SABTU, 20 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Laboratorium Pengujian Dan Penelitian Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Sabtu (20/2/2016) memperkenalkan dua alat baru hasil riset salah satu Dosen UGM, DR. Kuwat Triyana, M.Sc. Dua alat tersebut adalah hidung elektronik yang bisa mendeteksi daging bangkai dan makanan berbahaya serta masker oksigen yang mampu menyaring bakteri dan virus berbahaya.
![]() |
| Dosen UGM, DR. Kuwat Triyana, M.Sc memperkenalkan temuannya |
Bertempat di Gedung Bulaksumur, UC UGM Yogyakarta, LPPT UGM Yogyakarta mengenalkan dua alat baru yang sangat bermanfaat. Pertama, Hidung Elektronik atau Gama Electronic Nose. Menurut penemu dan pengembangnya, Dr. Kuwat Triyana, M.Sc., hidung elektronik itu mampu mendeteksi daging bangkai, makanan mengandung zat berbahaya seperti formalin dan mendeteksi makanan kedaluarsa serta makanan halal.
Sesuai namanya, hidung, alat tersebut harus dilatih terlebih dahulu untuk membedakan obyek. Semakin banyak obyek yang dikenalkan, maka hidung elektronik itu juga akan semakin bisa mendetekasi beragam makanan.
“Alat ini nantinya juga akan dikembangkan untuk mendeteksi penyakit tubercolosa. Caranya dengan memasukkan dahak pasien ke alat tersebut. Meski selama ini sudah ada alat serupa, namun biayanya sangat mahal dan prosesnya lama. Dengan hidung elektronik ini, biaya sangat murah dan proses deteksinya lebih cepat. Hanya lima menit”, ujar Kuwat.
Hidung elektronik, lanjut Kuwat, memiliki kecerdasan buatan, sehingga kemampuannya bisa maksimal. Sedangkan cara kerja dan bagian-bagian alat tersebut terdiri dari tempat sample atau obyek makanan yang akan dianalisis, pompa penghisap panas yang akan mengirimkannya ke bagian sensor, dan dikirim ke pompa untuk memasukkan atau mendorong aroma sample atau obyek makanan, lalu diolah atau dianalisis dan dikirim melalui bluetooth ke komputer. Dari komputer itulah hasil analisa hidung elektronik divisualkan. Hasil analisa alat tersebut nanti berupa jawaban kualitatif, ya atau tidak.
Kuwat mengatakan, dalam waktu lima menit sample atau obyek makanan itu sudah bisa dilihat hasil analisanya. Dan, pada awalnya, alat ini dikembangkan untuk mendeteksi makanan halal, yang selama ini untuk menentukan makanan halal atau tidak itu biayanya sangat mahal.
Kuwat menyarankan, alat ini juga perlu digunakan oleh Bea Cukai untuk mendeteksi makanan import yang sekarang ini semakin membanjiri tanah air. Sementara itu, dalam hal membedakan makanan halal, kata Kuwat, alat itu bisa membedakan kerupuk kulit kerbau dan kulit babi yang sulit dibedakan.
Sementara itu, masker hasil riset Kuwat memiliki kelebihan bisa menyaring bakteri dan virus, serta sangat berguna untuk mencegah bahaya dari terjadinya bencana asap. Selain itu, juga sangat bermanfaat jika digunakan oleh mereka yang bekerja di pabrik yang langsung bersinggungan dengan bau.
![]() |
| Masker Oksigen |
Hidung elektronik dan masker oksigen merupakan hasil riset yang dibiayai oleh Laboratorium Pengujian dan Penelitian Terpadu (LPPT) UGM Yogyakarta, yang memang bertugas memfasilitasi kegiatan penelitian, pelatihan dan pengujian untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam kesempatan itu, Kepala LPPT UGM, Tri Joko Raharjo, Ph.D., mengatakan jika upaya LPPT untuk meningkatkan mutu layanan secara rutin adalah dengan cara menyelenggarakan seminar dan pertemuan dengan berbagai pihak untuk menyerap aspirasi.
