JUMAT, 25 MARET 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
PROBOLINGGO — Berbekal dari pengalaman bekerja selama 16 tahun di beberapa perusahaan keramik, Edi Cahyo Purnomo (48) warga Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo kini justru membukanya sendiri dan berhasil mengembangkannya hingga menghasilkan omzet puluhan juta Rupiah per bulannya.
![]() |
| Pekerja “Keramik Kinasih” |
Edi saat di temui Cendana News dikediaman sekaligus tempat usahanya yang berada di Jalan Cangkring No. 21 B menceritakan, usaha keramiknya ini berangkat dari kejenuhannya bekerja kepada orang lain dan keinginan memiliki sebua usaha sendiri, akhirnya pada tahun 2002 ia bersama sang istri mulai merintis usaha yang di beri nama “Kinasih Keramik”.
Sebelum memulai usaha keramik, pada tahun 2000 dengan modal seadanya dan bekal seni yang sudah ia miliki sejak kecil, bersama sang istri mengawalinya dengan membuat kerajinan gerabah yang ia jual di pinggir jalan.
“Sebelum ke keramik, saya mengawalinya dengan membuat kerajinan gerabah karena tidak membutuhkan modal besar yang kemudian hasilnya saya jual di pinggir jalan sambil melakukan demo membuat kerajinan gerabah,”ceritanya.
Ia melanjutkan, sekitar tahun 2001 Edi diperkenalkan kepada Kepala Dinas Perindustrian kota Probolinggo yang tertarik dengan hasil kerajinan buatannya. Dari situ Edi ditawari untuk membuat kerajinan keramik dan diberi bantuan modal.
“Selain diberi bantuan modal, saya juga ditawari membuat pengajuan proposal usaha keramik untuk diajukan ke Provinsi Jawa Timur. Tidak berselang lama, sekitar satu sampai dua bulan setelah proposal diajukan, saya mendapatkan dana hibah dari Provinsi,”ungkap anak kedelapan dari sembilan bersaudara ini.
![]() |
| Edi Cahyo Purnomo |
Kemudian dengan dana hibah tersebut, ia mulai membuat oven keramik dan memulai usahanya. Dalam memasarkan produk keramiknya, Edi tidak perlu melakukan promosi besar-besaran. Ia cukup menganut sistem pemasaran dari mulut ke mulut atau yang biasa disebut “getok tular”.
Menurutnya, dengan sistem getok tular tersebut pelanggan akan datang dengan sendirinya asalkan kita bisa menjaga kepercayaan para pelanggan.
“Bahkan pelanggan saya dulu waktu masih bekerja disalah satu perusahaan keramik, justru sekarang datang memesan langsung keramik buatan saya. Mereka percaya dengan kemampuan dan kredibelitas saya,”ujarnya.
Ayah dari dua orang anak ini kini dengan dibantu 26 karyawannya rutin mengirimkan produk keramiknya ke daerah Bali, Malang, Surabaya dan beberapa daerah lain di Indonesia dengan omzet mencapai 40 hingga 60 juta Rupiah per bulannya. Keramik Kinasih sendiri kebanyakan menjual dengan ukuran kecil hingga sedang seperti vas bunga, celengan, tempat aroma terapi, tempat pensil, gelas, asbak dan berbagai sovenir dengan harga berkisar antara 5 ribu Rupiah hingga 100 ribu Rupiah.
“Saya sengaja bermain harga disekitaran itu saja. Meskipun harganya tidak mahal, tetapi jika pemesanannya ruti dan jumlah yang dipesan juga banyak, hasilnya juga akan banyak,”ucapnya.
Untuk barang baru, Edi memberi minimal jumlah pemesanan 50-100 buah. Namun untuk barang yang stok barangnya sudah ada, ia tidak memberikan minimal jumlah pemesanan.

Sementara itu Edi mengaku pemberian nama “Kinasih Keramik” pada usahanya tersebut bukan sekedar nama namun ada arti yang terkandung di dalamnya. Menurutnya semua keberhasilan yang ia peroleh ini sebenernya diluar nalar manusia.
Contohnya saja, saya yang awalnya hanya berjualan gerabah di pinggir jalan tiba-tiba bisa berkenalan dengan kepala Dinas Perindustrian hingga medapatkan bantuan. Atau pelanggan lama saya tiba-tiba bisa datang dan memberikan orderan pekerjaan, semua itu menurut saya di luar nalar.
Kemampuan kita yang pada akhirnya didukung oleh sesuatu diluar nalar kita, itulah asih yang kuasa.
“Jadi menurut saya Kinasih itu ‘La Haula Wala Quwwata Illa Billah’, apa artinya kemampuan kita tanpa pertolongan Allah,”jelasnya.
![]() |
| Keramik Kinasih |
Edi juga mengatakan, selain belajar dari pengalaman, ia juga banyak belajar dari ayah angkatnya sekaligus guru besarnya seorang Cina bernama Tan Swi Hoek yang memberinya banyak ilmu mengenai keramik dan ilmu mengenai hidup yang esensinya adalah berjuang.
“Beliau yang mengajarkan saya bahwa hidup tak selamanya akan mulus, semua akan mengalami kesusahan dan kegetiran seperti halnya bunga tidak akan selamanya berbunga, suatu ketika pasti akan layu,”terangnya.
Di akhir pembicaraan, Edi berharap suatu ketika nanti usaha keramiknya akan tetap dilanjutkan oleh anak-anaknya.

