Budayakan Anti Korupsi dari Dini, KPK Bekali Guru Paud

SENIN, 28 MARET 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Charolin Pebrianti

SURABAYA — Guru yang dalam bahasa Jawa memiliki kepanjangan ‘Digugu lan Ditiru’ yang artinya ‘Diperhatikan dan Ditiru’ segala tindak lakunya oleh para murid. Atas dasar itulah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar seminar bertajuk ‘Guru Antikorupsi, Penggerak Perubahan’ di Convention Hall Surabaya, Senin (28/3/2016).
“Kami mengundang 1.000 guru Pendidikan Anak Usia Dini agar nantinya bisa mendorong budaya anti korupsi,” terang Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan ditengah-tengah seminar.
Menurut wanita paruh baya ini para guru dipilih karena kapabilitasnya sebagai guru yang dapat menginspirasi para murid, orangtua dan sesama guru lainnya. Serta mendidik anak-anak dan memberi pengaruh positif bagi keluarganya.
“Ini merupakan kegiatan lanjutan dari tahun lalu kita memberikan 1000 permainan Sembilan Nilai Antikorupsi kepada anak-anak PAUD di Surabaya,” jelasnya.
Selain diberikan arahan mengenai antikorupsi, ribuan guru PAUD ini juga dibekali pengetahuan seputar delik korupsi dan beragam modusnya serta konsekuensi hukumnya.
“Para guru bisa menghindari korupsi serta mendorong perubahan dengan mengoptimalkan perannya sebagai guru dan orang tua di rumah masing-masing,” pungkasnya.
Pelaksana Harian Biro Hubungan Masyarakat (Humas) KPK, Yuyuk Andriati Iskak
Sementara itu, salah satu program yang dimiliki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diantaranya yaitu agen Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). Namun di Jawa Timur hanya tersedia di Malang dan Surabaya. Di Surabaya sendiri sudah ada 40 agen SPAK.
“Keseluruhan agen memiliki latar belakang yang berbeda, mulai dari pengacara, ketua Lembaga Swadaya Masyarakat, aktivis, hakim, guru, pengusaha dan lain-lain,” terang Pelaksana Harian Biro Hubungan Masyarakat (Humas) KPK, Yuyuk Andriati Iskak kepada media di Convention Hall Surabaya, Senin (28/3/2016).
Agen SPAK sementara masih tersebar di 16 provinsi dan nantinya akan terus berkembang sesuai dengan kemampuan dan kemauan tiap daerah. Dan yang unik adalah agen SPAK dipilih dari para perempuan. Karena perempuan dianggap bisa menjadi tonggak pembelajaran utama dari seorang anak.
“Tugas utama agen adalah menyebarkan informasi mengenai budaya anti korupsi,” tukasnya.
Selain itu wanita paruh baya ini menambahkan ada beberapa contoh kasus yang bagus sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat lain. Yakni seorang pengusaha wanita di Makasar, sebelumnya demi melancarkan usahanya dia memberikan cek kosong kepada pemerintah.
“Namun setelah bergabung dan menjadi agen SPAK dirinya sadar bahwa tindakannya tersebut salah. Bukan hanya sebagai penerima suap tapi juga sebagai pelaku suap,” tegasnya.
Kemajuan dengan adanya agen SPAK ini menurut Yuyuk sebanyak 40 persen agen SPAK berani melaporkan indikasi adanya tindakan korupsi di wilayahnya baik kepada KPK maupun pihak berwenang lainnya.
“Jumlah seluruh agen SPAK ada 550 orang dengan memberikan pesan antikorupsi kepada lebih dari 200 ribu orang,” pungkasnya.
Lihat juga...