RABU, 17 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
MALANG — Bangsa Indonesia khususnya kota Malang sudah selayaknya patut berbangga karena memiliki seniman yang karyanya sudah banyak dikenal di mancanegara. Ia adalah Ono Gaf (69) seorang seniman yang karya seninya berupa replika hewan dari besi rongsokan kini banyak di koleksi oleh para kolektor dari berbagai negara.
![]() |
| Ono Gaf sedang mengerjakan patung buaya |
Ono Gaf seorang seniman kelahiran Malang 1 Januari 1947 dibesarkan di lingkungan banyak terdapat barang dan besi bekas diperjual belikan. Dari lingkungan inilah ia mengaku terpengaruh hingga menjadi seorang seniman replika dari besi bekas sampai sekarang. Selain itu, ketertarikannya merakit besi-besi bekas hingga menjadi sebuah replika, diakuinya sudah ada sejak kecil.
“Sewaktu kecil saya tinggal di daerah Kidul Pasar yang lokasinya tidak jauh dari daerah Comboran yang merupakan pusat barang dan besi bekas di kota Malang. Sepulang sekolah dasar biasanya saya langsung datang ke rumah tetangga untuk membantu sekaligus belajar kepada tetangganya yang merupakan seorang pandai besi,” ceritanya kepada Cendana News, Rabu (17/2/2016).
Dalam membuat karyanya, Ono Gaf mengaku lebih mengutamakan menggunakan besi yang sudah tidak terpakai dan kini karyanya juga sudah ada di museum Fatahilla Jakarta.
“Saya berusaha untuk bagaimana caranya dengan bahan yang murah bisa menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai tertinggi,” ujar kakek sembilan cucu ini.
Ono Gaf mengungkapkan, dirinya selama ini sudah menghasilkan ratusan karya dan sudah sampai di 25 negara.
“Saya pernah berkolaborasi dengan dua orang seniman dari New Zealand dan Australia untuk membuat replika burung Emu dengan tinggi empat meter dan berat tiga ton, yang hasilnya ditaruh di salah satu museum di Australia,”ungkapnya.
Kesehariannya kini ia habiskan untuk mengerjakan sebuah karya terbarunya yaitu replika seekor buaya dengan panjang dua meter, lebar satu meter tinggi delapan puluh sentimeter dan berat satu ton, yang dimulai sejak bulan Januari 2016 hingga sekarang.
“Saya lambangkan replika buaya ini seperti kekerasan dunia sekarang yang tidak pernah mencapai perdamaian dunia. Seharusnya kita harus saling membantu dan bekerjasama, jangan seperti buaya yang selalu hidup dalam kekerasan,”ucapnya.
![]() |
| Ono Gaf |
Dari semua karyanya yang pernah ia buat, Ono Gaf mengatakan, replika kura-kuranya yang memiliki panjang tujuh meter, lebar empat meter, tinggi tiga meter dan berat sepuluh ton adalah karyanya yang paling memiliki nilai seni tinggi. Bahkan ia mengaku bahwa replika kura-kuranya tersebut ada yang menawarnya hingga satu milyar Rupiah, namun Ono Gaf tidak melepaskannya dan tetap membiarkannya berada di Rumah Makan Kertasari Kota Batu milik dr. Felix yang juga banyak membantunya dalam hal pendanaan untuk membuat karya-karyanya tersebut.
“Bagi saya harga tidaklah penting, yang penting adalah kreatifitas dan kepuasan, nanti orang akan bisa menilainya sendiri,”tuturnya.
Menurutnya, kesulitan dalam membuat sebuah replika dari besi bekas terletak pada bahan yang digunakan harus sesuai yang ia imajinasikan.
“Imajinasi saya harus sesuai dan cocok dengan besi-besi yang bentuknya tidak beraturan ini,”ungkap anak ke empat dari delapan bersaudara ini.
Ia menyampaikan, karya-karyanya juga dapat dilihat di galeri International Culture Center (ICC) yang berada di daerah Pandaan.
