SENIN, 21 MARET 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor : Fadhlan Armey / Sumber foto: Charolin Pebrianti
SURABAYA — Museum Etnografi Kematian yang terdapat di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya perlu untuk ditingkatkan promosinya, agar lebih di kenal. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid.
![]() |
| Museum Etnografi |
“Dalam membangun museum memang membutuhkan waktu yang panjang dan membutuhkan kerja keras,” terangnya saat peluncuran ulang Museum dan Pusat Kajian Etnografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unair, Senin (21/3/2016).
Museum etnografi Unair ini merupakan sebuah museum yang terbilang unik, dengan memilih tema “Etnografi Kematian”. Museum yang telah berdiri semenjak sejak 10 tahun lalu, diharapkan bisa menjadi taman konsolidasi dan pengetahuan serta menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat sehingga masyarakat umum mengetahui isi dari museum.
“Museum ini menjadi simbol kekayaan serta khasanah budaya,” jelas pria kelahiran Bonn, Jerman Barat.
“Kalau masyarakat mengetahui, museum etnografi dan mempunyai rasa memiliki maka kerjasama yang baik bisa dilakukan antara masyarakat dan Unair,” sambungnya.
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan, Harry Widianto menambahkan, dalam pelaksanaan dan perawatannya museum etnografi diharuskan komitmen yang penuh.
“Dengan dana Rp. 1 M dapat meningkatkan revitalisasi museum untuk fisik, manajemen, jejaring, pencitraan, dan pengembangan Sumber Daya Manusia,” imbuhnya.

Alumnus jurusan arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini berharap pada museum etnografi kematian, dana yang diberikan pemerintah untuk pengembangan betul-betul bisa di manfaatkan dengan baik.
“Museum juga harus terus memperbarui data, meski sulit, tapi saya yakin Unair mampu,” pungkasnya.