatan, pihaknya pun mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Gabungan Pengusahan Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) terkait kondisi serta kerugian akibat masa kapal istirahat.