RABU, 17 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Rencana mega proyek Bandara Udara Internasional Kulonporogo, Yogyakarta, sampai saat ini masih terkendala oleh penolakan sebagian warga terdampak yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT). Hingga saat ini, target pematokan lahan bandara belum bisa tuntas. Bahkan, pemasangan pathok koordinat selalu berakhir ricuh.
![]() |
| Kawasan penolak rencana pembangunan bandara kulonprogo |
Ketua WTT, Martono (47), ditemui di kediamannya di dusun Kragon II, Palihan, Temon, Yogyakarta, Rabu (17/2/2016) menegaskan, ia bersama puluhan warga dari tiga desa tetap akan menolak pembangunan Bandara Udara Kulonprogo, karena selama ini ia telah mantap bercocok-tanam alias bertani.
Martono menjelaskan, pihaknya akan terus menentang pembangunan Bandara dengan cara menolak pendataan dan pemasangan patok. Bahkan katanya, pemasangan patok koordinat di dusun Kragon II yang dilakukan Selasa, 16 Februari 2016 menimbulkan kericuhan.
Martono dan puluhan warga tiga desa yaitu Palihan, Kibonrejo dan Sindutan, bersikukuh menolak rencana pembangunan bandara karena hal itu menurutnya sama sekali tidak akan memberi manfaat bagi warga. Secara prinsip, warga WTT menolak bandara karena lahannya selama ini telah menjadi mata pencaharian dengan bercocok tanam. Lahan tersebut juga merupakan lahan warisan turun temurun dan produktif. Sedangkan, rencana pembangunan bandara itu menurutnya merupakan kepentingan investor dan orang bermodal.
“Alasan untuk memajukan kawasan, itu omong kosong. Dan, nanti yang diuntungkan dengan pembangunan bandara ini adalah sektor wisata di luar kabupaten Kulonprogo, seperti Borobudur di Magelang dan Yogyakarta”, ungkap Martono.
Sementara itu, lanjut Martono, relokasi yang ditawarkan juga tidak menjamin masa depan. Pemerintah memang telah memberikan program pelatihan kerja bagi warga yang mau alih profesi dari petani ke bidang lain. Namun, hal itu sama sekali tidak akan menjamin kehidupan lebih baik.
![]() |
| Martono, Ketua WTT |
Martono menegaskan, jika warga WTT sudah mantap bertani. Bahkan, sebelum ini sempat hendak merencanakan pembangunan agrowisata bidang pertanian seperti cabe, semangka dan melon. Namun, rencana itu gagal karena ada rencana pembangunan bandara.
“Sekarang ini kami sudah mapan bertani semangka, melon, sayur dan cabe dengan teknologi infus”, cetusnya.
Namun demikian, Martono juga mengakui jika warga WTT memang sudah berkurang. Dari yang semula terdiri dari lima desa sekarang hanya tinggal tiga desa saja. Dua desa lainnya yaitu desa Jangkaran dan Kibonrejo, menurut Martono, sudah tidak aktif melakukan penolakan. Sementara itu, akibat penolakan yang terus dilakukan oleh warga WTT, saat ini masih ada 400 bidang tanah atau sekitar 60-90 Hektar tanah yang belum bisa diukur dan dipatok.
